
Zara terdiam, sesekali Ia menatap ke arah Sean yang masih saja acuh padanya.
Selesai acara, Zara memang kembali kerumah untuk berpamitan pada orangtuanya dan sekarang mereka sedang berada didalam mobil perjalanan pulang ke kota.
Sejak pulang dari acara, Sean hanya diam saja. tidak mengatakan apapun lagi, hanya menjawab jika Ricky atau orang lain bertanya, sementara Zara diacuhkan begitu saja.
Zara menghela nafas berkali kali, Ia ingin menjelaskan pada Sean jika apa yang Sean lihat hanya salah paham.
Ia sama sekali tak ada niat untuk mengobrol dengan Panji, Ia tak sengaja bertemu dan Panji yang mengajaknya berbicara. Zara sudah berusaha menghindar namun nyatanya Panji tetap kekeh mengajaknya berbicara.
Mobil yang Ricky kemudikan berhenti disebuah restoran, Sean langsung keluar begitu saja tanpa mengajak Zara,
"Non Zara makan malam dulu." kata Ricky.
Zara menggeleng pelan, "Aku sholat magrib dulu saja."
Zara keluar membawa mukena nya, Ia lalu mendekati satpam dan menanyakan dimana mushola.
Zara segera berjalan menuju mushola setelah mengetahui dimana letak musholanya.
Selesai sholat magrib, Zara dibuat terkejut melihat Sean berdiri didepan mushola.
"Mas sudah sholat?" tanya Zara yang hanya diangguki Sean.
Sean berjalan lebih dulu dan akhirnya Zara mengikuti dari belakang hingga keduanya sampai dimeja dimana sudah ada makanan disana.
"Aku masih kenyang mas." ungkap Zara yang sebenarnya Ia tak nafsu makan karena Sean salah paham padanya.
"Apa bicara dengan mantan kekasih bisa membuatmu kenyang?" tanya Sean dengan nada sinis membuat Zara mau tak mau menyantap makanan yang sudah dipesan oleh Sean.
Jika biasanya perjalanan pulang dihabiskan Zara untuk tidur berbeda dengan kali ini, Zara sama sekali tak bisa memejamkan matanya, begitu juga dengan Sean yang tak tidur, matanya sedari tadi sibuk memandang ke arah jalanan.
Sean cemburu, marah... tentu saja Sean merasakan itu. Selesai merokok siang tadi, Sean ingin kembali ke dalam menghampiri Zara namun ditengah jalan melihat Zara berbicara dengan Panji mantan kekasihnya membuat darah Sean mendidih, bagaimana pria itu bisa di sini sementara Sean saja sudah mewanti wanti Ricky agar tak mengundang pria itu.
Meski Sean tahu Zara terlihat tak nyaman berbicara dengan Panji namun tetap saja seharusnya Zara langsung pergi dan tak menanggapi Panji.
Mereka sampai dirumah pukul 10 malam, Zara segera mandi tak lupa sholat isya sebelum akhirnya Ia kini sudah berbaring diranjang. Sementara Sean masih berada didalam kamar mandi sejak tadi dan belum keluar, entah apa yang dilakukan Sean didalam hingga hampir 30 menit lamanya dikamar mandi.
Sean keluar kamar mandi, sudah mengenakan piyamanya dari dalam kamar mandi. Sean menatap ke arah Zara yang juga tengah berbaring sambil menatapnya.
"Nggak sholat dulu mas?" tanya Zara pada Sean yang kini sudah duduk dipinggir ranjang.
"Nggak lah, salah sendiri nggak ditungguin." balas Sean akhirnya berbaring disamping Zara namun memunggungi Zara.
Zara menghela nafas panjang, "Sholat dulu mas..."
Sean berdecak, Ia bangun dari tidurnya dan segera keluar kamar.
__ADS_1
"Nggak apa apa kamu marah mas yang penting tetep sholat." gumam Zara saat Sean sudah tak lagi terlihat.
Selesai sholat, Sean kembali ke kamar. melihat Zara masih belum tidur dan menunggunya.
Sean mengacuhkan dan berbaring memunggungi Zara hingga mendengar helaan nafas Zara lagi.
"Kalau marah jangan lama lama ya mas." Sean mendengar gumaman Zara langsung tersenyum geli sejenak melupakan kekesalan nya.
