
Sean berjalan memasuki ruang meeting dimana semua orang sudah menunggunya, termasuk sang Papa Anggara yang menatap kesal ke arahnya karena terlambat namun Sean nampak santai saja seolah merasa tak bersalah.
Meeting dimulai, Sean menatap ke arah layar dimana ada sekretaris Papa nya yang sedang menjelaskan proyek baru mereka.
Mata Sean memang menatap ke depan, namun kenyataan nya pikiran Sean sedang mengawang jauh.
Cukup lama sekretaris itu menjelaskan hingga akhirnya selesai.
"Jadi bagaimana menurut kamu Sean?" tanya Anggara.
Sean hanya diam saja, tak menjawab namun matanya masih menatap ke depan sambil sesekali tersenyum membuat Anggara sadar jika Sean sedang tidak fokus, pikiran Sean tidak berada disana.
Brakk...
Anggara mengebrak meja, tak hanya Sean yang terkejut namun juga orang orang yang berada di ruangan itu juga terkejut dengan suara gebrakan meja Anggara.
"Bisa bisanya kamu malah asik melamun!" kesal Anggara pada Sean.
Bukan nya takut atau merasa bersalah, Sean malah berdecak "Lagian siapa suruh Papa cepetin cuti aku."
Setelah kesal juga setengah lega mendengar ucapan Sean yang sepertinya sudah tertarik dengan kehadiran Zara. sejak pulang ke kota memang Sean sering berwajah masam. dan sekarang Anggara tahu penyebabnya.
"Ini juga buat masa depan kamu sama Zara!"
Sean kembali berdecak, "Iya tahu iya... tapi nggak gini juga dong Pa." kesal Sean lagi.
"Ck, sudahlah. meetingnya kita tunda nanti sore saja." kata Anggara langsung berdiri dan meninggalkan ruangan meeting.
Melihat Papa nya sudah keluar, Sean pun ikut keluar dan berjalan menuju ruangan nya. sesampainya diruangan Sean duduk dikursi kebesaran nya.
Sean meraup wajahnya frustasi, rasanya kesal dengan dirinya sendiri. dua hari kembali ke kota dan sama sekali tidak fokus dengan pekerjaan karena pikiran nya tertuju pada Zara Zara dan Zara.
Entahlah, belum genap 1 bulan mereka saling mengenal namun Zara seolah sudah mengambil seluruh dunianya.
Sean masih terbayang, rambut panjang Zara, pipi halusnya juga bibir tipis yang ranum itu membuatnya ingin...
"Arghh sialan! kenapa otak gue akhir akhir ini suka kotor." kesal Sean kembali meraup wajahnya frustasi.
Sean mengambil ponselnya, sejak kembali ke kota dirinya memang belum menghubungi Zara sama sekali, karena sejak kemarin Ia pulang malam dan kelelahan membuatnya belum sempat menghubungi Zara.
Saat Sean hendak mendial nomor Zara, Sean baru ingat jika Zara sudah mulai mengajar dan akhirnya Ia urungkan niatnya menelepon Zara.
Dan Akhirnya Ia malah menelepon Ricky, asisten pribadinya yang Ia tugaskan menjaga Zara dikampung.
"Bagaimana Zara?" tanya Sean saat panggilan nya sudah dijawab oleh Ricky.
__ADS_1
"Begitu? ya sudah jaga Zara baik baik. jangan sampai terjadi apapun." ucap Sean lalu mengakhiri panggilan nya.
Sean meletakan ponselnya dan kembali dengan pekerjaan nya. Baru saja membuka laptopnya ponselnya berdering membuat Sean melihat siapa yang menelepon nya.
Sean mengerutkan keningnya melihat Sella yang meneleponnya. Ahh Sella, bahkan Sean hampir saja melupakan wanita itu karena kehadiran Zara.
"Halo sayang," Suara Sella terdengar saat dirinya menerima panggilan dari Sella.
"Iya..." balas Sean singkat karena jujur Sean merasa sedikit gugup. entah apa yang membuatnya gugup padahal biasanya Ia sangat senang jika mendapatkan telepon dari Sella.
"Ada apa dengan suara kaku mu itu sayang? hmm." Sella nampak terkekeh.
"Apa kamu sudah melupakan ku Sean? kau jarang menelepon ku akhir akhir ini."
"Maaf, aku terlalu sibuk."
