BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
49


__ADS_3

Hari minggu adalah hari libur yang sangat dinantikan oleh Zara. Dimana hari ini Sean sudah berjanji padanya akan mengajak Zara pulang kerumah orangtuanya.


Selesai sholat subuh, mereka bersiap dan langsung berangkat agar bisa sedikit lama saat berada dikampung.


"Mas nanti pas pertigaaan sebelum gang masuk kita mampir dulu ya beli bubur." kata Zara mengingat dijalan itu ada penjual bubur campur yang sangat enak. kesukaan Ayah dan Ibunya.


"Bubur Ayam? emang masih ada jam segini?" Sean melirik ke arah jam tangan nya dan melihat sudah pukul 9 pagi. Biasanya bubur ayam ditempat Sean sudah habis dijam segini.


"Bukan bubur ayam mas, bubur campur namanya."


"Baru denger." gumam Sean membuat Zara tersenyum.


"Nanti cobain mas, rasanya manis."


"Paling masih manisan kamu." balas Sean yang langsung membuat Zara tersipu.


"Tukang gombal." cibir Zara dan Sean pun terbahak.


Didepan Ricky hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keromantisan Tuan dan Nona nya sambil membantin kapan dirinya bisa seperti itu bersama pasangan nya.


Setelah memberikan arahan jalan pada Ricky, akhirnya mereka sampai dipenjual bubur campur yang cukup ramai. penjual bubur itu terlihat sudah tua renta namun masih semangat berjualan .


"Yakin mau beli makanan ditempat seperti ini?" bisik Sean membuat Zara mengerutkan keningnya heran.


"Kenapa mas?"


"Keliatan nggak higienis."


Zara menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. Ia tetap mengandeng tangan Sean dan membawanya mendekat.


Sean menatap ke arah panci panci yang berisi bubur warna warni yang belum pernah Ia lihat sebelumnya. Ada yang warna pink, cokelat, putih juga ada bubur kacang hijau, salah satu bubur yang Ia kenali dan sering Ia beli.


"Kamu mau yang mana mas?" tanya Zara.


"Aku nggak usah aja."


"Ck, cobain dulu. aku yakin kamu pasti ketagihan besok."


Sean menggelengkan kepalanya, "Enggak aja."


"Ya udah aku beliin buat Ricky juga." kata Zara membuat Sean berpikir dan akhirnya,


"Kacang ijo nya aja kalau gitu."


"Dikasih candilnya enak lho mas, yang warna cokelat itu bulet bulet kecil." jelas Zara sambil menunjukan ke arah panci yang berisi bubur candil.


"Enggak, kacang ijo aja." mantap Sean yang akhirnya membuat Zara mengangguk.


"Mbah aku mau bubur campurnya 4, yang kacang ijonya 1 ya." pinta Zara pada sang penjual.

__ADS_1


"Sudah lama nggak njajan kesini nduk?" tanya mbah penjual bubur nampak mengenal Zara karena memang Zara langganan bubur disini.


"Iya mbah, sekarang ngikut suami ke kota."


"Alhamdulilah sudan menikah ternyata, jadi sama si Panji anaknya Roni itu?" tebak Mbah penjual bubur membuat wajah Sean masam sementara Zara merasa tak enak.


"Bukan mbah, ini mbah suami saya." Zara memperkenalkan Sean, mbah penjual bubur itu nampak menatap ke arah Sean lalu tersenyum.


"Wah gantengan yang ini ya."


Wajah Sean yang tadinya masam kini menjadi tersenyum dan lebih percaya diri karena dikatakan lebih tampan dari Panji mantan kekasih Zara.


Setelah pesanan mereka jadi, Zara dan Sean kembali memasuki mobil.


"Jadi kamu mengajak ku kesana karena itu tempat langganan jajan kamu sama Panji?" tanya Sean dengan nada kesal.


"Bu-bukan mas, aku malah belum pernah kesana sama mas Panji." jelas Zara terdengar gugup.


"Mas Panji..." Cibir Sean menirukan suara Zara.


"Cucunya mbah minah penjual bubur itu kan salah satu santri ditempat aku mengajar ngaji, mungkin tahu dari dia." jelas Zara tak ingin Sean salah paham.


"Jadi semua orang sudah tahu kalau kamu berhubungan dengan si Panci itu?"


