
Mark baru bangun ketika cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela kemudian menerpa wajahnya. Setelah bangun, pria itu lalu mandi mengguyur tubuhnya di bawah pancuran air dan sekarang sudah berpakaian rapi siap untuk berangkat ke sebuah tempat yang dia sendiri tidak tahu.
Pagi-pagi sekali Barra menelepon via sambungan pesawat telepon yang ada di kamar hotel. Anak muda itu memberitahu bahwa tepat pukul dua belas siang, Bosnya diminta untuk bersiap-siap menuju lokasi pertemuan yang sudah ditentukan.
Di luar, Barra menunggu dengan tidak sabar. Hampir setengah jam pria itu menunggu. Beberapa kali melirik arloji yang melingkar di tangan sebelah kiri.
Tak berselang lama, dia mendengar suara kunci pintu terbuka dari dalam. Barra bisa bernapas lega, akhirnya pria yang dinanti sudah siap dengan pakaian rapi lengkap dengan syal dan mantel bulu berwarna coklat.
"Sejak kapan kamu menunggu di situ?" tanya Mark.
"Setengah jam lalu, Tuan. Saya pikir Anda lupa dengan agenda hari ini," jawab Barra sambil menyeringai lebar.
"Lantas mengapa tidak kamu tekan saja bel di depan pintu, malah menunggu di sini. Sungguh tidak profesional," mata elang itu mendelik kemudian berjalan tanpa menunggu jawaban Barra.
"Saya khawatir mengganggu mimpi indah Anda, Tuan."
Mark tersenyum masam, "dari mana anak muda ini mengetahui semalam aku mimpi indah? Apakah dia bisa membaca pikiranku."
"Ngomong-ngomong, apakah dugaan saya benar, semalam Anda mimpi indah?" tanya Barra saat melihat seulas senyum manis tersungging di bibir pria itu.
"Kamu tahu, orang terlalu banyak mencampuri urusan orang lain akan lebih mudah mati."
Barra memutar bola matanya, "mulut Anda mengandung racun yang sangat mematikan," lirih pria itu.
"Namun, aku bahagia, bila Anda benar-benar mimpi indah semalam. Dalam hitungan menit, kebahagiaan Anda akan bertambah berkali lipat mana kala bertemu dengan gadis... Tunggu, bukan gadis, melainkan wanita muda yang telah memberikan keturunan untuk keluarga Pieter, penyejuk dan permata hati Anda," gumamnya dalam hati.
"Mengeluhkan sesuatu?" tanya Mark dengan intonasi tinggi.
"Eh... Tidak, Tuan. Saya tidak berani mengeluh."
Pria berdarah campuran itu memberikan isyarat pada asistennya untuk mengikutinya.
__ADS_1
Barra mengangguk-anggukan kepala dan berlari mengikuti langkah kaki panjang sang Bos.
***
Hari ini Barra sengaja mengendarai mobil sendiri, selain menekan biaya hidup selama tinggal beberapa hari di negeri asing, dia juga memiliki misi khusus untuk menyatukan dua hati yang retak.
"Tuan, ketika Anda bertemu klien, saya akan meninggalkan kalian berdua. Gunakan waktu sebaik mungkin dan ingat, jangan sampai membuatnya marah sebab jika ia kecewa maka bisa dipastikan, Anda akan menyesal seumur hidup," Barra sesekali memperhatikan Bosnya yang sedang duduk di kursi belakang.
"Saya mengerti."
Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit, kini mereka sudah sampai di sebuah Museum Melbourne yang terletak di Calrton Garden, Australia bersebelahan dengan gedung pameran kerajaan.
Museum Melbourne merupakan museum terbesar di belahan bumi selatan. Memiliki ruang-ruang seperti discovery center gratis, cafe dan toko souvenir.
"Kamu yakin, ini tempatnya?" tanya Mark setelah mobil yang ditumpangi berhenti persis di depan pintu masuk museum.
"Benar Tuan, Anda bisa menunggu klien di dalam. Namun, saya hanya bisa mengantarkan Anda di sini."
