
Sudah 2 hari lamanya Zara berada dirumah sakit menemani dan merawat Sean. Dan pagi ini Zara baru saja keluar untuk membelikan bubur ayam.
Meskipun Sean tak nenyukai bubur namun Ia harus tetap makan karena dokter melarangnya makan nasi saat ini.
"Kok lembek banget sih buburnya?"
Zara tersenyum geli, setiap kali menyuapi suaminya bubur selalu itu yang dikatakan Sean.
"Tapi enak kan mas."
"Enak dong kan makan nya disuapi sama istriku tercinta." goda Sean membuat pipi Zara merona.
"Pagi pagi udah mulai,"
Sean tersenyum, "Rasanya aku mau sakit terus aja biar bisa dirawat sama kamu."
Zara yang gemas akhirnya memukul lengan Sean, "Kalau ngomong suka sembarangan!"
Sean terkekeh, "Rasanya juga masih kayak mimpi, ngeliat kamu udah pulang, nemenin aku di sini."
Zara tersenyum, "Maaf ya mas, maaf jika sifatku masih kekanakan, seharusnya aku tidak kabur waktu itu."
Sean mengelus kepala Zara, "Nggak apa apa sayang, yang penting sekarang kita udah baikan lagi."
"Padahal aku masih marah, masih kesel sama kamu masih pengen-"
"Aduh duh duh..." Sean mendadak memeganggi perutnya yang dijahit.
"Mas... mas kenapa? ada yang sakit? aku panggilin dokter ya." Zara bangun dari duduknya hendak keluar namun Sean menahan tangan Zara.
"Bukan perutku yang sakit tapi hatiku sakit denger kamu masih kesel sama aku." kata Sean membuat Zara menatap kesal ke arahnya.
Selesai sarapan, dokter datang untuk memeriksa Sean,
"Hari ini sudah bisa pulang, kita lakukan rawat jalan saja." kata Dokter yang memeriksa Sean.
"Kok cepet banget dok pulangnya, padahal masih mau disini." kata Sean cengegesan.
"Mas kamu tuh ya..." Zara benar benar kesal dengan suaminya itu.
"Canda dok." kata Sean.
"Betah banget disini, apa karena suster disini cantik cantik ya." goda Dokter Vano yang membuat Sean melotot dan menatap takut ke arah Zara.
"Ohhh jadi karena itu." gumam Zara masih menatap kesal suaminya.
"Susternya yang paling cantik cuma ada satu dok, yang bikin saya jatuh cinta setiap hari." kata Sean.
"Yang mana?" dokter Vano tak menyangka godaan nya dianggap serius oleh Sean membuat dokter Vano tak enak dengan Zara.
"Itu tuh yang ada dibelakang dokter, suster pribadi saya." jelas Sean yang langsung membuat dokter Vano terkekeh sementara wajah Zara terlihat merah padam menahan malu.
__ADS_1
Sementara itu dikantor, Zayn terlihat kesal karena ini kali ketiganya Zayn datang ke kantor Sean dan tidak bertemu dengan Sean.
"Apa masih dikampung sampai tidak ngantor lagi?" tanya Zayn pada Naya sekretaris Sean.
"Maaf pak, saya tadi sudah menghubungi sekretaris bapak untuk menjelasan perihal alasan Pak Sean tidak ke kantor." kata Naya yang langsung membuat Zayn menatap ke arah Gladis meminta penjelasan.
"Sa saya lupa pak tadi mau bilang ke bapak." kata Gladis sambil cengegesan.
"Jangan bercanda!" sentak Zayn.
"Maafkan saya Pak." Gladis menunduk takut.
"Ck bagaimana ini, apa harus virtual lagi?" tanya Sean.
"Tetap tidak bisa pak."
"Kenapa?"
"Pak Sean sedang sakit saat ini."
Zayn terkekeh, "Apa ditinggal oleh istrinya membuat dia jadi serapuh itu?" ejek Zayn.
"Bukan begitu, pak Sean sakit karena tertusuk pisau seseorang."
"Haaa? siapa yang melakukan nya,"
"Seseorang di masa lalu nya pak Sean." jelas Naya.
"Kita mau makan siang dimana pak?" tanya Gladis saat keduanya sudah berada didalam mobil.
