
Setelah mendapatkan kabar dari putranya, Anggara bersama Ranti segera menuju ke lokasi kecelakaan untuk memastikan kebenaran dan langsung pergi kerumah sakit setelah mendapatkan keterangan dari polisi.
"Papa... Mama..." Sean yang sedang berada didepan UGD segera mencium punggung tangan kedua orangtuanya yang baru saja datang.
"Bagaimana Zara?"
"Sedang diperiksa dokter lagi, dua kali pingsan." jelas Sean yang langsung membuat Ranti sedih.
"Ya Allah, kenapa harus secepat ini. pasti Zara sangat shock." ucap Ranti.
"Papa sudah minta anak buah Papa buat nyelidiki, apa ini sengaja atau tidak." kata Anggara yang langsung diangguki oleh Sean.
"Dimana mertuamu?"
"Sudah masuk peti Pah, kamar jenazah."
Anggara nampak terkejut, "Apa separah itu?"
Sean langsung saja mengangguki ucapan Anggara.
Setelah melewati beberapa proses dan semalaman berada dirumah sakit akhirnya kedua jenazah orangtua Zara dibawa pulang kerumah duka.
Semalam Zara sempat bangun namun pingsan lagi, dan baru bangun saat sudah sampai dirumah. Sudah banyak orang yang datang, para sanak saudara juga para tetangga yang melepas kepergian Bahar dan Asih yang mendadak itu.
Zara yang sudah sadar dan mencoba menguatkan diri, meskipun masih sangat shock dan belum bisa menyambut para pelayat yang berdatangan.
"Kita makan dulu ya nak, dari semalam kamu belum makan." kata Ranti yang kini duduk disamping Zara sambil membawa makanan. Saat ini Zara sedang berada dikamar ditemani oleh Ranti.
Dengan mata sembab dan sesekali masih menangis, Zara menggelengkan kepalanya lemah.
"Zara nggak laper Ma,"
"Tapi kamu harus makan sayang, nanti sakit." bujuk Ranti sambil mengusap kepala Zara.
Lagi lagi Zara menggelengkan kepalanya pelan, "Nanti saja Ma, Zara mau kedepan, mau nemenin Ayah sama Ibu." kata Zara berdiri dan berjalan kedepan dimana banyak orang diruang tamu.
Kini Zara duduk didepan peti jenazah ayah dan ibunya yang baru saja selesai disholatkan.
__ADS_1
Tangis Zara kembali pecah, membuat semua orang yang berada disana ikut iba dan merasa kasihan pada Zara.
Jenazah mulai diangkat dan akan dimakamkan, Zara yang melihat secara langsung prosesi pemakaman kembali histeris kala peti jenazah masuk ke liang lahat.
Sean yang berada disamping Zara segera memeluk Zara, memberi kekuatan pada istrinya itu.
Kini Zara hanya bisa menatap gundukan tanah kedua orangtuanya, tanpa lagi bisa melihat senyuman nya apalagi memeluknya.
Zara mengelus nisan bertuliskan nama Ibunya, "Kenapa Ibu harus pergi secepat ini. Bagaimana dengan Zara?" gumam Zara.
Zara kembali meneteskan air matanya, Rasanya sesulit ini mengikhlaskan kedua orangtuanya. Apalagi selama ini yang Zara miliki hanya kedua orangtuanya sebelum ada Sean disampingnya.
"Terimakasih Ayah Ibu, atas perjuangan kalian selama ini untuk Zara, maafkan Zara belum bisa membuat Ayah dan Ibu bangga, InsyaAllah Zara akan mencoba ikhlas... semoga Ayah dan Ibu tenang disana." ucap Zara lalu kembali menangis.
Sean yang sedari tadi menemani Zara, kembali memeluk istrinya.
"Kita pulang ya sayang?" ajak Sean setelah cukup lama berada disana.
Zara mengangguk pelan, dengan dirangkul Sean, Zara berjalan pelan keluar dari area pemakaman umum.
"Aku tahu kamu sedih Ra, tapi kamu harus makan. Kata mertua kamu belum makan seharian." kata Imah yang ikut menemani Zara.
