
Happy reading 🍃
Satu jam kemudian, mobil memasuki pelataran Rumah Sakit Umum Persada. Gedung rumah sakit yang tinggi menjulang ke angkasa terlihat bagaikan sebuah raksasa, begitu besar dan megah nampak mencolok di antara bangunan ruko-ruko sekeliling. Seorang supir mematikan mesin mobil, kemudian turun dan membukakan pintu untuk Mark.
“Kamu tunggu di parkiran dan jangan pergi sebelum aku perintahkan!” titah Mark pada kedua supir yang mengantarkannya dan para pelayan.
“Baik Tuan, kami akan menunggu di sini,” ucap kedua supir tersebut hampir bersamaan.
“Kalian, ikut aku ke dalam!”
Keempat pelayan tersebut membungkuk dan mengikuti Mark dari belakang.
Mark menghampiri dua orang perawat di bagian informasi, menanyakan kamar istrinya dan berjalan masuk ke dalam lift.
“Permisi, ruang rawat inap atas nama Ameera Rinaldi dimana Sus?” tanya Mark, ia melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung miliknya.
Salah satu dari mereka sempat melirik dan memperhatikan penampilan Mark, hari ini dia begitu menawan dengan setelan kaos berkerah, celana chino berwarna krem dilengkapi kacamata hitam semakin memberikan kesan rupawan.
“Pasien atas nama Nona Ameera ada di bangsal Flamboyan di lantai 2.”
“Baik, terima kasih Suster.”
Pria itu tidak mengalami kesulitan saat mencari ruang rawat inap karena seluruh staf, keamanan dan perawat rumah sakit begitu sigap membantu sehingga para pengunjung merasa puas dengan pelayanan yang diberikan meskipun harus membayar mahal selama pasien dan keluarga puas maka mereka tidak akan merasa rugi.
Kini ia berdiri di depan pintu kamar kelas 1, ia menghirup napas dalam-dalam. Ini merupakan pertama kali baginya membesuk Ameera di rumah sakit dalam hati pria itu terselip rasa bersalah karena tidak bisa mendampingi istrinya di saat gadis itu dirawat.
“Semoga kamu memaafkanku Meera,” ucapnya dalam hati.
Kemudian, Mark mengetuk pintu dan suara lembut seperti nyanyian surga mempersilakan masuk.
“Ameera!” panggil Mark ketika berhenti di depan ranjang istrinya. “Bagaimana keadaanmu?”
Wajah Ameera yang tenang seketika berubah menjadi tegang. Perutnya berkali-kali mengembang dan mengempis menghirup oksigen, ia merasa ruangan tersebut sesak dan membuat lehernya tercekik.
“Anda sudah bisa menebak bagaimana keadaan saya saat ini,” ucap Ameera bersikap tenang.
“Maaf, saya baru menyempatkan diri membesukmu.”
“Oh ya, ini buket bunga khusus untukmu. Semoga kamu suka,” Mark memberikan buket bunga tersebut ke pangkuan Ameera.
Ameera menatap buket bunga itu dengan tatapan kagum, harum aroma bunga gardenia tercium dan ia bisa menebak bahwa suaminya baru saja membeli bunga tersebut.
__ADS_1
Aku tak menyangka pria dingin seperti Tuan Mark bisa romantis.
Ameera, kamu tidak boleh goyah hanya karena sebuket bunga ini. Ingat, istri pria itu nyaris saja mencelakai nyawa anakmu jika terus bersamanya maka akan berakibat fatal bagi kehidupanmu di masa depan.
Mark memberikan isyarat pada keempat pelayan untuk meletakan 3 buah parsel buah-buahan dan satu paper bag ke atas meja.
"Kalian semua boleh kembali ke mansion, tolong sampaikan pada supirku untuk ikut bersama karena malam ini aku akan menginap di sini."
"Baik Tuan," ucap mereka seraya membungkuk dengan sopan dan meninggalkan kamar.
"Ini, jus kesukaanmu," Mark mengambil buket bunga yang sedang di genggam istrinya, menggantinya dengan gelas tumbler isi jus kesukaan gadis itu.
Suara yang magnetis itu membuat Ameera hampir tersedak. Ia mengedipkan mata dan mengalihkan tatapan ke arah lain. Rona merah menjalar hingga ujung telinga.
Mark tersenyum melihat wajah istrinya memerah. Ia mengalihkan pembicaraan agar gadis itu tidak semakin malu, "Ayah dan Bunda kemana?"
"Ayah sudah berangkat bekerja, pagi-pagi sekali beliau pergi meninggalkan rumah sakit sementara Bunda sedang ada di kantin."
