
Anya menatap ke arah Zayn yang terlihat gugup saat memberikan penjelasan padanya,
"Mas ketemu Zara ditengah malam begini?"
"Iya, dia naik taksi tapi taksinya mogok jadi dia nunggu dipinggir jalan, aku nggak sengaja lihat makanya aku samperin dia dan anterin dia sampai terminal. maafin aku sayang, aku cerita sama kamu karena aku nggak mau nantinya kamu salah paham."
"Tapi yakin deh yank, aku cuma nganter karena kasian nggak ada niatan lain sumpah." Zayn mengacungkan kedua jarinya pertanda dirinya benar benar serius tidak bohong.
Anya menatap Zayn penuh kecewa, Ia lalu memberikan piring yang sudah kotor pada Zayn lalu berbaring memunggungi Zayn.
"Yah kan yah kan, ngambek dah bini gue." celetuk Zayn yang membuat Anya tak bisa menahan geli dan akhirnya tertawa.
Anya kembali bangkit lalu duduk menghadap Zayn, "Mau ngerjain kamu tapi malah kamunya ngelawak."
"Oo gitu, kerjain aja terus. nggak tau aku udah panik beneran." omel Zayn membuat Anya kembali terkekeh.
"InsyaAllah aku udah percaya kok mas sama kamu kalau kamu nggak mungkin jahat sama aku dan calon anak kita." kata Anya yang hanya didengusi oleh Zayn.
"Tapi aku penasaran aja, ada ap Zara tengah malam gini ke terminal?"
"Kayak ya sih pulang kampung, aku juga pensaran tapi nggak berani tanya takut ganggu privasi orang lain tapi keliatan banget kok kalau dia lagi sedih, matanya sembab soalnya." ungkap Zayn.
"Aku jadi kasihan sama Zara.."
Zayn meletakan piring dimeja dekat ranjang, "Kamu kasian nggak sama aku?" tanya Zayn mengambil tangan Anya lalu diletakan dijunior Zayn.
"Aku udah lama banget puasa yank, nahan karena anak kita nggak mau aku deketin. kasihan lho yank aku. kasian bener dah." celetuk Zayn yang mau tak mau membuat Anya terkekeh geli.
Tak menunggu waktu lama, Zayn mencoba mengambil kesempatan dengan membawa Anya ke dalam pangkuan nya, Zayn mulai mengelus paha Anya yang sedari tadi menggoda matanya namun saat Zayn mendekatkan bibirnya hendak mencium Anya, tangan Anya langsung mendorongnya dan Ia berlari ke kamar mandi.
Hoekkk... hoekkk
Zayn bisa mendengar suara Anya muntah dikamar mandi,
"Ya Allah, gini amat nasib gue... harus nahan sampai kapan lagi Ya Allah."
__ADS_1
Sementara itu, Sean terbangun setelah mendengar adzan subuh diponselnya. Ia meraba raba tempat tidur sampingnya sudah kosong.
"Zara sudah bangun." pikir Sean yang akhirnya ikut bergegas bangun untuk mengambil air wudhu agar bisa sholat berjamaah dengan Zara.
Sean turun ke bawah, pergi ke bilik tempat ibadah dan mengerutkan keningnya kala melihat bilik masih gelap belum ada Zara disana.
Sean menyalakan lampu dan memastikan benar benar tak ada Zara disana. Ia lihat mukena Zara juga masih rapi lipatan habis sholat semalam.
Karena belum melihat keberadaan istrinya, Sean pun mengurungkan niatnya untuk sholat, Ia ingin mencari istrinya dan sholat berjamaah dengan istrinya.
Pertama tama Sean mencari didapur namun disana hanya ada Mbok Nah yang sudah mulai membuat sarapan,
"Non Zara kayaknya belum turun Den." kata Mbok Nah yang akhirnya membuat Sean kembali naik ke atas kamarnya.
Sean mencari ke 3 kamar kosong yang ada disamping kamarnya, berharap memang Zara sedang ingin tidur sendiri tidak ingin bersamanya namun di ketiga kamar itu kosong tak ada Zara.