"Tapi kamu harus tetep makan, aku suapi ya?" Imah menyendokan nasi dan mulai menyuapkan pada Zara namun sayangnya Zara masih enggan membuka mulutnya.
"Taruh meja aja Ma, nanti aku makan." kata Zara yang langsung diangguki Imah.
"Aku masih ingin sendiri Mah." kata Zara lagi.
"Ya udah aku keluar ya, kalau butuh aku panggil saja." kata Imah yang langsung diangguki Zara.
Setelah Imah keluar, Nampak Sean memasuki kamar Zara. Sean melihat istrinya duduk diatas ranjang sambil memeluk kedua kakinya.
Sean berjalan mendekat ke arah istrinya, "Katanya ada yang belum makan ya sejak semalam." kata Sean sambil mengelus kepala Zara.
Zara hanya tersenyum sedikit dan menatap Sean sebentar sebelum akhirnya menunduk lagi.
"Kalau aku yang nyuapin harus mau lho ya." kata Sean lagi mengambil piring nasi Zara yang ada dimeja.
__ADS_1
Zara langsung menggelengkan kepalanya kala Sean mulai menyuapi Zara.
"Nanti aku makan sendiri mas." suara serak Zara terdengar.
"Sesuap dua suap, syukur syukur sampai habis. masa nggak kasihan sama aku udah mau sampai ini." goda Sean namun nyatanya tak berhasil membuat Zara tersenyum. Zara malah kembali menunduk sambil memeluk kedua kakinya.
Sean tak menyerah, Ia meletakan kembali piringnya dimeja. Dengan kedua tangan nya, Sean mengambil tangan Zara dan mengenggamnya.
"Aku tahu, aku ngerti kamu sedih sayang... tapi please jangan siksa diri kamu seperti ini."
"Kamu harus kuat dan ikhlas karena semua sudah takdir. kalau kamu sedih seperti ini terus pasti disana Ayah dan Ibu juga tidak tenang dan ikut sedih." ucap Sean yang kembali membuat air mata Zara menetes.
"Its okey, semua pasti baik baik saja. masih ada aku disini yang selalu ada buat kamu. ada Mama sama Papa yang pasti sayang sama kamu. ada Sena dan Imah dan masih banyak lagi yang akan tetap sayang sama kamu. jadi please sayang, aku mohon jangan seperti ini." kata Sean yang membuat Zara menangis semakin kencang.
Zara memeluk Sean, pelukan Zara terasa sangat erat menandakan dirinya sedang rapuh dan sangat membutuhkan Sean.
"Sekarang kita makan ya sayang." Sean kembali mengambil piringnya, Ia mulai menyuapi Zara dan akhirnya Zara menerima suapan dari Sean.
"Udah mas.." kata Zara kala baru 3 sendok nasi yang Sean suapkan.
"Dikit lagi ya?"
Zara menggeleng, "sudah..."
Sean tersenyum, "Makasih sayang, makasih karena kamu kuat."
Zara kembali menunduk, meskipun rasanya Ia masih belum ikhlas dan sekuat kelihatannya, namun Zara percaya dengan apa yang Sean ucapkan jika Sean akan selalu ada untuknya dan menjaganya. karena saat ini harapan Zara hanyalah Sean yang nantinya akan melindunginya menggantikan kedua orangtuanya yang sudah tiada.
Sementara itu, Anggara yang sejak pagi berada dirumah duka kini harus kembali ke kota lebih dulu karena ada beberapa masalah yang harus Ia urus, termasuk masalah tentang kecelakaan yang di alami besan nya itu.
Anggara hanya ingin memastikan jika itu murni kecelakaan bukan karena ada pihak lain yang sengaja ingin membunuh kedua besan nya itu. karena mau tak mau Anggara ikut tanggung jawab mengingat sopir yang mengendarai mobil itu juga dari anak buahnya sendiri.
"Jadi bagaimana?" tanya Anggara pada salah satu anak buahnya yang kini sudah menghadap padanya.
"Setelah saya usut kasusnya, sepertinya memang ada pihak lain yang sengaja membunuh mereka."
Anggara nampak mengepalkan tangannya, "Sialan... siapa yang sudah berani melakukan itu pada besanku!"
__ADS_1
BERSAMBUNG....
Jangan lupa like vote dan komeennn