
Tak terasa waktu semakin cepat berputar. Kini hari yang dinantikan tiba. Hari di mana Mark dan Gladys melangsungkan resepsi pernikahan secara live, disiarkan oleh salah satu stasiun televisi tanah air.
Konsep pelaminan yang diusung kedua mempelai adalah dekorasi elegan dan modern dengan backdrop berupa tirai berwarna merah jambu beserta lampu gantung yang memancarkan cahaya kekuningan mampu memberikan kesan menawan disetiap sudut ruangan.
Hiasan bunga yang ditata dengan dominasi bunga mawar putih serta dedaunan memberikan perpaduan yang elok. Tidak lupa dilengkapi sofa berwarna putih sebagai kursi pengantin penambahan karpet bulu berwarna putih gading sebagai alas memberi kesan manis dan hangat.
Ruangan ballroom kini disulap menjadi sebuah taman buatan, disetiap sudut terdapat bunga mawar merah menjadi dekorasi pelaminan. Mawar yang indah dianggap sebagai simbol cinta, sukarela dan keindahan.
Gaun untuk resepsi pernikahan yang dikenakan pertama oleh Gladys adalah gaun berwarna merah muda dengan model V neck berbahan dasar sutra, dengan hiasan mutiara dibagian dada dan lengan sedangkan untuk siang hari sampai sore wanita itu akan menggunakan gaun pengantin jenis backless ball gown sedikit menjuntai dengan design v neck ditambah pita dibagian tengah pinggang.
Kemewahan juga terlihat dari perhiasan yang digunakan oleh Gladys. Mulai dari anting, kalung, cincin dan gelang semuanya bertabur berlian.
Senyum mengembang di bibir sepasang pengantin yang tengah berbahagia. Gladys merasa terharu, sebab kini kebahagiaan hadir dalam hidupnya.
Dulu, dia tak mengira bahwa nasib rumah tangganya akan berakhir di atas pelaminan mewah yang disaksikan oleh jutaan mata, menyaksikan momen bersejarah sepanjang hidupnya lewat saluran televisi tanah air.
Dalam hati, wanita itu memanjatkan syukur dan rasa terima kasih pada Tuhan atas nikmat serta kebahagiaan yang tengah dirasakan olehnya. Tanpa sadar, sudut mata Gladys mengambang.
"Jangan rusak momen bahagia kita dengan air mata," bisik Mark seraya mengusut sudut mata Gladys. Tubuh kekar pria itu berbalut tuxedo hitam putih dengan celana warna senada.
Gladys mendongakan kepala, lalu menunduk dan mengigit bibir bawahnya. Dia merasa malu karena tertangkap basah tengah menangis, meski air mata bahagia yang keluar tetapi tetap saja wanita bermata almond itu malu sebab di usianya yang ke-22 tahun tidak seharusnya Gladys bersikap kekanak-kanakan.
"Ini air mata bahagia kok," ucap Gladys lirih tanpa melirik ke arah Mark.
Mark tertawa gemas melihat wajah istrinya. Jari telunjuk pria itu terulur, lalu menyentuh ujung hidung Gladys. "Aku tahu saat ini kamu sangat bahagia, hingga tak dapat membendung air matamu, iya kan?"
"Setelah acara resepsi selesai, kamu bisa menumpahkan segala isi hatimu padaku. Namun, untuk sekarang, kumohon hentikan. Jangan sampai para tamu undangan menyangka aku sudah menyakitimu." Pria bermata biru itu mengerlingkan sebelah mata.
Percakapan mereka terhenti, saat sepasang pengantin baru naik ke atas panggung. Mereka adalah Mr. Lee dan Stevanie.
"Selamat menempuh hidup baru, adikku tersayang," ucap Stevanie. Wanita bertubuh sintal bak gitar Spanyol memeluk tubuh adik angkatnya erat.
__ADS_1
"Aku turut bahagia atas resepsi pernikahanmu, Mark." Mr. Lee menepuk pundak mantan rivalnya.
"Begitu juga denganmu, Lee. Aku tak mengira kamu akan langsung menikahi Stevanie dalam hitungan hari."
Mr. Lee terkekeh. "Awalnya aku berencana menikahi Stevanie setelah menghadiri resepsi kalian, tapi mantan istrimu itu enggan kusentuh apabila belum ada ikatan suci diantara kami." Pria itu menarik napas sejenak, lalu berkata, "jangankan seminggu, sehari saja aku tidak tahan melihat kemolekan tubuh kekasihku."
"Lee!" ucap Stevanie dengan sorot mata tajam ke arah suaminya.
Gladys dan Mark tertawa melihat tingkah sepasang pengantin baru di hadapan mereka.
