BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
124


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu,


Pagi ini Sean berangkat ke kantor lebih awal padahal ini hark weekend namun banyak pekerjaan hingga membuat dirinya harus lembur, sementara Zara sepagi ini sudah sibuk didapur membuat sesuatu.


"Memangnya Jadi Non?' tanya Mbok Nah yang baru saja memasuki dapur.


"Jadi dong mbok," balas Zara terlihat sumringah.


"Semoga sukses ya Non."


"Aamiiin."


"Kenapa nggak pesen aja Non?" tanya Mbok Nah sambil melihat ke arah tangan Zara yang begitu lihai menghias kuenya.


"Enak bikin sendiri mbok, lagian aku juga dulu sering bikin ini buat Ayah sama Ibu." kata Zara yang mendadak mengingat kedua orangtuanya.


Andai saja Ayah dan ibunya masih ada mungkin mereka bahagia melihat Zara sekarang apalagi sebentar lagi Zara akan menjadi... ah Zara jadi tersenyum saat mengingat itu.


"Mbok Nah malah nggak bisa bikin ginian Non." ungkap Mbok Nah.


"Kapan kapan Zara ajarin deh mbok, ini udah selesai tinggal masuk ke kulkas." kata Zara yang langsung diangguki Mbok Nah.


Sementara itu dikantor, sejak pagi Sean sudah disibukan dengan berkas berkas yang menumpuk dimejanya. Ia sama sekali tak memiliki waktu hanya untuk sekedar bersantai.


Hingga tanpa sadar sudah siang hari dan waktunya Sean untuk makan siang. Sean berharap Zara datang dan membawakan bekal makan siang agar mood nya lebih baik namun sayangnya yang masuk keruangan nya bukan Zara melainkan Ricky.


"Nona tidak bisa datang dan tidak bisa membawakan makan siang Tuan." kata Ricky.


"Kenapa?"


"Saya kurang tahu Tuan.''


Sean langsung berdecak kesal, harapan nya untuk membuat moodnya membaik pun sirna saat Zara tak datang kesini.


"Seharusnya kamu tanyakan alasannya!" kesal Sean.


"Maafkan saya Tuan." Ricky hanya menunduk saja.


"Ya sudah antar aku makan siang keluar." pinta Sean dengan nada kesal membuat Ricky hanya menurut saja.


"Baiklah Tuan."


Kini Sean memasuki restoran untuk makan siang dan mulai memesan makanan sebanyak mungkin karena Ia sedang kesal dengan Zara dan ingin melampiaskan pada makan yang banyak.


"Uhh ada Zomblo juga ternyata disini sayang." suara seseorang dari belakang Sean membuat Sean langsung menengok ke belakang dan bertambah kesal saat melihat siapa orangnya.


Zayn, pria itu nampak datang ke restoran bersama istrinya dan sekarang tertawa mengejeknya.


Sialan, batin Sean.


"Kita temenin aja ya, kasihan." kata Zayn langsung mengajak Anya duduk didepan Sean.


"Ck, pergi saja sana, aku sedang tak ingin berdebat dengan siapapun." kata Sean sedikit menyentak namun malah membuat Zayn terkekeh.

__ADS_1


"Iya mas, kita nyari tempat duduk lain aja." pinta Anya yang merasa tak enak apalagi setelah melihat wajah murung Sean.


"Tidak apa apa, kita temani Zomblo satu ini." balas Zayn santai.


Zayn tetap kukuh berada disana membuat Sean bertambah kesal namun membiarkan saja karena sedang malas meladeni Zayn.


Ketiganya kini menikmati makan siang bersama, Sesekali Sean melihat ke arah Zayn yang begitu perhatian pada Anya apalagi melihat perut Anya yang sudah terlihat membuncit.


"Kapan aku bisa seperti itu." batin Sean saat melihat Zayn mengelus perut buncit Anya.


"Lihat sayang si Zomblo pengen." bisik Zayn yang bisa didengar Sean.


"Sialan," omel Sean dan Segera Sean memalingkan wajahnya karena merasa ketahuan sudah menatap ke arah Zayn dan istrinya.