"Apa hanya makanan saja yang kau pikirkan?" kesal Sean pada gladis mengingat Ia bisa datang kekantor Sean karena keteledoran Gladis.
"Maafkan saya pak."
Zayn menghela nafas panjang, Ia lirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan masih pukul 10 pagi, masih terlalu awal untuk makan siang. Zayn terlihat kesal pada Gladis yang hanya memikirkan dirinya saja namun mengenai pekerjaan dia nol.
Zayn kembali dikantornya, Ia mulai disibukan dengan setumpuk berkas yang ada didepan nya.
"Ck, kenapa bisa salah semua seperti ini!" kesal Zayn melihat data yang baru saja dibuat oleh Gladis tidak sesuai.
Zayn mengambil gangang telepon untuk memanggil Gladis,
"Ke ruanganku sekarang!"
Dan tak berapa lama Gladis datang,
"Lihat, menurutmu ada yang salah tidak?" Zayn memberikan berkas itu pada Gladis.
Dengan tangan gemetar, Gladis mengecek data yang Ia buat itu.
"Tidak pak,"
__ADS_1
Zayn terlihat menahan emosinya, "Ya sudah, kembali ke meja mu."
Gladis menurut begitu saja, Ia kembali ke mejanya.
Dan sore harinya, Gladis dipanggil oleh Zayn lagi.
"Maafkan aku Gladis, tapi sepertinya aku tidak bisa melanjutkan dirimu untuk bekerja disini."
Terlihat Gladis terkejut dan menatap ke arah Zayn tak percaya,
"Ta tapi pak, apa salah saya?"
"Banyak sekali kesalahan kamu, pertama kamu tidak disiplin, kedua pekerjaan kamu berantakan dan ketiga saya sudah memperingatkan kamu untuk tidak memakai pakaian seksi tapi kamu tetap memakainya!"
Gladis terlihat menunduk, Ia benar benar tak menyangka Zayn akan memecatnya.
"Bapak bisa melakukan apapun pada saya, emm saya masih perawan belum disentuh siapapun asal bapak jangan memecat saya." kata Gladis membuat Zayn menatap ke arahnya tak percaya.
Dulu saat bersama Anya, Ia ingin melakukan banyak hal namun Anya selalu menolak hingga berakhir memperkosa Anya sementara Gladis yang terang terangan menawarkan diri padanya, tapi dirinya sama sekali tidak berminat.
"Kau pikir dirimu cantik dan seksi hingga menawarkan hal itu padaku." kata Zayn sinis membuat Gladis ingin menangis.
"Dirumah istriku bahkan jauh lebih cantik darimu, lebih pintar memuaskan ku jadi aku sama sekali tidak tertarik padamu." kata Zayn lagi yang benar benar sudah menjatuhkan harga diri Gladis.
"Yang aku butuhkan kau bisa bekerja disini dengan baik namun yang aku lihat kau sibuk merayuku dan pekerjaanmu sangat buruk
"Jadi maafkan aku Gladis, sepertinya pekerjaanmu sampai disini saja." kata Zayn mengakhiri ucapan nya.
"Saya mohon beri kesempatan satu kali lagi, saya janji akan memperbaiki semuanya pak."
"Maafkan saya Gladis, saya sudah tidak bisa. diluar sana banyak sekali calon calon sekretaris yang lebih baik dari kamu meminta kesempatan bekerja disini jadi maaf kamu sampai disini saja." kata Zayn.
Gladis diam sejenak, Ia berjalan keluar tanpa mengatakan apapun pada Zayn, harga dirinya terasa di injak injak oleh Zayn. Ia merasa gagal merayu Zayn, gagal menjadi simpanan pria kaya yang selama ini Ia idamkan.
Sementara Zayn nampak mengendurkan dasinya. sebenarnya Zayn kasihan dengan Gladis namun mau bagaimana lagi, pekerjaan Gladis tidak bagus membuat Zayn melakukan semua ini.
Zayn dikejutkan dengan ponselnya yang berdering, ada satu pesan masuk.
Mas pulang jam berapa?
Nanti pulangnya hati hati
Mas aku mau dibelikan martabak manis toping keju aja, bilang sama abangnya suruh parut kejunya yang panjang panjang.
Makasih mas
Zayn langsung tersenyum membaca pessn dari istrinya itu.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komennn
__ADS_1