Sean akhirnya mulai panik, Ia mencari ke setiap sudut juga setiap ruangan yang ada dirumah mewahnya namun sama sekali tak menemukan keberadaan Zara.
Sean akhirnya kembali naik ke atas dan memasuki kamarnya. Dengan tangan gemetar, Sean membuka pintu lemari.
Seketika tubuh Sean merosot lemas mengetahui Zara pergi tanpa sepengetahuan nya,
"Apa kamu benar benar kecewa dan sangat marah sampai harus pergi seperti ini sayang." gumam Sean tak kuasa menahan kesedihannya.
Sean bangkit dan berjalan menuju ranjangnya karena tubuhnya mendadak lemas, mata Sean tak sengaja melihat secarik kertas yang ada dimeja.
Buru buru Sean mengambil kertas itu dan membaca isinya,
Mas maafkan aku,...
Aku memang istri durhaka yang tak menurut dengan ucapanmu...
Tapi untuk saat ini aku benar benar ingin mencari ketenangan, aku sedang ingin sendiri.
Maafkan aku... aku harap kamu bisa mengerti.
__ADS_1
Tangan Sean kembali gemetar saat memegangi kertas yang baru saja Ia bawa. Sean masih tak menyangka Zara yang selama ini selalu menurut dengan semua perintahnya bisa menjadi seperti ini.
Semua salahnya... semua salahnya... semua ini terjadi memang karena salahnya, Sean tak henti hentinya menyalahkan dirinya sendiri.
Sean mengambil ponselnya, Ia mencoba menghubungi nomor Zara namun sayangnya nomor Zara sudah tidak aktif.
Sean bergegas menuju ruang kerjanya, Ia melihat rekaman cctv, mencari tahu jam berapa Zara kabur dan betapa terkejutnya Sean mengetahui Zara keluar rumah saat tengah malam, pukul 1 dini hari.
Sean menjambak rambutnya frustasi, Ia benar benar tak menyangka Zara bisa senekat itu, bahkan Sean menjadi khawatir takut terjadi sesuatu pada Zara.
Sean mengambil kunci mobilnya, Ia menuju garasi dan langsung keluar melajukan mobilnya dan masih mengenakan piyama.
Mobil Sean berhenti diterminal, tempat dimana Zara naik bus berharap Zara masih disana. Sean mengelilingi terminal bus itu hingga menjadi pusat perhatian orang orang yang ada diterminal dan lagi lagi Sean harus kecewa karena tak menemukan Zara disana.
"Aku minta jadwal keberangkatan bus menuju kampung Remah." pinta Sean pada pemilik agen bus.
"Pertama berangkat jam 2 pagi, 5 pagi, 8 pagi, 12 siang dan 7 malam."
"Arghh sial!" Sean kembali menjambak rambutnya frustasi,
Dengan tubuh lemas, Sean kembali ke mobilnya. Jika Zara keluar rumah pukul 1 dini hari maka Zara sudah pasti mengambil jadwal bus pada pukul 2 pagi itu dan Sean merasa sangat sia sia sudah berlarian seperti orang gila sepagi ini diterminal.
Sean kembali kerumah, sudah ada Ricky yang standby disana dan nampak terkejut melihat penampilan Sean yang acak acakan.
"Bawa kembali mobilnya ke garasi." kata Sean sambil melemparkan kunci mobil pada Ricky.
"Apa yang terjadi Tuan?" tanya Ricky penasaran melihat Tuan nya keluar sepagi ini menggunakan mobilnya sendiri.
"Kita pergi ke rumah Zara yang ada dikampung setelah ini." kata Sean langsung masuk ke rumah meninggalkan Ricky yang nampak terkejut karena merasa sesuatu telah terjadi diantara Sean dan Zara.
Sean menguyur tubuhnya dengan air dingin agar pikiran nya lebih tenang dan tidak lagi panik.
"Aku harus menyusul kesana, aku harus memastikan istriku baik baik saja dan aku harus membawa Zara kembali kerumah ini, Ya aku harus melakukan itu."
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEENN