
Zara membolak balikan badan nya, sudah hampir satu jam lamanya dia berbaring di ranjang namun juga tak kunjung terlelap.
Pikiran Zara kalut karena memikirkan Sean yang kini sedang jauh disana.
Ternyata jauh dari suami itu rasanya tidak enak meskipun Zara juga sedang kesal namun Ia malah rindu pada Sean.
Tak berbeda jauh dari Zara, Sean yang baru saja sampai dan langsung istirahat tidak bisa memejamkan matanya, Ia juga merasakan hal yang sama dengan Zara, rasanya tak nyaman berada jauh dari istrinya karena biasanya memang mereka selalu bersama.
Sean melihat ke arah jam dinding sudah pukul 3 pagi dan Ia sama sekali belum tidur, Sean mengambil ponselnya lalu mendial nomor Zara.
Sean melakukan panggilan video dan tak berapa lama Zara menerima panggilan itu. Sean melihat istrinya kini mengenakan mukena, seperti habis sholat.
"Udah sampai mas?"
"Belum."
Zara menatap Sean lekat lekat, " Kok udah dikamar." kata Zara yang langsung membuat Sean terkekeh.
"Kamu harus tanggung jawab!"
"Kenapa mas?" heran Zara.
"Aku nggak bisa tidur nih," Ungkap Sean yang langsung membuat Zara tersenyum.
"Ambil wudhu, sholat trus ngaji. nanti ngantuknya datang." kata Zara.
"Kamu juga nggak bisa tidur kan?" tanya Sean penasaran.
Zara mengangguk pelan, "Rasanya aneh jauh sama mas padahal kemarin juga sempet jauh ya pas mas ke paris."
Sean tersenyum mendengar balasan istrinya juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Ia rasakan, "Apa aku kesana sekarang buat jemput kamu?"
Zara mengulum senyum dan langsung menggelengkan kepalanya, "Nggak mas, aku masih mau di sini."
Seketika raut wajah Sean berubah masam.
"Ya udah, aku tidur dulu aja kalau gitu." ketus Sean yang langsung diangguki Zara.
"Ya mas, assalamualaikum."
"Wa.alaikumsalam." Sean langsung mematikan panggilan videonya dan melempar ponselnya diranjang.
"Ck, nggak peka banget punya istri." keluh Sean.
__ADS_1
Sean berjalan keluar kamar, melakukan apa yang baru saja istrinya sarankan. Ambil wudhu, sholat dan ngaji, benar saja seketika Sean langsung mengantuk dan terlelap.
Sean bangun pukul 9 pagi, kepalanya terasa pening karena dirinya kurang tidur. Sean langsung mandi dan bersiap ke kantor karena Naya sudah mengebom dirinya dengan panggilan suara yang sedari tadi tak dijawabnya.
"Lho saya pikir, Nona juga ikut pulang." kata Mbok Nah saat Sean turun dan menyeruput segelas susi buatan Mbok Nah.
"Zara masih di kampung, masih nggak mau diajak pulang." ungkap Sean mengambil sepotong roti yang sudah di siapkan.
Mbok Nah mengangguk saja, Ia tak ingin bertanya lebih lanjut masalah majikan nya itu.
"Mbok, tolong nanti bersihkan barang barang Sella yang ada dikamar ya, buang saja semuanya. kemarin cuma sempet bakar fotonya aja yang lain belum." kata Sean membuat Mbok Nah terkejut.
Mbok Nah menundukan kepalanya, "Maaf Den, sebenarnya..."
"Sean udah tahu mbok, nggak apa apa sekarang malah lega Zara sudah tahu semuanya."
Mbok Nah tersenyum, "Jadi Aden sudah move on nih dari Non Sella."
Sean tersenyum dan mengangguk, "Alhamdulilah Den," Mbok Nah terlihat senang sekali mengetahui Sean sudah move on dari Sella.
"Aku berangkat sekarang mbok." ucap Sean lalu berjalan meninggalkan meja makan.
"Hati hati Aden."
"Batalkan semua pertemuan hari ini, aku sedang tidak ingin bertemu siapapun." kata Sean sesampainya dimeja Naya.
"Tapi Bapak harus menemui pihak Rajawali siang ini, jika tidak mereka akan membatalkan kontraknya." jelas Naya terlihat frustasi.
"Ck, ya sudah aku nanti akan datang," kata Sean lalu berjalan memasuki ruangannya.
Sementara dikampung, Zara baru saja pulang dari jalan jalan pagi bersama Asih ibunya.
Zara kini duduk diruang tamu dimana sudah ada Bahar yang sedang asyik membaca koran.
"Kamu mau pulang kapan?" tanya Bahar melipat korannya.
"Belum tahu yah."
"Jangan lama lama nduk, ingat kewajiban kamu." Asih yang ada disamping Zara mengingatkan.
"Rasanya Zara masih mau disini." ungkap Zara dengan kepala menunduk.
"Apa kamu masih kesal dengan Sean?"
__ADS_1
Zara menggeleng pelan, "Tidak Ayah, hanya saja Zara masih ingin di sini."
"Lalu bagaimana dengan kewajiban kamu sebagai seorang istri? siapa yang akan mengurus suamimu disana?" tanya Bahar membuat Zara terdiam.
"Ayah tahu kamu masih sedih, kamu kesal karena merasa dibohongi tapi bukan kah semua sudah berlalu? bukankah sekarang Nak Sean hanya milikmu? lalu apa masalahnya nduk," tanya Bahar lagi yang membuat Zara masih terdiam.
"Tidak masalah jika marah tapi Ayah mohon jangan sampai terpisah seperti ini. jangan melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang istri."
"Ya sudah nanti Zara pulang." jawab Zara dengan suara pelan.
"Bukan kami ingin mengusirmu nduk, kami hanya tak ingin kalian terpisah lama dan hubungan kalian menjadi tidak baik." kata Asih yang langsung diangguki Zara.
"Zara juga tidak bisa berpisah lama dengan mas Sean."
"Kangen kan?" goda Bahar membuat Zara tersipu malu.
"Ayah, jangan digodain kasihan Zara malu." kata Asih mengingatkan.
"Ck, biar cair aja suasananya, Ayah nggak mau nanti dianggap marah padahal Ayah nggak lagi marah cuma mau menasehati aja." Jelas Bahar.
"Makasih Ayah Ibu, mau menasehati Zara agar Zara bisa menjadi istri yang baik untuk mas Sean." ungkap Zara merasa bahagia.
"Sudah kewajiban kami nduk."
Zara pulang ke kota pukul 11 siang dengan diantar oleh sopir kiriman dari Anggara yang berjaga dirumah Zara.
Zara sampai dirumah pukul 4 sore namun Sean belum pulang dari kantor. Tadinya Zara pikir Sean sudah dirumah mengingat malam ini Sean harus berangkat ke luar kota untuk urusan bisnis.
"Tadi Aden berangkat ke kantor kesiangan Non jadi mungkin pulang larut."
Zara terdiam mendengar penjelasan Mbok Nah membuatnya merasa bersalah karena dirinya Sean jadi kesiangan.
"Maaf ya Non, gara gara mbok Nah malah jadi salah paham kayak gini." ucap Mbok nah merasa bersalah.
"Nggak apa apa Mbok, Zara cuma agak terkejut dengan penjelasan mas Sean jadi butuh waktu sendiri." ungkap Zara.
"Tapi Non tenang saja, sekarang Aden sudah move on kok dari Non Sella, tadi pagi saja Mbok disuruh bersihin barang barang yang ada dikamar itu buat dibuang." jelas Mbok Nah membuat Zara tersenyum lega mendengarnya.
Zara segera naik ke atas untuk mempersiapkan baju serta keperluan Sean karena malam ini Sean akan berangkat ke luar kota.
Pintu kamar terbuka, Zara menoleh dimana sudah ada Sean yang berdiri disana menatap ke arahnya setengah terkejut.
Wajah Sean terlihat kusut dan seperti kelelahan kurang tidur.
__ADS_1
"Sayang... kamu pulang?" tanya Sean terlihat senang lalu menghambur ke pelukannya.