BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
26


__ADS_3

Selesai sholat Isya berjamaah dan makan malam, Sean mengajak Zara memasuki kamar karena Asih dan Bahar juga sudah beristirahat dikamar.


Sean duduk dipinggir ranjang, menarik tangan Zara dan membawanya ke pangkuan Sean. Dengan gerakan pelan, Sean melepaskan jilbab Zara. Tak bosan bosan Sean memandangi wajah cantik Zara tanpa jilbab. Wajah cantik tanpa jilbab yang hanya dirinya saja yang bisa melihat.


"Apa pernah ada pria lain yang melihatmu tak mengenakan jilbab?" tanya Sean lalu mencium pipi Zara.


Zara menggeleng pelan, "Satu satunya yang melihat hanya Ayah dan sekarang Mas." balas Zara dengan jantung berloncatan karena pandangan mata dari Sean yang begitu teduh untuk Zara.


Sean tersenyum bangga, Ya dia menjadi pria pertama dan satu satunya yang bisa memiliki Zara sepenuhnya.


"Terimakasih, sudah menjaga nya untuk ku." kata Sean sambil mengelus pipi Zara.


Zara hanya tersenyum.


Masih memandangi Zara, Sean mengelus rambut Zara hingga tangan nya sampai ke leher Zara. Sean yanhmg sudah tak tahan akhirnya mengecup leher Zara hingga membekas kemerahan.


"Just only mine." bisik Sean lalu membaringkan tubuh Zara diranjang.


Sean melepaskan kancing piyama Zara satu persatu hingga semuanya terlepas. Tak sampai di situ, Sean melepaskan semua yang dipakai Zara hingga kini Zara sudah polos tanpa sehelai benangpun. Sean masih saja terkagum dengan keindahan tubuh Zara.


Dengan mata sayu yang sudah diliputi hawa nafsu, Sean langsung saja memulai permainan panas mereka. Sean meninggalkan jejak di setiap tubuh indah Zara.


Zara memejamkan matanya, merasakan setiap sentuhan bibir Sean diseluruh tubuhnya sambil sesekali Zara mengeluarkan suara aneh yang tidak biasa diucapkan.


"Apa akan sakit lagi mas?" tanya Zara saat Sean sudah bersiap menyatukan mereka.


"Hanya sedikit dan setelah itu kamu tidak akan merasakan sakit lagi sayang." balas Sean langsung ******* bibir ranum Zara. Membawa Zara melayang jauh hingga tak sadar Sean sudah menyatukan milik mereka berdua.


"Masih perih." bisik Zara saat Sean melepaskan tautan bibir mereka.


Sean menyadari memang baru 2kali ini mereka melakukan jadi wajar saja jika Zara masih merasakan kesakitan. Meski begitu, Sean tidak menghentikan kegiatan panas itu, sudah berada ditengah jalan membuat Sean tak bisa untuk berhenti.


Sean kembali ******* bibir Zara saat mendengar suara rintihan Zara hingga akhirnya suara rintihan itu berubah menjadi ******* yang membuat Sean semakin mengebu.


Sean menjatuhkan tubuhnya disamping Zara setelah ronde pertama mereka selesai. Keduanya masih mengatur nafas masing masing.


"Sudah tidak sakit?" tanya Sean yang kini berbalik menghadap ke arah Zara.


"Sudah tidak mas." balas Zara malu malu.

__ADS_1


"Enak kan sayang?" bisik Sean membuat Zara langsung tersenyum malu.


"Malam ini harus sepuasnya karena besok aku sudah kembali ke kota." kata Sean.


"Besok mas?" Zara terlihat tak rela melihat suaminya akan berangkat lagi ke kota.


"Iya sayang, banyak pekerjaan dan aku nggak mau kena omel Papa lagi."


"Iya udah mas." Wajah Zara terlihat sedih.


"Apa aku harus minta Ricky ngomong sama kepala sekolah kamu biar kamu bisa segera resign?"


Zara menggeleng tak setuju, "Nggak perlu mas. nggak sampai satu bulan paling sudah selesai masa kerjaku."


"Ck, tapi tetap saja, menunggu seperti ini rasanya menyebalkan." gerutu Sean.