"Kenapa kalau lama?" Sean berbalik ke arah Zara menbuat Zara terkejut.
"Nggak boleh mas, paling lama marahnya harus 3 hari saja." jelas Zara.
"Ok." Sean kembali berbalik memunggungi Zara membuat Zara melonggo.
"Mas jangan marah dong... kamu cuma salah paham."
"Tadi itu aku nyariin mas trus malah ketemu sama Mas Panji."
"Mas , mas , mas, kenapa manggilnya harus disamain." gerutu Sean.
"Nggak disamain mas, dari dulu emang manggilnya kan gitu."
"Ya udah sana panggil aja mas Panci terus!"
"Ya Allah mas, iya maaf aku nggak akan manggil mas lagi selain sama mas Sean." kata Zara dengan suara pelan.
Mendengar nada suara Zara terdengar sedih, Sean akhirnya berbalik menatap istrinya yang kini memang terlihat sedih itu.
"Mas cemburu?" tanya Zara dengan raut wajah sumringah.
"Enggak!"
Zara kembali lesu mendengar jawaban Sean.
"Kalau nggak cemburu kenapa juga harus marah."
Sean tersenyum geli hingga akhirnya Ia memeluk tubuh istrinya.
"Masih kesel tapi rasanya udah nggak mau marah lagi."
Zara tersenyum lega, memang waktu terbaik berbicara dengan pasangan saat marah adalah malam hari saat sedang istirahat seperti ini.
"Jangan marah marah lagi mas, sekarang udah balik ke kota, udah nggak bakal ketemu sama ma-eh Panc1i lagi." kata Zara menirukan Sean membuat Sean langsung terkekeh.
"Aku nggak bakal manggil mas lagi ke siapapun, nanti Suamiku marah lagi."
"Memang harusnya gitu, masa aku mau disamain sama orang lain."
__ADS_1
"Iya mas, nggak lagi maaf,"
"Tadi ngomongin apa sama si Panci itu?" tanya Sean akhirnya penasaran dengan percakapan Zara dan Panji.
"Enggak ngomong banyak kok mas, Dia cuma minta maaf sama bilang kalau udah mengikhlaskan aku." jelas Zara membuat Sean langsung berdecak.
"Nggak mungkin banget, pasti dia cuma mau ngibulin kamu aja."
Zara menghela nafas panjang mendengar ucapan Sean, "Jangan suudzon mas, siapa tahu aja memang benar kan?"
"Dibelain kan?" Sinis Sean kembali berbalik memunggungi Zara.
Zara membegap mulutnya, Ia merasa sudah salah bicara.
"Ya Allah mas, maaf enggak gitu."
Melihat tak ada respon dari Sean, Zara akhirnya menyerah dan memilih diam saja."
Paginya saat bangun untuk sholat subuh, Zara pikir Sean tak akan bangun mengingat semalam Sean masih marah padanya. Namun siapa sangka Sean ikut bangun dan menjadi imam nya sholat.
Selesai sholat berjamaah, Zara membaca alquran sebentar dan Sean masih menunggunya disana.
"Mas nggak tidur lagi?" tanya Zara usai selesai membaca alquran.
"Maunya tidur lagi sama kamu."
"Kan habis ini aku mau masak buat sarapan mas." "Biarin Mbok Nah aja yang masak bikin sarapan."
Zara hendak protes lagi namun Ia urungkan karena takut Sean malah bertambah marah lagi.
Keduanya kembali ke kamar dan siapa sangka Sean meminta sepagi ini,
"Udah nggak tahan." gumam Sean menjelajahi setiap inci tubuh Zara.
Zara tersenyum geli, mengingat semalam Sean marah dan pasti sudah menahan diri.
"Udah nggak marah lagi kan mas?" tanya Zara usai mereka selesai bercinta.
"Masih..." jawaban Sean sontak membuat Zara langsung lesu.
Sean terkekeh lalu mencium kening Zara, "Nggak bakal marah lagi kalau kamu nggak ketemuan lagi sama si Panci itu!"
"Ya Allah mas, nggak mungkin lah aku ketemu dia lagi sekarang aku udah dikota mas, dia aja dikampung."
"Ya siapa tahu dia kesini cuma mau ketemu kamu." celetuk Sean membuat Zara hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya.
Over posesif...
__ADS_1
BERSAMBUNG....
jangan lupa like vote dan komen...