
Zara menghela nafas berkali kali melihat Sean kini tidur dan membelakanginya. Zara pikir mood Sean sedang baik jadi dirinya memberanikan diri bertanya pada Sean, berharap Sean mengiyakan permintaan Zara untuk mengajar lagi namun siapa sangka respon Sean malah berbeda. Sean menatap ke arah Zara dengan tatapan kesal dan pergi begitu saja tanpa menjawab.
Zara yang belum bisa tidur hanya bisa menatap punggung Sean dari belakang. Dan siapa sangka Sean berbalik dan terkejut melihat Zara sedang menatap ke arahnya.
"Mas belum tidur?" tanya Zara mencoba bersikap biasa.
"Kenapa kamu mau ngajar lagi? apa kurang uang dari aku?" tanya Sean yang sejak awal menikah sudah memberikan kartu atm dengan nominal yang fantastis.
"Bukan masalah uang nya mas..." balas Zara sambil menghela nafas panjang.
"Aku dari dulu pengen ngajar anak anak Tk, udah mimpi aku dari dulu, cuma karena waktu itu aku nggak bisa masuk di Tk jadi aku masuknya di Smp." jelas Zara.
"Trus tadi Sena nawarin aku katanya temen nya ada yang butuh guru Tk, makanya aku pengen nyoba mas." jelas Zara lagi.
"Ck, jadi gara gara Sena?" kesal Sean.
"Kalaupun mas nggak ngebolehin, aku nggak apa apa kok." Zara terlihat murung.
"Aku hanya takut..." kata Sean, tangan Sean terangkat dan menyentuh pipi halus Zara.
"Aku takut kamu lebih mementingkan pekerjaan kamu dari pada aku." kata Sean lagi.
Zara tersenyum, sekarang Ia jadi mengerti apa yang membuat suaminya kesal "InsyaAllah enggak mas... mas tetep jadi prioritas utama buat aku."
Sean terkekeh, "Jadi ngerayu nih."
Zara ikut terkekeh, "Mas ngizinin?" tanya Zara penuh harap.
"Enggak!" balasan Sean membuat Zara langsung murung.
"Ya sudah mas, asal mas ngizinin aku buat bantu bantu Sena aja." kata Zara menyerah.
Sean kembali terkekeh, merasa sudah berhasil mengerjai istrinya, "Iya aku izinin kamu."
"Izinin gimana mas?"
"Izinin kamu buat ngajar di Tk itu." balas Sean yang langsung membuat mata Zara berbinar.
"Beneran mas?" Zara terlihat girang.
Sean mengangguk, "Tapi inget, aku harus tetep jadi prioritas utama. kalau sampai kamu mulai sibuk dan nggak ada waktu buat aku. kamu harus keluar." ancam Sean.
"Iya mas, InsyaAllah mas tetep jadi prioritas utama."
"Dan lagi..."
__ADS_1
"Lagi apa mas?"
"Jatah malam ini harus double."
Pagi ini Sean dan Zara berangkat ke kampung untuk menengok orangtua Zara. meskipun baru beberapa hari dikota namun Zara sudah sangat merindukan orangtuanya itu.
Namun sesampainya disana, Zara harus dibuat kecewa karena Orangtua Zara pergi ketempat saudara diluar kota diantar oleh sopir Anggara yang berjaga disana. Niatnya Ia pulang ingin memberikan surprise malah orangtuanya yang memberikan surprise untuknya.
"Zara pulang mau ngasih surprise buat Ayah sama Ibu malah nggak ada." keluh Zara didalam telepon.
"Maaf nak, pakde Samad meninggal kemarin jadi kita langsung kesini. mau ngabarin kamu takut sibuk."
"Ya sudah, Ayah sama ibu hati hati ya." kata Zara lalu mematikan panggilan.
Zara meletakan ponselnya disamping ranjang, Ia lalu berbaring dan menutupi wajahnya dengan bantal. Sean yang berada disampingnya sangat mengerti jika istrinya itu sedang sedih.
Sean langsung memeluk istri dari belakang, "Minggu depan kalau aku libur kita datang lagi ya sayang." kata Sean mencoba menghibur.
Tak ada jawaban namun terdengar isakan tangis Zara,
"Apa kamu mau kita nyusul kesana?" tawar Sean membuat Zara membuka bantalnya, terlihat mata Zara memerah menangis.
"Jauh mas, perjalanan bisa setengah hari."
Zara menggeleng pelan, "Besok udah hari senin, aku nggak mau mas bolos kerja."
