BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
KEHANGATAN SEBUAH KELUARGA


__ADS_3

Pagi harinya, Mark keluar kamar dengan wajah murung. Semalam ia tak bisa tidur nyenyak, pikiran pria itu kacau. Baru bisa tertidur pulas tepat saat azan subuh berkumandang.


Hari ini ia menyempatkan diri untuk sarapan, menemani Tuan Ibrahim sekaligus memberikan foto yang dikirim oleh orang misterius.


Kini pria itu sudah berjalan menuju ruang makan, di sana Tuan Ibrahim dan Yusuf, perawat pribadi sang Papa berada di kursi makan.


"Selamat pagi, Pa," sapa Mark sambil menggantung jas mahalnya di sandaran kursi makan.


Pria paruh baya itu mengangkat tangan sekilas untuk menyapa putranya.


"Selamat pagi, Tuan," ujar Yusuf.


Tangan pria itu sibuk menyuapi pasiennya dengan penuh kesabaran.


"Selamat pagi juga."


"Kamu sepertinya tidak tidur nyenyak semalam. Apakah dalam hatimu muncul penyesalan karena sudah menjatuhkan talak pada Stevanie?"


"Menyesal sih tidak, hanya saja ada masalah lain yang membuatku gelisah."


Tuan Ibrahim mengkerutkan kening, tatapan matanya seolah bertanya masalah apa yang membuat putranya sampai gelisah dan tak dapat tidur nyenyak.


"Tentang Ameera, Pa. Semalam aku mendaptakan pesan dari nomor misterius. Dalam foto itu ada seorang gadis cantik tengah berpose menghadap matahari terbenam. Ia tengah hamil besar, wajahnya ditutupi oleh stiker namun Mark yakin itu adalah foto Ameera."


"Saat aku mencoba menghubungi nomor itu tidak tersambung. Kukirim pesan singkat tak terkirim."


Wajah pria itu murung, ia menghembuskan napas dengan kasar. Seluruh pikirannya dipenuhi oleh Ameera, bahkan Mark tidak bisa berpikir jernih.


"Dasar anak bodoh, kamu bisa mengetahui nomor pengirim itu berasal dari mana dengan mengidentifikasi dua nomor di depannya."


"Astaga, mengapa aku sampai lupa. Benar kata Papa, dua nomor di depannya bisa kuketahui berasal dari mana nomor itu."


Kini pria itu segera merogoh saku celana, mengelaurakn ponsel dan membuka pesan yang dikirim semalam.


"Pa, ini nomor berasal dari Indonesia. Apakah mungkin selama ini Ameera ada di tanah air tapi Joe dan Mama Aura menyembunyikan keberadaannya?"


Perkataan polos terucap dari seorang CEO berparas tampan laksana Arjuna sontak membuat Yusuf tersedak salivanya sendiri. Tangan pria itu bahkan tak sengaja menjatuhkan sendok dalam genggaman.


"Jika kamu masih ingin bekerja di sini, lebih baik tutup mulutmu!"

__ADS_1


Suara Mark membuat pria yang berdiri di samping kursi roda menepuk-nepuk dada. Putra dari pasiennya melototinya sambil mendelik.


"Maafkan saya, Tuan," ia membungkuk mengambil sendok yang terjatuh.


Kesempatan ini digunakan oleh Yusuf untuk membungkam mulutnya sendiri dengan tangan agar suara tawanya tak didengar oleh pria bermata indah itu.


Tak kusangka Tuan Mark akan bersikap seperti orang bodoh jika menyangkut persoalan gadis cantik yang amat dicintai. Ia berubah jadi pikun dan tak dapat berpikir jernih. Sungguh beruntung Nyonya Ameera bisa dicintai oleh pria sebaik dan setampan beliau.


Pantas saja Nyonya Stevanie bersikeras mempertahankan rumah tangganya meskipun ia tahu harapan untuk bisa bersama pria itu hanya angan-angan belaka. Sebab, Tuan Mark bukan tipe pria yang akan menjilat ludahnya sendiri.


"Mana Papa tahu, memang selama ini kamu tidak mencari keberadaan istrimu?"


"Aku selalu mencarinya, Pa tapi lagi dan lagi jalan buntu kutemui. Nampaknya Joe dan Mama Aura memang ingin aku berpisah dengan Ameera."


"Tunjukan pada mereka bahwa kamu pantas untuk dijadikan pendamping hidup Ameera. Mentalmu harus sekuat baja, tidak boleh mental kerupuk. Terkena air langsung meleleh," sindir Tuan Ibrahim.