Setelah dari restoran, Sean kembali kekantor. Mood Sean semakin buruk dan Naya menjadi pelampiasan marahnya saat ini.


"Ganti lagi berkasnya, jangan sampai salah lagi!" kata Sean melempar berkas ke mejanya.


Naya bersabar dan mengambil berkas itu keluar untuk Ia cek kembali.


Hingga waktu pulang pun Sean masih saja memarahi Naya.


"Jam berapa kamu udah siap siap pulang?"


"Kan memang sudah jam nya pulang pak." balas Naya merasa heran dengan bosnya yang seharian ini hanya marah marah.


Sean melirik ke arah jam dinding dan memang sudah waktunya pulang. Tanpa mengatakan apapun lagi, Sean segera pergi dari meja Naya.


"Dasar aneh." gerutu Naya saat Sean sudah menjauh.


"Non Zara sudah tidur Tuan."


Sean terkejut, karena ini masih pukul 8 malam padahal biasanya Zara tidur pukul 10 malam.


"Apa dia sakit?" Sean mulai terlihat kesal.


"Tidak Tuan, Non Zara baik baik saja."


Sean hanya berdecak lalu segera naik ke atas. Sean membuka pintu kamar dan melihat Zara memang sudah terlelap diranjang mereka.


Sean mendekat ke arah Zara, Ia mengecek suhu tubuh Zara namun sepertinya Zara baik baik saja.


"Ck ngeselin." gerutu Sean segera mandi dan makan malam sendiri tanpa ditemani Zara.


Sean kembali ke kamar setelah sholat isya, Ia berbaring memunggungi istrinya karena masih sangat kesal. Seharian ini pekerjaan nya sangat banyak juga melelahkan dan Ia berharap istrinya ada untuknya untuk sekedar melepas penat namun malah dirinya merasa diacuhkan oleh Zara.


Tanpa terasa Sean sudah terlelap memasuki ke alam mimpi.


Setelah merasa lama terlelap, tidur Sean mendadak terusik mendengar suara Zara.


Selamat ulang tahun


Selamat ulang tahun

__ADS_1


Selamat ulang tahun mas Sean semoga panjang umur.


Suara Zara bernyanyi lagu ulang tahun membuatnya bangun dan terkejut melihat Zara sudah didepannya sambil membawa kue ulang tahun.


"Kamu tahu aku ulang tahun?"


"Ya tahu dong mas, masa suaminya ulang tahun aku nggak tahu."


"Jadi seharian kemarin kamu ngerjain aku?"


Zara terkekeh, "Gimana mas kesel nggak?"


Sean yang gemas mencubit pipi Zara, "Udah berani nakal ya sekarang."


Zara kembali tersenyum, "Tiup lilin nya trus make a wish."


Sean memejamkan mata untuk berdoa dan segera meniup 4 lilin yang menancap di kue.


"Yeyeye, selamat ulang tahun mas Sean." Zara meletakan kuenya dan langsung memeluk suaminya itu.


"Ya Allah, nggak nyangka istriky ternyata sweet banget." gumam Sean membuat Zara tertawa.


"Maaf ya seharian udah bikin mas kesel." kata Zara merasa bersalah.


"Ck, masih kesel sih." Sean pura pura ngambek.


Cup,


Zara langsung mencium pipi suaminya, "Sekarang masih kesel?"


Sean tersenyum lalu memanggut bibir Zara cukup lama, "Aku kalau sama kamu mana bisa sih marah lama."


"Gombal."


Sean terkekeh dan memeluk istrinya.


Setelah melepaskan pelukan, Zara memberikan Sean bungkusan kotak kecil.


"Kado buat mas, semoga mas suka ya."


"Apa ini sayang?"


"Buka aja mas."


Karena penasaran Sean segera membuka kadonya dan terkejut melihat isi bungkusan kecil itu.


"Ini serius sayang? nggak bercanda kan?"


Zara tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan,


"Alhamdulilah." Sean kembali membawa Zara ke dalam pelukan nya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komeen


__ADS_2