"Sibuk berbulan madu dengan istri barumu ya hingga kamu melupakan aku?" tanya Sella membuat Sean hanya bisa menghela nafas panjang.
"kau masih ingat dengan ucapan kita saat diparis kan sayang? cukup memiliki anak dari nya saja dan setelah itu kembali padaku."
"Ya aku ingat." balas Sean dengan suara berat.
"Ohh Sean, aku sungguh mencintaimu." ucap Sella.
Sean hanya diam, terdiam cukup lama hingga dirinya kembali mendengar suara Sella,
"Sampai kapan kamu disana?" tanya Sean.
"Entahlah, aku berharap kamu datang Baby. see you." kata Sella lalu mengakhiri panggilan.
Sean meletakan ponselnya, pikiran nya sekarang sedang kacau. Sella sedang berada di indonesia sekarang. Dirinya ingin datang kesana menemui Sella namun hatinya seakan menolak melarang untuk menemui Sella.
Sean memanggil Risa sekretarisnya untuk datang keruangan nya,
"Bapak memanggil saya?" tanya Risa memasuki ruangan Sean.
"Bacakan jadwal ku hari ini dan besok!"
"Baik Pak." Risa segera membuka tab nya.
"Untuk hari ini hanya melanjutkan meeting dengan Pak Anggara dan untuk besok pertemuan bisnis dengan orang Rajawali pak."
"Jam berapa pertemuan untuk besok?"
"Pukul 2 siang setelah makan siang dihotel Wahi-"
__ADS_1
"Sudah cukup, kamu keluar!" kata Sean memotong ucapan Risa.
"Baik pak."
Perjalanan jakarta bali sekitar 2 jam dengan pesawat. Sean memikirnya jika dirinya berangkat setelah meeting dengan Papa nya mungkin bisa berada di bali semalaman tanpa membatalkan jadwal pekerjaan nya.
Besok paginya dirinya bisa pulang dan bisa bertemu dengan pihak Rajawali.
Sean tersenyum setelah mendapatkan ide itu. Ia mengambil ganggang telepon nya,
"Risa, pesan kan tiket untuk ke bali setelah meeting dengan Papa."
Sore setelah meeting, Sean berangkat ke bandara untuk menemui Sella di bali. Beruntung setelah pulang dari kampung Sean sudah tidak tinggak bersama orangtuanya, Ia sudah menempati rumah baru yang nantinya akan menjadi rumahnya bersama Zara jadi jika dirinya tak pulang pun orangtuanya tak akan tahu.
Sesampainya di bali, Sean mendatangi Villa yang Ia belikan untuk Sella namun Sean harus terkejut karena sesampainya di Villa itu kosong tak nampak keberadaan Sella disana.
"Ada dia menginap di hotel?" batin Sean langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Sella dan malah berakhir membuat Sean kesal karena nomor Sella tidak aktif.
Sean akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak, makan malam sambil menunggu ponsel Sella aktif.
Hingga Sean akhirnya ketiduran dan baru bangun saat ponselnya berdering.
"Maaf Sean aku baru saja selesai pemotretan." suara Sella terlihat lelah.
"Kamu dimana? aku sudah berada di bali, di villa kita."
"Benarkah? kamu datang ke bali?" tanya Sella nampak senang.
"Iya, aku datang. sekarang kamu dimana?" tanya Sean lagi.
"Ohh maafkan aku Sean, aku terpaksa membohongimu karena aku ingin tahu apakah kamu masih mencintaiku atau tidak.
"Sekarang aku masih berada di paris, maafkan aku sean dan terimakasih kamu masih mencintaiku." kata Sella tanpa merasa bersalah.
Sean terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia mengakhiri panggilan tanpa mengatakan apapum lagi pada Sella.
Bodoh, bukan kah dia sangat bodoh?
Dirinya yang sibuk masih menyempatkan untuk datang ke bali hanya untuk di tipu oleh Sella? rasanya Sean ingin tertawa saat ini juga.
"Sialan!"
Sementara ditempat lain, Sella nampak tersenyum puas karena Sean nyatanya masih mencintainya. Sella memang membohongi Sean hanya untuk melihat apakah Sean datang dan nyatanya Sean datang. Sean memilihnya.
"Dia milik ku, sampai kapanpun akan jadi milik ku."
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komen...