"Maaf mas, aku hanya ingin bertanggung jawab sampai akhir." kata Zara merasa sangat bersalah.


"Iya aku tahu, sebagai gantinya... aku mau nambah lagi." kata Sean yang kini sudah berada diatas Zara lagi membuat Zara hanya bisa tersenyum pasrah.


Paginya selesai sholat subuh, Zara membantu ibunya memasak didapur sementara Sean mengajak Ayah Zara berjalan jalan keliling kampung menggunakan kursi roda karena kaki Bahar masih belum sembuh total.


Pulang dari jalan jalan, Bahar dan Sean langsung menyantap sarapan buatan Istri istri mereka.


"Belum tahu yah, tapi kepala sekolah akan mengusahakan secepatnya."


"Jangan lama lama Zara, ingat tanggung jawab mu sebagai seorang istri." kata Bahar mengingatkan.


"Ya Ayah, nanti Zara ngomong lagi sama kepala sekolahnya."


Selesai sarapan, Zara membantu Sean bersiap karena sudah ada Ricky didepan.


Zara tampak telaten membantu Sean memasang dasi. Beruntung Zara sempat belajar memasang dasi saat sekolah jadi Ia tak bingung lagi saat memasangkan dasi untuk suaminya.


"Aku usahakan 2 hari datang lagi ke sini." kata Sean sambil memasang sepatu.


"Nggak usah dipaksa mas kalau memang nggak bisa nanti Papa marah lagi." Zara mengingatkan.


"Ck, mau buatin cucu buat Papa nggak mungkin marah." balas Sean sambil tersenyum tengil. Kini Zara sudah terbiasa mendengar ucapan frontal suaminya jadi tidak lagi tersipu malu seperti biasanya.

__ADS_1


Ponsel Sean yang berada di atas meja berdering, membuat Zara segera bangkit dan berjalan mengambilkan ponsel Sean.


"Dari siapa sayang?" tanya Sean membuat Zara melihat siapa yang menelepon Sean.


Deg... jantung Zara berdegup kencang kala melihat nama si penelepon. bukan nama namun emoticon yang diberikan untuk nama kontak itu.


Emoticon berbentuk love yang diberikan untuk nama kontak itu sukses membuat Zara terdiam.


Zara tak menjawab langsung memberikan pada Sean karena tak tahu siapa yang menelepon Sean sepagi ini.


Raut wajah Sean juga nampak terkejut kala melihat siapa yang meneleponnya, namun seketika raut wajah Sean menjadi biasa.


"Oh, ini Mama... ngapain mama telepon pagi gini." kata Sean malah mematikan panggilan.


Zara bernafas lega kala mendengar Sean mengatakan jika itu Mama nya.


"Kenapa nggak diangkat mas?"


Sean tersenyum, "Nggak apa apa nanti juga ketemu." balas Sean.


"Harusnya angkat dulu, siapa tahu penting." kata Zara lagi.


Sean tidak menjawab dan malah menarik tubuh Zara membawanya duduk dipangkuan nya.


"Mas, Ricky udah nungguin didepan." kata Zara sambil menelisik raut wajah Sean yang berubah setelah menerima telepon tadi.


Ingin rasanya Zara curiga namun setelah Sean bilang jika itu Mama nya Zara menghempaskan kecurigaan nya.


"Bentar lah, nanti udah nggak ketemu lagi. masih mau berdua duaan sama kamu." kata Sean menciumi pipi Zara.


Setelah puas, Sean segera berangkat tak lupa mengecup kening istrinya lama.


Zara memandangi mobil suaminya yang kini sudah meninggalkan rumah.


Pikiran nya kini masih kalut memikirkan siapa gerangan orang yang menelepon Sean, apakah benar Mama nya atau...


Sementara itu ditempat lain, Sella nampak membanting ponselnya di ranjang. Ia kesal sangat kesal karena Sean belum menghubunginya lagi. Sejak semalam Sella sudah menghubungi Sean namun ponsel Sean tak aktif dan saat ponsel Sean sudah aktif panggilan malah tidak dijawab.


"Apa kamu harus semarah ini Sean! biasanya kamu tidak semarah ini dengan apapun yang ku lakukan."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2