BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
AKAD NIKAH


__ADS_3

Tepat pukul setengah lima sore, Mark sudah bersiap-siap pulang ke mansion. Hari ini dia sengaja pulang lebih cepat karena ingin mampir ke toko perhiasan. Tanpa diketahui Gladys, diam-diam pria itu memesan sebuah cincin berlian sebagai mahar pernikahan.


Dia memesan sebuah cincin dengan taburan lima belas berlian kecil di bagian atas dan pinggirannya. Pria itu sengaja memilih angka lima belas sebagai hari spesial karena delapan belas tahun lalu, tepat tanggal lima belas, Mark mengikrarkan janji untuk menikahi bocah kecil serusia empat tahun menjadi istrinya di masa depan.


Untuk itulah Mark memesan cincin berlian sebagai tanda keseriusan cinta dan melambangkan ketulusan hatinya membina kembali hubungan rumah tangga bersama istri tercinta.


"Winda, meeting dengan para karyawan untuk membahas proposal lelang proyek, kita bahas besok siang. Malam ini saya ada acara penting, jadi tolong cancel semua jadwal dan diundur besok siang," titahnya ketika melewati meja kerja Winda.


Sekretaris itu tercengang mendapati Bosnya tiba-tiba saja sudah ada di depan meja kerja dengan menjinjing tas kerja di tangan kiri.


"Oh iya, satu lagi. Tolong ingatkan Naomi dan Barra untuk datang ke mansion tepat waktu. Jika terlambat, gaji mereka akan saya potong dua puluh persen!" ucap Mark acuh.


Tanpa menunggu jawaban Winda, Mark berjalan santai dan menunggu di depan pintu lift.


Kening Winda ikut berkerut dalam. Hari ini sikap Bosnya itu terbilang aneh. Setelah kepulangan Gladys, Mark meminta Winda dan Barra membeli kopi yang sedang digandrungi oleh anak muda zaman sekarang dan membagikannya kepada seluruh karyawan perusahaan.


"Sikap Tuan Mark hari ini aneh. Entah jin apa yang merasuki pria itu hingga membuatnya bersedia mengeluarkan uang lebih untuk mentraktir seluruh pegawai," gumam wanita itu. Kemudian dia langsung mengangkat gagang telepon lalu menghubungi beberapa karyawan yang terlibat dalam pembuatan proposal.


Kini Mark berada di salah satu toko perhiasan. Saat masuk ke dalam, dia sudah disambut hangat oleh karyawan toko.


"Selamat sore, Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu ramah.


"Saya mau mengambil cincin berlian atas nama Mark Pieter," ucap Mark.


Kemudian karyawan toko itu mencarikan barang yang dimaksud. Sambil menunggu, Mark menatap etalase yang menampilkan cincin-cincin yang mampu menyilaukan mata. Berjejer perhiasan dengan variasi harga dan motif yang berbeda.


"Ini pesanan Anda, Tuan." Karyawan toko itu menyerahkan kotak segi empat berukuran lebar.


Di dalam kotak merah dengan busa di dalamnya bersemayan dua buah cincin kawin yang begitu indah, cukup mencolok dan mewah. Mark ingin agar semua orang tahu bahwa kini Gladys adalah istrinya agar tidak ada lagi pria lain mengganggu apalagi berusaha merebut wanita itu dari sisinya.


"Saya bayar pakai ini, Mbak." Mark mengeluarkan sebuah kartu sebagai alat transaksi.

__ADS_1


Usai mengambil barang pesanan, dia menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraan meninggalkan pusat perbelanjaan.


Tepat pukul setengah enam sore, Mark sudah tiba di mansion. Di sana sudah ada Ayah Reza, Tuan Ibrahim ditemani Yusuf, Joe, Dokter Diana dan Dokter Firman. Mereka berkumpul di aula utama sambil bercengkrama. Terdengar tawa dan canda menghiasi kediaman Pieter.


"Wah, calon pengantin jam segini baru tiba di rumah. Kupikir kamu kabur dan tak berniat menikahi Gladys." Joe menepuk pundak sahabat sekaligus iparnya.


"Tutup mulutmu. Kamu pikir aku pengecut yang akan lari dari tanggung jawab!" ucap Mark sinis. Dia memicingkan mata lalu mengalihkan pandangan ke lantai dua.


"Kamu pria gentle tapi plin plan," sindir Joe.


