
Usai ijab qabul, sepasang suami istri itu duduk di meja makan. Mereka menjamu tamu undangan dengan pesta kecil-kecilan. Sesuai kesepakatan bersama, hanya akan diadakan proses ijab qabul saja, sementara resepsi pernikahan akan diadakan beberapa bulan kemudian. Mungkin menunggu hingga Alpukat berusia genap satu tahun.
"Tuan, selamat atas pernikahan kalian. Saya turut berbahagia." Untaian do'a tulus diberikan oleh Barra.
Malam itu, Mark secara khusus mengundang pria itu hadir dalam jamuan makan malam yang diadakan di mansion mewah milik keluarga Pieter.
"Terima kasih, Barra." Mark menepuk pundak Barra.
"Aku bahagia, akhirnya kamu bersatu lagi dengan Tuan Mark." Naomi memeluk Gladys.
Gladys tersenyum." Terima kasih, Nom. Kamu memang sahabat terbaikku. Di saat berada di titik terendah sekali pun, kamu masih setia menemaniku." Gladys menangis dalam pelukan sahabatnya.
Naomi melepaskan pelukan, lalu menyusut air mata wanita itu. "Ini malam bahagia, jangan rusak dengan air mata."
Gadis itu menoleh ke arah Bosnya, lalu berkata, "Tuan, tolong jangan pernah sakiti lagi hati Gladys. Karena kalau sampai terulang kembali, saya, Barra dan Tuan Joe tidak segan-segan membuat Anda lebih menderita dari sebelumnya," ujar Naomi.
"Maksudmu?"
"Anda bisa memikirkannya sendiri." Dia berlalu meninggalkan Mark. Gadis itu bergabung dengan geng emak-emak yang tengah sibuk bermain bersama si kecil.
Baby Andra atau Alpukat sudah memasuki usia sepuluh bulan atau empat puluh minggu. Dia sudah mulai bisa mengambil suatu barang dengan menjadikan sofa sebagai pegangan, berdiri sendiri walau hanya dua detik, selalu tersenyum lebar pada siapa pun yang dijumpai dan mampu mengucapkan kata Mama dan Papa.
Itulah kenapa Alpukat menjadi pusat perhatian kaum Hawa malam hari ini. Selain tampan karena mewarisi ketampanan wajah dari Mark, dia juga murah senyum seperti Mamanya.
Saat jam dinding menunjukan pukul sebelas malam, satu demi satu tamu undangan kembali ke rumah dan menyisakan sepasang pengantin, orang tua angkat Gladys, Barra, Naomi, Tuan Ibrahim dan pasangan yang tengah melakukan PDKT, yaitu Joe dan Suster Kirana. Baby Andra sudah satu jam lalu kembali ke kamar ditemani Mama Aura.
"Gladys, kamu istirahatlah, Nak, kasihan Mark sudah menunggumu sejak tadi," ujar Bunda Meta setelah melihat wajah masam menantunya karena Gladys tak kunjung masuk ke dalam kamar sementara pria itu sudah gelisah menanti pasangannya masuk ke kamar pengantin.
"Gladys belum mengantuk, Bunda. Masih ingin bercengkrama dengan Ayah dan Bunda." Wanita muda itu bergelayut manja di lengan Ibu angkatnya.
"Dasar manja!" Bunda Meta menyentuh hidung putrinya lembut.
"Tidak baik membiarkan suamimu menunggu terlalu lama," lanjut wanita paruh baya itu tanpa melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Itu benar, kalian sudah sah menjadi suami istri dan artinya, kamu berkewajiban melayani Nak Mark dalam keadaan apapun."
"Nak, jadilah istri patuh, setia dan selalu mendampingi suamimu dalam keadaan suka maupun duka. Dulu kalian pernah terpisah tapi kali ini, Ayah harap pernikahan kalian abadi sampai maut memisahkan. Buka hatimu untuk bisa melihat ketulusan dan keseriusan Nak Mark mengobati luka dan memperbaiki hubungan yang pernah terputus," lanjut Ayah Reza. Pria pemilik mata bulat itu mengusap puncak rambut putrinya.
Malam ini, Gladys menunjukan sikap manja di hadapan orang tua angkatnya. Meskipun sudah mendekati usia dua puluh dua tahun serta memiliki seorang bayi menggemaskan tapi saat berkumpul bersama Ayah dan Bunda, dia akan berubah menjelma menjadi gadis kecil manja yang butuh kasih kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Sejak dulu aku sudah menjalankan semua nasihat Ayah agar menjadi istri setia dan patuh terhadap suami tapi Kak Mark malah lebih memilih istri pertamanya dari pada aku." Gladys mengerucutkan bibir dan semakin mengeratkan pelukan.
Ayah dan Bunda tertawa terkekeh, pikiran mereka menerawang ke masa lalu. Sekelebat cuplikan kejadian delapan belas tahun lalu berputar layaknya sebuah film yang diputar di bioskop.