"Tentu. Semoga berhasil."
Setelah turun dari mobil, Mark berjalan menuju museum yang cukup terkenal di belahan bumi selatan. Sebenarnya pria itu tidak terlalu menyukai seni tetapi jika klien memintanya bertemu di tempat itu, apa boleh buat. Dia hanya bisa menuruti, toh untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Jadi, bagi Mark ini tidak sebanding dengan keuntungan yang kelak didapat.
Mark berjalan menuju deretan lukisan. Ada banyak lukisan dipamerkan di sebuah aula luas tetapi terlihat sepi. Di aula itu terdapat banyak jenis lukisan karya beberapa pelukis terkenal. Pria itu menajamkan netranya, melihat nama pelukis yang tertera di bagian bawah lukisan tersebut.
"Sungguh indah sekali. Aku tidak menyangka di negara bagian selatan ini memiliki tempat wisata sebagus ini," ucapnya lirih.
Kini pria itu beralih ke deretan patung-patung berbentuk kepala manusia. Dia cukup terkesan dengan hasil karya semua seniman yang hasil karyanya dipajang di museum ini.
"Jika aku berkumpul lagi dengan keluarga kecilku, akan kuajak mereka ke sini. Semua orang pasti iri melihat kecantikan istriku," sudut bibir pria itu terangkat.
"Ma, Gladys sudah ada di museum tetapi belum menemukan orang yang dimaksud. Aku lelah harus mencarinya di gedung seluas ini!" wanita muda dengan mantel bulu berwarna merah jambu, mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
__ADS_1
"Kamu pergilah ke deretan patung kepala manusia, dia ada di sana. Mengenakan mantel bulu berwarna coklat," ujar Mama Aura di seberang sana.
"Aku sudah melihatnya. Ya sudah, Gladys tutup dulu." Kemudian dia mematikan sambungan telepon.
"Selamat siang, Tuan," sapa Gladys dalam Bahasa Inggris.
Suara merdu bak alunan melodi indah menggema di telinga Mark, begitu syahdu dan menghanyutkan. Tak ingin wanita itu pergi, dia segera membalikan tubuh dengan cepat. Pria itu hendak membuka mulut tetapi lidahnya mendadak kelu. Mark terlalu terkejut hingga membuatnya nyaris saja menyenggol patung di belakang.
Bibir mungil dan ranum bagai bunga mawar yang sedang merekah, wajah cantik dengan mata almond sukses membuatnya tidak fokus dan hampir menghancurkan sebuah karya yang bernilai jutaan bahkan milyaran dolar Australia.
Mark hanya terpaku memandangi sosok wanita cantik yang selama hampir satu tahun ini menggangu pikirannya. Sosok wanita yang begitu dicintai melebihi apapun di dunia ini.
"Ameera!" ucap Mark dengan suara lirih namun masih bisa di dengar oleh indera pendengaran.
"Oh Tuhan, mengapa aku harus bertemu pria ini di sini. Tidak mungkin 'kan dia adalah orang yang dimaksud oleh Mama! Bukankah Mama dan Kak Joe membenci Kak Mark? Lantas mengapa sekarang malah sengaja mempertemukan kami?" batin Gladys.
Rasa rindu yang menggumpal dalam dada Mark selama ini semakin sulit dibendung, hingga membuat jantung pria itu hampir meledak. Impian untuk bertemu kembali dengan Gladys, kini jadi kenyataan.
Di depan sana, berjarak tidak kurang dari dua meter, istri kecilnya berdiri anggun. Berpenampilan modis dengan potongan rambut blunt bob soft layer membuat wanita itu terlihat dewasa.
Semua barang yang dikenakan product branded. Mulai dari tas, mantel, sepatu bahkan ponselnya pun keluaran terbaru. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan penampilan Gladys beberapa bulan lalu.
"Sayang, akhirnya aku menemukanmu," ucap pria itu. Dia berjalan selangkah demi selangkah ke depan, mengulurkan tangan dan meraih tubuh kecil itu dalam pelukan.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1