"Mengapa Anda di sini, bagaimana jika Nyonya Stevanie tahu dan ia mencoba mencelakai saya lagi!" gadis itu meminum jus yang ada di tangannya.
Mark melirik ke arah Ameera sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan. tiba-tiba saja lidahnya terasa kelu, mulutnya tidak mau terbuka padahal ia sudah menyiapkan diri jika pertanyaan ini dilayangkan padanya.
Mark memejamkan mata seraya menghela napas panjang.
Pria itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan perkataannya "soal Stevanie, kamu tenang saja karena saya sudah mengurusnya. Kedepannya jika dia masih berani mencelakaimu, maka tangan ini yang akan menghukum wanita itu!"
Ameera bisa bernapas lega sekarang meskipun ia yakin Stevanie tak kan berhenti mencari cara mencelakainya, setidaknya ucapan Mark bisa dipercayai karena ia yakin bahwa pria itu akan memegang janji dan tidak akan ingkar.
Mark duduk bersandar sambil memainkan notebook, ia membuka beberapa email masuk terkait laporan perusahaan. Saat tatapan matanya fokus pada layar notebook, ia mendengar suara rintihan seorang gadis. Pria itu berjalan menghampiri Ameera di ranjang.
"Kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Mark di dekat telinga Ameera.
"Saya ingin ke kamar mandi tapi sulit menjangkau botol infus itu," jawab Ameera seraya memalingkan wajah dan menjaga jarak dengan suaminya.
"Mengapa tidak meminta tolong!"
"Aw!" pekik Ameera saat tubuhnya melayang di udara. Tangan kekar Mark menggendong tubuh mungil gadis itu dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Sebelah tangan Ameera merangkul leher suaminya sementara sebelahnya lagi memegang botol infus.
"Tuan tunggu saja di luar!"
__ADS_1
"Kamu yakin bisa membasuhnya tanpa bantuan orang lain!"
Ameera hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Semua ucapan suaminya mengandung banyak makna.
"Ehm, maksudnya jika kamu kesulitan biarkan saya membantumu," lanjut pria itu.
"Saya janji tidak akan melakukan tindakan di luar batas," Mark segera meralat ucapannya. Ia tak ingin Ameera berpikiran macam-macam tentangnya.
"Saya bisa melakukannya sendiri, Tuan tunggu saja di depan. Saat semua hajat sudah terpenuhi, saya akan keluar."
"Baiklah, saya akan menunggu di luar."
Ia menatap lekat wajah polos istrinya, membelai dan mengecup puncak rambut gadis itu.
Selepas kepergian Mark, Ameera menghembuskan napas lega.
Sejak kapan Tuan Mark berbicara ambigu seperti tadi. Oh astaga, lama kelamaan pendirianku bisa goyah jika pria itu terus bersikap lembut dan penuh perhatian.
Saat ia duduk di atas closet, tiba-tiba perut gadis itu bergerak lembut seperti ada seseorang yang menyentuhnya dari dalam. Sudut bibirnya tertarik membentuk garis lurus, ia mengusap perutnya sambil berkata, "kamu suka dengan perhatian yang Papa berikan barusan?"
"Maafkan Mama ya Nak, sepertinya kamu harus terbiasa hidup tanpa kasih sayang dari seorang Papa karena sebentar lagi kita akan berpisah."
"Namun Mama berjanji akan mendidik dan membesarkanmu dengan penuh kasih sayang tanpa harus kehilangan sosok Papa karena ada Kakek Reza yang akan menjagamu."
Di balik pintu kamar mandi, Mark mendengar jelas semua perkataan yang keluar dari mulut istrinya. Pria itu terdiam, semua ucapan Ameera membuat hatinya sakit.
'Seperti ini kah rasanya sakit hati saat gadis yang kucintai dengan tegas ingin tetap berpisah meskipun aku berusaha mempertahankannya!' ucapnya dalam hati.
"Aku memang bodoh pernah tak mempercayaimu dan malah membela Stevanie."
"Kini aku sudah tahu isi hati wanita itu, andai saja dulu aku tak berjanji pada mendiang Maminya Stevanie mungkin saat ini sudah kutinggalkan dia karena nyaris membunuh darah dagingku sendiri," tanpa sadar cairan bening meluncur melalui ujung mata pria itu.
"Maafkan Papa, Nak karena membuatmu berada dalam situasi berbahaya."
Mark segera menghapus cairan bening tersebut tatkala pintu kamar mandi terbuka. Ia langsung menggendong Ameera dan membaringkannya di atas ranjang, menyelimuti gadis itu hingga menutupi bagian dada dan kaki.
"Istirahatlah, saya akan menjagamu di sini." pria itu mencium kening Ameera dan kembali duduk di kursi.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.