Pertama kali menemukan Gladys, bocah kecil pemilik mata almond itu sangat menggemaskan. Pipi tembem, kulit kuning langsat, sorot mata indah layaknya mutiara yang berasal dari Samudera Hindia, begitu jernih dan menenangkan jiwa.
Namun siapa sangka, kini dia menjelma menjadi wanita cantik, pintar dan berprestasi. Tidak menyesal selama ini sepasang suami istri itu membesarkan dan mendidiknya hingga tumbuh dewasa.
Sementara itu, Mark masih diam-diam mencuri pandang ke arah istrinya. Dia duduk dengan gelisah di kursi taman ditemani Joe dan Suster Kirana.
Kesal karena istrinya tak peka, membuat Mark kesal. Dia meraih gelas berisi sirup yang menyerupai red wine lalu meneguknya hingga tandas tak tersisa.
Barra tertawa lalu berjalan ke arah stand minuman dingin. Setelah membuka tutup botol, dia meneggaknya lalu berucap, "Tuan, apakah saya perlu menghampiri Gladys dan memberitahunya bahwa Anda sedang menunggu?"
Mark mendesah. Tampaknya dia sudah mulai muak melihat tingkah dua orang pria yang sangat menyebalkan ini.
"Kalian benar-benar menyebalkan!" Mark melempar botol minuman yang tergeletak di atas meja, lalu berjalan meninggalkan Barra, Naomi, Joe dan Suster Kirana yang masih tertawa melihat tingkah pria itu.
***
Mark meraih handuk yang tergantung di dinding kamar mandi. Dia baru saja selesai mandi. Setengah jam lalu, pria itu memutuskan kembali ke kamar tanpa berpamitan pada semua orang.
Dia keluar dari kamar mandi, netranya mengamati keadaan sekitar. Sepi, sunyi dan tidak ada tanda-tanda orang lain penghuni kamar itu selain dirinya.
Pria itu melepaskan handuk yang melilit bagian pinggang, membiarkan pahatan tubuh indahnya terekspose. Dia berjalan ke arah lemari dan mencari celana boxer.
"Kamu benar-benar ingin memintaku berpuasa lebih lama lagi. Baiklah, jika itu maupun, aku akan turuti."
__ADS_1
Perlahan, dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menghirup napas dalam dan menghembuskannya secara kasar.
"Seharusnya kamar ini menjadi saksi bagaimana bahagianya kita di malam pernikahan ini, sambil menikmati keindahan cahaya rembulan di luar sana tapi kenyataannya, aku harus tidur sendirian di kamar luas tanpa dirimu!"
"Nasib-nasib, tampaknya kamu ingin bermain-main denganku," ucap Mark.
Kemudian dia menarik selimut, memeluk guling erat-erat. Membayangkan tubuh Gladys yang dipeluk olehnya. Membuat mata pria itu perlahan-lahan terpejam.
Saat matahari sudah berada di cakrawala, Mark tersadar dari tidurnya. Dia melirik ke arah ruang di samping. Kedua bola matanya menangkap sosok istri tercinta tengah terbaring di samping pria itu. Wajah Gladys begitu cantik, memancarkan aura kedamaian, ketenangan dan hasrat untuk selalu melindungi wanita itu.
"Kamu begitu cantik, Gladys. Beruntungnya aku diberikan kesempatan lagi untuk memilikiku untuk kedua kali." Mark mendekati Gladys dan memberikan kecupan ringan di kening. Melihat bibir ranum milik istrinya, membuat hasrat yang selama ini terpendam bangkit dan meminta untuk segera disalurkan.
"Aku tahu kamu sudah kelaparan, tapi please, jangan sekarang. Kamu tidak lihat, istriku sedang tertidur pulas. Dia akan kaget bila tiba-tiba saja kamu berhampur dan memaksanya memuaskan napsumu. Jadi, bersabarlah sedikit lagi," ucap Mark pada sesuatu di bawah sana.
Gladys terlonjak ketika membuka mata, hembusan napas suaminya menggelitik wajah wanita itu. Jarak mereka terlalu intens, membuatnya jadi salah tingkah.
"Aku hanya mencium keningmu saja. Tidak lebih!"
Mark mengalihkan pandangan ke arah lain, lantas beringsut menjauhi tubuh istrinya.
"Maafkan aku jika terlalu lancang menciummu tanpa meminta izin terlebih dulu."
"Oh ya, jam berapa kamu masuk ke kamar? Seingatku, pukul dua belas malam hanya ada aku seorang tapi tiba-tiba saja kamu sudah ada di ranjang yang sama denganku." Mark menyandarkan punggung di kepala ranjang.
"Tepat setelah Kakak tertidur, aku masuk ke dalam kamar. Usai membersihkan diri, aku lantas menyusulmu ke pulau kapuk."
"Oh, begitu..." jawab Mark datar.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.
Episode selanjutnya diperkirakan akan update nanti malam. 🙏