Satu tangan pria berwajah Asia itu menutup mulut. Dia membungkamnya dengan tangan kanan. "Aku tidak akan berkata apa pun lagi."
"Kalian berdua harus datang ke Korea untuk menghadiri resepsi pernikahan kami," ucap Mr. Lee sebelum meninggalkan pelaminan. Tangan pria itu menggandeng sang istri, lalu bergabung dengan tamu undangan yang lain.
"Kita bisa gunakan kesempatan itu untuk berbulan madu. Persiapkan diri dan mentalmu untuk melayani suamimu ini, Sweetheart." Mark menggigit belakang telinga Gladys.
"Kak Mark!"
"Dasar mesum! Tidak tahu malu!" ucap Gladys ketus.
Mark mendesah. Tampaknya dia harus lebih bersabar menghadapi tingkah aneh Gladys. Meskipun hampir setiap malam mereka melakukan kegiatan panas, tapi entah mengapa pipi wanita itu selalu memerah jika membahas permasalahan yang begitu intim.
Ribuan tamu undangan datang silih berganti, memberikan do'a dan ucapan selamat pada dua mempelai. Banyak kerabat, teman dan rekan bisnis turut hadir dalam resepsi pernikahan tersebut.
Gladys memekik kegirangan saat melihat Naomi, Barra dan Emon menghadiri resepsi pernikahan. Bagi wanita itu, mereka sudah seperti keluarganya sendiri. Ketika masih berstatuskan mahasiswa magang, ketiga orang tersebut selalu ada dan membantu Gladys dalam kesusahan.
"Selamat menempuh hidup baru, Nyonya Pieter," ucap Naomi seraya mencium kedua pipi Gladys secara bergantian. "Akhirnya, harapanmu untuk mengumumkan ke semua orang tentang status pernikahan kalian terwujud."
"Ini buah dari kesabaranmu selama ini, Nyonya," timpal Barra.
Gladys tersenyum ke arah teman-temannya. "Ya, kalian benar. Dulu aku hanya ingin suamiku mengumumkan di depan para karyawan. Namun, Tuhan malah memberikan kenikmatan yang lebih padaku. Di depan ribuan orang, dia menyatakan bahwa aku adalah istri sah dan ibu dari putranya."
__ADS_1
Emon terkekeh. "Itulah kekuasaan Tuhan. Dia tahu kamu mampu melewati semua kesulitan yang dihadapi dan kini lihatlah, semua berjalan sesuai harapanmu. Semoga kali ini pernikahan kalian abadi, selamanya."
"Ini!" Pria lemah gemulai itu menyodorkan kartu undangan pernikahan. Di bagian depan tercantum nama calon pengantin.
Gladys menautkan kedua alis. "Donny akan menikah?"
"Benar. Ketika dia melanjutkan S2 di London, pria itu bertemu dengan seorang gadis asal Indonesia. Masih teman kuliah. Lambat laun tumbuh benih cinta diantara keduanya," ucap Emon panjang lebar.
"Sungguh?" tanya Gladys tidak percaya.
Emon mengangkat kedua bahu. "Cerita itu menurut versi Mama Donny. Menurut pria itu sendiri, aku tidak tahu. Sudah lama dia curhat padaku."
"Apa kamu sakit hati karena tidak jadi menikah dengan pria itu?" tanya Mark tiba-tiba. Membuat Gladys tergagap.
"Mana mungkin! Aku malah bahagia jika dia bertemu dengan jodohnya. Itu artinya, koleksi para jomblo di bumi ini semakin berkurang."
"Awas saja. Jika kamu ketahuan masih mencintai pria itu, maka aku akan membuat hidup Donny menderita seumur hidup!" ancam Mark.
Gladys tersenyum, lantas berbisik di telinga suaminya. "Kamu boleh menghukumku di atas ranjang sepanjang hari, jika sampai aku ketahuan berselingkuh di belakangmu."
"Meskipun kamu tidak berselingkuh, tapi akan kubuat kamu menyesal karena sudah menggodaku." Mark mengikis jarak di antara mereka. "Malam ini, akan kubuat kamu menjerit di bawah kungkunganku!"
Tubuh Gladys menegang, wajah wanita itu semakin merona mendengar kalimat vulgar yang terucap dari bibir suaminya.
Mark tersenyum puas karena berhasil mengerjai istrinya. "Jangan salahkan aku karena sudah menggodamu. Namun salahkan dirimu yang terlalu imut untuk kugoda," batin pria itu.
"Barra, temanmu sudah akan menikah. Lantas, kapan kamu akan menikahi Naomi?" tanya Mark acuh tak acuh.
"Tunggu tanggal mainnya saja, Tuan," ucap Barra seraya menggenggam jemari Naomi dan berlalu meninggalkan pelaminan.
...~THE END~...
__ADS_1