"Sudahlah, tidak usah diperpanjang. Adikku sedang bersiap-siap di kamar, dibantu Mama, Bunda Meta dan Kirana. Lebih baik kamu mandi karena sebentar lagi penghulu datang."


"Terima kasih, karena kamu sudah mau menghadiri pernikahanku dengan Gladys."


Joe terkekeh mendengar ucapan terima kasih yang keluar langsung dari mulut sahabatnya itu. "Sebenarnya aku malas datang ke sini, menyaksikan bagaimana Adikku menikahi pria macam dirimu. Namun, demi keponakanku, aku rela menjadi saksi pernikahan kalian untuk kedua kalinya."


"Mark, kumohon, kali ini jangan sia-siakan Adikku."


Setelah berbincang sebentar, Mark izin kembali ke kamar. Dia berencana membersihkan diri lalu berpakaian rapi untuk menyambut malam bersejarah dalam hidupnya.


Dua jam kemudian, seorang penghulu sudah duduk di atas karpet tebal. Pria berpakaian rapi, lengkap dengan kopiah hitam duduk di depan meja. Malam itu, dia diminta menikahkan kembali sepasang suami istri untuk mengikrarkan janji suci di hadapan Tuhan, keluarga serta sanak saudara.


Mark duduk dengan gelisah, keringat dingin mulai membanjiri tubuh serta tangannya. Ini memang bukan pertama kali pria itu mengucapkan ijab kabul, tapi entah mengapa tetap saja menimbulkan perasaan aneh setiap kali berhubungan dengan Gladys.


"Relax, bro. Jangan terlalu tegang. Anggap saja sedang berdiri di hadapan klien dan kamu hanya perlu mengikuti apa yang diucapkan penghulu," bisik Joe.


"Sok bijak. Aku tidak yakin, kamu akan bisa relax jika berada di posisiku," sindir Mark ketus.


"Kamu meremehkanku?" tanya Joe, lalu tangannya meninju pundak Mark, membuat pria itu memekik.


"Untung saja Adikku masih mencintaimu, jika tidak. Sudah kutinju wajah jelekmu itu."

__ADS_1


Percakapan mereka terhenti saat dua orang wanita paruh baya menggandeng calon pengantin wanita.


Semua orang terpana saat seorang wanita muda berjalan menuju karpet. Dalam balutan kebaya warna putih, Gladys terlihat sangat cantik, bagai bidadari yang baru saja turun dari Khayangan. Meskipun memakai kebaya sederhana dan riasan tipis tapi aura kecantikan wanita itu tetap terpancar laksana gemerlap bintang di atas langit.


Kecantikan wanita muda itu bertambah berkali-kali lipat tatkala seulas senyum tersungging di bibir ranum miliknya.


Dibantu dua orang wanita yang sangat berarti dalam hidup Gladys, dia duduk di samping Mark. Sedikit pun Gladys tidak mengarahkan pandangan ke arah suaminya. Wanita itu terlalu malu untuk mengangkat wajah.


"Bagaimana, apakah bisa dimulai akad nikahnya?" tanya penghulu itu memecah suasana.


"Langsung di mulai saja, Pak. Nampaknya calon pengantin pria sudah tidak sabar ingin segera menyentuh sang istri," ucap Joe seraya mengedipkan sebelah mata.


"Baiklah, kalau begitu kita mulai saja."


Dengan suara lantang, Mark mengucapkan ijab qabul di hadapan penghulu, wali nikah, saksi serta sanak saudara yang hadir.


Setelah terdengar kata sah, Pak Penghulu menyatakan Mark dan Glasys resmi menjadi suami istri. Harapan dan impian Mark menjadikan Gladys istri satu-satunya akhirnya terkabul.


Kini, dia bisa bernapas lega karena bisa menebus semua kesalahan di masa lalu dengan menikahi istri sirinya dengan sebuah pernikahan yang nyata, bukan fatamorgana. Sebuah pernikahan yang dianggap sah oleh agama maupun negara.


"Selamat, kini kalian sudah sah menjadi suami istri. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Rumah tangga kalian langgeng sampai maut memisahkan." Penghulu itu menjabat tangan Mark dan Gladys.


Bersambung


.


.


.


Mohon maaf baru bisa update. Soalnya Mas Bojo WFH, jadi sedikit riweh ngurusin bayi gede. 🤭

__ADS_1


__ADS_2