
Zara benar benar merasakan kebosanan saat berada dirumah karena tak melakukan aktifitas apapun dan membuatnya malah semakin mengingat kedua orangtuanya.
Beruntung Imah datang dan mengajaknya membuat kue jadi Zara tidak lagi sedih mengingat kedua orangtuanya.
"Mantap nggak sih rasanya?" tanya Imah saat kue yang mereka buat sudah matang.
"Enak."
"Suami kita pasti seneng nih dibikinin kue kayak gini." kata Imah lagi.
"Tapi kayaknya hari ini pulang malem denk." tambah Imah membuat Zara tersenyum.
"Gara gara mas Sean banyak kerjaan dikantor."
"Iya, tapi mau gimana lagi ya, kita para istri cuma bisa nunggu suami pulang." kata Imah yang baru saja merasakan memiliki suami.
"Masih mending kamu bisa mengajar disekolahan jadi sedikit terhibur."
"Lagian kamu juga ngapain keluar, bukan nya jadi guru Tk sudah impian kamu sejak lama?" heran Imah pada sahabatnya itu.
Zara hanya tersenyum saja menanggapi pertanyaan Imah, mengingat Ia resign karena tak ingin sering bertemu dengan Raisa putri Zayn yang nantinya akan menimbulkan masalah rumah tangganya meskipun terkadang Zara menyesali keputusan nya namun sekali lagi Zara melakukan itu semua demi menjaga keharmonisan keluarganya.
"Si Anya kemarin datang ke pernikahan aku sama cowok ganteng banget, pacarnya ya? tanya Imah penasaran.
"Katanya sih suaminya."
"Lho kapan nikahnya? kok aku nggak di undang?" Imah terlihat sangat terkejut.
"Baru ijab dulu, resepsinya memang belum." jelas Zara membuat Imah mengangguk paham.
"Dia kan juga tinggal dikota kan, bisa nih kapan kapan ngumpul bareng. aku udah save wa nya." kata Imah membuat Zara hanya bisa tersenyum miris karena Zara malah tak menyimpan nomor Anya.
Karena larangan dari Sean membuat Zara tak menyimpan nomor Anya.
"Nanti aku tanya sama Mas Sean dulu boleh nggak ketemu sama Anya."
Imah terkejut, "Suami kamu suka nglarang nglarang ya?"
"Eh bukan gitu, ada alasan nya kenapa mas Sean kayak gitu."
"Apa alasannya?"
"Ada lah pokoknya." Zara tak ingin menceritakan pada Imah membuat Imah mendengus sebal.
Selesai sholat isya, Zara mendengar suara mobil Sean sudah datang. Zara bergegas menutup alquran yang baru selembar Ia baca dan segera melipat mukenanya.
Zara berjalan membuka pintu dan benar saja memang Sean sudah pulang.
"Katanya pulang malam?" Zara mengambil tangan suaminya lalu menciumnya.
"Kasian istriku kesepian dirumah." kata Sean mencium kening istrinya.
"Nggak mas, tadi seharian ditemenin sama Imah." kata Zara terdengar riang membuat Sean bernafas lega karena tak lagi melihat raut sedih diwajah istrinya itu.
"Happy dong istriku."
__ADS_1
Zara langsung mengangguk, "Aku tadi buatin kue buat mas jadi sekarang mas mandi trus makan malam biar aku angetin dulu makanannya."
"Siap ibu negara."
Zara terkekeh mendengar balasan suaminya itu.
Selesai mandi, Sean bergegas ke bawah dimana sudah ada Zara menunggunya dimeja makan.
"Ini apa sayang?"
"Namanya nagasari mas, udah pernah makan belum?"
Sean menggeleng pelan dan langsung membuka bungkusan daun pisang yang disebut kue nagasari itu.
"Enak..." puji Sean kala sudah mencicipi kue nagasari buatan Zara.
"Tadi yang bikin aku sama Imah."
Sean mengangguk, Ia langsung memberikan piring pada Zara agar di isi oleh Zara karena Ia sudah merasakan lapar luar biasa.
"Laper banget mas?" tanya Zara melihat suaminya begitu lahap menikmati makanan nya.
"Laper trus makan masakan istriku bikin kalap."