Sean menghela nafas panjang, "Tapi kamu jangan sedih gini." kata Sean sambil mengusapi air mata Zara.
Zara tersenyum, "Cenggeng banget aku ya mas."
"Iya nih, masa bu guru nangis. nggak mau nanti diketawain muridnya." goda Sean membuat Zara terkekeh.
Karena tak bisa bertemu dengan orangtuanya, akhirnya Zara dan Sean memutuskan berjalan jalan didaerah sana.
Zara mengajak Sean ke waduk yang tak jauh dari tempatnya tinggal. Namun karena cuaca cukup terik membuat Sean mengajak Zara kembali.
"Kita mau kemana mas?" tanya Zara saat berada didalam mobil dan kini Sean lah yang mengemudikan. Awalnya saat berangkat ada Ricky yang menjadi sopir mereka dan sekarang Ricky disuruh menunggu dirumah Zara karena Sean ingin berjalan jalan dengan Zara berdua.
"Nostalgia dulu yuk," ajak Sean membuat Zara terheran.
"Kemana mas?"
Sean tak menjawab dan langsung membawa Zara ke suatu tempat.
Dan Zara sangat terkejut melihat Sean membawanya kembali ke hotel melati.
__ADS_1
"Mau ngapain coba mas kesini?" heran Zara.
"Kan udah dibilang mau nostalgia sayang." balas Sean sambil terkekeh.
"Semalem udah mas." kali ini Zara mengeluh karena memang tak bisa menandingi hasrat Sean yang mengebu.
"Nggak minta sayang, kan dibilang cuma jalan jalan aja." kata Sean sambil terkekeh.
"Udah mendingan kita turun, aku cuma mau ngajak lihat lihat aja."
Zara pun akhirnya pasrah mengikuti kemauan suaminya. Memang benar dari pada dirinya galau dan sedih tak bisa bertemu orangtuanya lebih baik menghibur diri dengan kemauan konyol dari suaminya.
Sean nampak berbicara dengan penjaga hotel dan memberikan beberapa lembar uang ratusan setelah itu Sean berjalan mendekat ke arah Zara.
"Ayo, kita keliling kamar." ajak Sean yang langsung diangguki Zara.
Beruntung hari ini hotel sepi pengunjung jadi Sean dan Zara bebas melihat lihat jenis kamar hotel disana.
"Ini kamar terbagus disini, yang dulu kita tempati. kalau dibandingkan dengan yang lain memang ini yang paling bagus." gumam Sean membuat Zara terkekeh. sangat tak mengerti dengan kebiasaan suaminya itu yang ternyata sekonyol ini.
Biasanya pasangan lain lebih suka ketempat tempat bagus dan romantis namun Sean berbefa malah mengajaknya ke hotel. sungguh tak bisa dipercaya.
..."Pak jangan pak, saya takut hamil."...
Samar samar Zara mendengar suara seseorang yang tak jauh dari tempatnya berdiri membuat Zara penasaran dan berjalan mendekat namun Ia bersembunyi disamping tembok saat ingin melihat suara siapa itu.
"Pak nggak mau, saya takut."
Dengan jantung berdegup, Zara memberanikan diri untuk mengintip. Dan betapa terkejutnya Zara melihat pria yang tak asing untuknya juga suara itu ternyata dari anak gadis yang tak lain adalah muridnya dsekolahan dulu.
Pak Budi, rekan guru yang sudah beristri dan memiliki putra nampak menarik tangan Naila salah satu murid kelas 3 yang cukup pintar disekolahan.
"Nggak usah berisik, kamu ikut saya masuk dan saya akan jamin biaya sekolah kamu sampai lulus." suara pak Budi terdengar membuat Zara membegap mulutnya dan tak kuasa menahan tangisnya. Tak menyangka Pak Budi yang dulu kakak tingkatnya waktu kuliah, juga Rekan guru disekolahan tega melakukan ini dengan anak dibawah umur.
Sean yang curiga dengan apa yang terjadi istrinya pun akhirnya mendekat dan ikut melihat.
Sean langsung mengeluarkan ponselnya, merekam Budi yang masih memaksa Naila, setelah cukup mendapatkan bukti, Sean mengandeng tangan Zara untuk mendekat ke arah mereka.
Budi terkejut dan melepaskan tangan Naila.
"Dasar brengsek!" Sean yang tak bisa menahan diri akhirnya memukul Budi hingga jatuh ke lantai.
BERSAMBUNG....
Jangan lupa like vote dan komenn.
__ADS_1