Mark tersenyum kecut, ia memutar bola mata. Meski demikian semua perkataan Papanya benar, pria itu tak boleh menyerah untuk terus mencari keberadaan Ameera.


"Kali ini aku setuju dengan ucapan Papa, meskipun terkesan mengejekku tapi akan kubuktikan bahwa Mark Pieter layak diberikan kesempatan kedua untuk mendampingi kekasih pujaan hati."


"Sejak kapan sikapmu berubah mencair seperti ini? Setahuku dulu kamu selalu bersikap dingin, datar dan jarang tersenyum namun kini wajahmu semakin terlihat tampan ditambah seulas senyum manis di bibir mungil itu."


"Papa sendiri, sejak kapan mulai mengejekku. Perasaan dulu selalu bersikap tegas bahkan membuatku berpikir mengapa Mama mau menikah dengan pria seperti ini."


Sedetik kemudian terdengar suara gelak tawa mewarnai keluarga Pieter. Sepasang Ayah dan Anak itu tertawa lepas seakan-akan melupakan sejenak permasalahan yang sedang melanda.


"Nak, mulai sekarang Papa akan selalu mendukungmu. Apapun keputusanmu, ingatlah akan selalu ada pria tua renta ini di belakangmu."


"Terima kasih, Pa karena sudah merestui Mark untuk kembali bersama Ameera."


Sedari tadi Yusuf menyaksikan pemandangan langka di hadapannya, membuat kedua matanya mulai berkaca-kaca.


"Syukurlah, semua kejadian ini memberikan hikmah untuk Tuan Mark dan Papanya. Tuhan, semoga Kau segera mempertemukan pria berhati baik ini dengan istrinya," ujar Yusuf dalam hati.


Selama lima bulan bekerja di kediaman Pieter, perawat laki-laki itu sedikit banyak mengetahui permasalahan internal keluarga pasien. Mulai dari kabar istri kedua Mark yang pergi secara tiba-tiba hingga perselisihan antara Stevanie dan Tuan Ibrahim. Baik Yusuf maupun Ochi, mereka berdua menutup rapat mata dan telinga demi menjaga rahasia pasien.


Tujuan mereka bekerja di mansion itu untuk merawat pasien, bukan untuk bergosip apalagi menyebarluaskan aib keluarga.


Sarapan pagi kali ini terasa berbeda, untuk pertama kalinya Mark merasakan sesuatu yang berbeda, hatinya terasa bahagia, jiwanya tenang tatkala melihat senyum orang terkasih terlukis indah di depan sana.

__ADS_1


Semenjak Nyonya Ibrahim kembali ke hadapan Sang Pencipta, kehangatan keluarga ini sirna bersamaan dengan terkuburnya jasad wanita itu di dalam gundukan tanah berwarna merah.


Semua ujian hidup memberikan pelajaran bagi Mark dan Tuan Ibrahim, membuat mereka kembali dan berubah menjadi manusia lebih baik lagi.


"Mark, Pa," ucap seorang wanita cantik, bertubuh seksi di ambang pintu.


Tangan wanita itu menarik koper besar berwarna coklat, ia menatap kedua pria beda generasi dengan tatapan yang sulit diartikan.


Tubuhnya bergetar, ada sedikit keraguan dalam diri untuk menghampiri mereka.


"Ada apa?" tanya Mark tanpa basa basi.


Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah sumber suara. Pria itu sibuk menyantap hidangan di atas meja.


"A-aku ke sini... Ingin berpamitan."


"Hanya itu saja?"


"Ehm... Iya... Maksudku tidak..." jawab Stevanie gugup.


"Itu... Tolong maafkan aku atas kejadian semalam."


"Sudahlah, semua telah berlalu," ujar Mark dingin.


"Kalau tak ada yang ingin dibicarakan lagi, kamu bisa keluar sekarang. Mobilmu sudah kusiapkan di garasi. Apartemenmu pun sudah dibersihkan oleh pelayan."


"Untuk nafkah materi, berhubung kita tidak memiliki keturunan maka aku tak berkewajiban memenuhi semua kebutuhanmu. Tapi kamu tenang saja, aku akan mengirimkan keuntungan dari perusahaan sebab keluarga Hendrawan memiliki sebagian saham dari PT Indah Sentosa."


"Aku juga akan mengirim salah satu pelayan untuk membantumu di sana hingga kamu tak kan merasa kesepian."


"Baik, terima kasih banyak Mark."


"Kalau begitu, aku pamit dulu. Sampai jumpa."


Setelah mengucapkan kata-kata perpisahan, wanita bertubuh bak gitar Spanyol itu menarik koper menuju pintu mansion.


Bersambung


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2