"Gombal." Zara tersenyum dan pipinya terlihat merona membuat Sean gemas.
Selesai makan malam, keduanya duduk di balkon kamar, menikmati pemandangan malam yang hampir 2 minggu tak mereka rasakan.
"Udah lama banget nggak ngerasain udara malam di sini ya mas." kata Zara merasakan tenang saat berada disini bersama suaminya itu.
"Ck, gombal aja terus!"
Sean terkekeh, "Padahal serius."
Keduanya dikejutkan oleh ponsel Sean yang berdering. Zara segera berdiri untuk mengambilkan ponsel yang ada dinakas.
"Siapa?" tanya Sean.
"Nomor baru mas." Zara segera memberikan ponselnya pada Sean.
"Assalamualaikum." ucapan salam Sean saat baru saja menerima panggilan dari nomor yang tak dikenalnya itu.
Namun hening tak ada jawaban dari sana membuat Sean akhirnya memutuskan panggilan.
"Kenapa dimatiin mas?" heran Zara.
"Nggak penting, lagian nggak kenal juga." balas Sean meletakan ponselnya.
"Ya kali aja penting mas."
"Kalau penting nanti paling telepon lagi."
Dan benar saja, tengah malam saat Zara dan Sean terlelap, ponsel Sean kembali berdering membuat Sean mau tak mau akhirnya menjawab panggilan yang entah dari siapa itu.
"Siapa?" tanya Sean kesal karena sedari tadi menelepon dan menganggu tidurnya itu.
__ADS_1
"Se..." terdengar suara wanita yang sangat Sean kenali membuat Sean yang tadinya mengantuk kini membuka matanya lebar lebar.
"Se... ini aku Sella." suara itu kembali terdengar membuat Sean menatap kearah Zara yang masih terlelap dan berjalan menjauh dari ranjang takut Zara mendengar dan mengetahui jika Sella menelepon.
"Ada apa?" suara Sean terdengar dingin.
"Bisakah kau menolongku Se? aku butuh bantuanmu." kata Sella terdengar sekali suara Sella pelan dan berbata.
"Maafkan aku Sel, tapi aku sudah menikah dan tak ingin istriku salah paham." balas Sean yang sebenarnya tak tega namun Ia juga harus menjaga perasaan istrinya Zara.
"Aku mohon Se... hanya kamu yang bisa menolongku." Kata Sella lagi terdengar merintih.
"Sekali lagi maafkan aku." kata Sean langsung mematikan panggilan sepihak dan memblokir nomor baru Sella agar tak bisa menghubunginya lagi.
Sean yang tadinya berada dibalkon, kembali memasuki kamar dan terkejut karena Zara bangun sedang menatap ke arahnya.
"Telepon dari siapa mas?"
"Biasa dari Naya masalah kerjaan kantor." balas Sean bohong yang langsung saja diangguki Zara.
"Mau kemana?"
"Tahajudan yukk mas." ajak Zara.
Sean mengangguk dan mengikuti langkah istrinya.
Selesai sholat, Sean melihat istrinya masih khusyuk berdoa membuat merasa bersalah karena baru saja telah membohongi istrinya.
"Ada apa mas?" tanya Zara kala Sean menatapnya aneh.
"Sebenarnya..."
"Hmm?"
"Sebenarnya tadi yang telepon bukan Naya tapi Sella."
Deg... seketika raut wajah Zara berubah pucat.
"Tumben, apa ada yang penting," tanya Zara mencoba bersikap biasa.
"Dia meminta bantuan padaku tapi aku menolak dan menyuruhnya untuk tidak mengangguku lagi."
"Ck, seharusnya jangan seperti itu mas."
Sean mengenggam tangan Zara, "Memang harusnya seperti ini karena aku tak ingin masa lalu datang dan menganggu hubungan kita." kata Sean membuat Zara tersenyum lega.
Zara percaya dengan suaminya jika suaminya tak akan mengkhianati dirinya.
"Sekarang lega udah cerita sama kamu." kata Sean.
"Coba aja tadi nggak diajak sholat pasti masih bohong." cibir Zara yang langsung membuat Sean terkekeh.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komeeen
__ADS_1