"Panji mas bukan Panci, jangan ganti nama orang kayak gitu, nggak boleh." Zara menasehati.


Zara menghela nafas panjang, sepertinya Ia jelaskan kebenaran pun Sean tak akan percaya karena saat ini Sean sedang kesal padanya jadi Zara memutuskan diam saja.


"Kenapa diam? kamu mau ikutan marah?" Sean tak ingin berhenti.


"Sudah sampai mas, ayo kita turun." ajak Zara dengan suara lembut.


"Ini buburnya buat kamu, dimakan ya." Zara memberikan sebungkus bubur pada Ricky yang berada didepan.


"Terimakasih Non..."


Zara turun dari mobil di ikuti Sean yang masih kesal. Didepan pintu sudah ada Asih yang tersenyum bahagia melihat kedatangan putri dan menantunya itu.


"Kangen banget sama kamu nak." kata Asih memeluk Zara.


"Zara juga kangen sama ibu... Ayah mana?"


Sean mencium tangan ibu mertuanya setelah Zara melepaskan pelukan.


"Itu lagi nonton televisi, pasti Ayah seneng melihat kalian datang. Ayah ... Ayah... ada anak anak datang." teriak Asih.


Bahar terlihat berjalan pelan dibantu tongkat keluar dari kamarnya,


"Ayah udah bisa jalan?" Zara terkejut sekaligus senang melihat perkembangan baik pasca kecelakaan sang Ayah.

__ADS_1


"Alhamdulilah nak, masih pelan pelan."


"Syukur alhamdulilah Ayah." Zara mencium punggung tangan sang Ayah kala Ayahnya sudah duduk di ikuti oleh Sean yang langsung bangkit dan mencium punggung tangan Bahar.


"Kita makan buburnya dulu mumpung masih anget, barusan Zara beli ditempat mbah Minah." kata Zara berjalan memasuki dapur untuk mengambil piring.


"Kebetulan kami juga lagi pingin sama buburnya mbah Minah." kata Bahar terlihat senang.


Zara membuka bubur dan menggantinya di piring yang baru saja Ia ambil.


"Rasanya masih sama enaknya." Asih dan Bahar mulai melahap bubur nya di ikuti Zara sementara Sean masih menatap bubur di piring. Ia mulai membandingkan dengan bubur di piring Zara yang terlihat lebih nikmat dari piringnya yang hanya berisi kacang ijo saja.


"Mas mau coba?" tawar Zara yang langsung diangguki Sean.


Zara menyuapi Sean bubur miliknya, dan terlihat Sean menikmati bubur itu.


"Enak... mau lagi." kata Sean membuat Zara menggeleng dan tersenyum lalu kembali menyuapi Sean.


Tanpa disadari, Asih dan Bahar sedari tadi memandang ke arah mereka yang sedang suap suapan. Asih dan Bahar nampak tersenyum lega melihat keduanya kini lebih dekat dan Zara terlihat bahagia.


"Udah habis mas..." keluh Zara yang baru menikmati bubur miliknya sesuap.


"Ck, mau lagi."


"Tadi aja bilangnya nggak mau." cibir Zara membuat Sean terkekeh dan memeluk gemas istrinya.


Ekhem...


Suara deheman Bahar membuat Sean sadar jika saat ini mereka sedang berada didepan Asih dan Bahar.


"Pengantin baru serasa dunia milik berdua ya." goda Asih sambil terkekeh.


Zara nampak tersipu malu,


"Sudah mau sebulan Bu, sudah bukan pengantin baru lagi." Sean membalas godaan ibu mertuanya.


"Kok nggak terasa cepet banget kalian, rasanya baru kemarin." Bahar ikut menimpali.


Sean dan Zara hanya tersenyum, Ya rasanya memang baru kemarin mereka menikah tapi sekarang mereka bisa sedekat ini.


"Sudah ada tanda tanda nak?" tanya Asih membuat Zara langsung terdiam dan menunduk tahu apa yang Asih maksudkan.


Sementara Sean tersenyum sambil mengelus punggung Zara memberi kekuatan agar Zara tidak down karena Sean tahu Zara sudah sangat berharap bisa segera hamil.


"Kami masih usaha bu, lagipula masih mau menikmati masa masa berdua dulu."


BERSAMBUNG


Jangan lupa like vote dan komen...

__ADS_1


__ADS_2