
Haloooo semua... yang 143 udah dibenerin yaaa... bisa dibaca dullu...
Happy reading semuanya...
Mendengar suara mobil sang suami, Anya yang sedang berada dikamar Raisa segera turun mengajak putri sambungnya itu nenyambut kepulangan Sang Papa.
"Kok tumben pulang sore mas?"
Anya merasa heran dengan kepulangan suaminya yang lebih awal dari biasanya, dan melihat raut wajah Zayn yang kesal membuat Anya mengerti jika telah terjadi sesuatu pada suaminya itu.
"Capek, mau ke kamar dulu."
Zayn melewati Anya dan Raisa begitu saja berjalan menaiki tangga, dan memasuki kamarnya.
"Papa marah ya Ma." Raisa terlihat sedih melihat Papa nya mengabaikan dirinya.
"Enggak sayang, mungkin Papa lagi banyak masalah. Kalau begitu Raisa sama Mbok Jah dulu ya, biar Mama siapin keperluan mandi Papa."
Raisa mengangguk setuju, mengajak Mbok Jah menonton televisi sambil menunggu Papa dan Mama nya turun untuk makan malam sementara Anya menyusul Zayn ke kamar.
Anya memasuki kamar, melihat Zayn tengah duduk dipinggir ranjang sambil menatap kosong kedepan.
"Mandi dulu mas..."
Anya mengambil handuk, hendak memberikan pada Zayn namun Anya dikejutkan dengan banyaknya luka goresan yang sudah mengering ditangan Zayn.
"Astagfirullah, tangan kamu kenapa mas?"
Anya melihat luka tangan suaminya sejenak sebelum Ia berlari untuk mengambil kotak p3k.
Setelah membersihkan dengan alkohol, Anya meneteskan obat merah pada luka suaminya itu.
"Kenapa bisa kayak gini mas? kamu berantem sama siapa?" tanya Anya.
Zayn hanya diam, Ia mengingat jika tangan nya terkena percikan kaca botol yang Ia lemparkan pada Eddy.
"Mas..."
"Ck, nggak sengaja tadi pecahin gelas dikantor."
"Kamu bohong."
Zayn menatap Anya kesal, saat ini dirinya butuh ketenangan tanpa ada pertanyaan apapun namun Anya begitu cerewet menanyakan semuanya.
"Ya sudah kalau nggak percaya." Zayn mengambil handuk yang ada disampingnya lalu meninggalkan Anya memasuki kamar mandi.
"Sebenarnya kamu kenapa mas? nggak biasanya kayak gini." gumam Anya merasa sedih karena ini kali pertamanya Zayn acuh padanya setelah mereka menikah.
Sikap acuh Zayn kali ini tidak hanya pada Anya namun juga pada Raisa putrinya. saat makan malam, Raisa bercerita banyak hal pada Zayn dan Anya namun hanya Anya yang menanggapi cerita Raisa, sementara Zayn hanya diam saja bahkan sama sekali tidak mengubris.
__ADS_1
"Papa kok diem sih, Papa marah sama Raisa?" tanya Raisa dengan wajah cemberut.
"Papa dengerin dari tadi, udah cerita lagi aja." balas Zayn.
"Enggak mau ah, Papa gitu nggak mau ikut cerita." ungkap Raisa mulai kesal karena merasa Papa nya tidak seperti biasanya.
"Ya sudah, Papa juga mau tidur. udah ngantuk." Zayn berdiri, Ia sempat mencium kening Raisa sebelum pergi meninggalkan meja makan.
"Papa sekarang gitu, nggak sayang lagi sama Raisa hiks... hiks..." Raisa mulai menangis membuat Anya kasihan melihatnya.
"Sayang, jangan nangis. Papa nggak marah dan Papa sayang sama Raisa, mungkin Papa lagi capek jadi kayak gitu."
Raisa menghentikan tangisnya, "Padahal Raisa nggak nakal."
Anya mengelus kepala Raisa, "Sudah, besok Papa pasti udah nggak jutek lagi. sekarang kita diemin Papa dulu biar tenang dulu."
Raisa mengangguk setuju, "Mama tidur sama Raisa aja ya, jangan sama Papa."
"Iya nanti Mama ngeloni Raisa aja."
Selesai makan malam Anya segera mengajak Raisa ke kamar dan mulai menemani tidur Raisa.
Sementara dibalkon kamar, Zayn tengah duduk sambil menghisap rokoknya. Tanpa Zayn sadari Ia sudah menghabiskan 6 biji rokok. Saat ini pikiran Zayn memang sedang kacau karena bertemu dengan Edward yang kini menjadi Eddy.
Rekan kerja juga sudah Ia anggap sebagai sahabat nyatanya tega mengkhianati nya, tega memperkosa Nisya yang tak lain adalah istrinya. Sungguh mengingat itu semua sangat menyakiti Zayn bahkan hukuman yang Ia berikan untuk Eddy tidak akan bisa membayar dendamnya.
Seharusnya Ia yang menghabisi Eddy, seharusnya dengan tangan nya Ia bisa membunuh Eddy. Jika saja Anya sedang tidak mengandung, mungkin Eddy sudah mati ditangan nya.
Ddrtttt.... ponsel Zayn yang berada disampingnya bergetar membuat Zayn segera menerima panggilan masuk yang berasal dari anak buahnya.
"Bos, kita apakan setelah ini?"
"Biarkan saja, kalian nikmati saja tubuhnya, jangan ada yang memberinya makan, biarkan seperti itu sampai mati."
"Baik boss."
Zayn kembali meletakan ponselnya di samping setelah panggilan berakhir.
Zayn melirik ke arah jam dinding, sudah hampir 2 jam dirinya duduk disini dan Anya belum masuk ke kamar.
"Apa tidur dikamar Raisa?" batin Zayn.
Zayn segera berdiri untuk menyusul Anya yang mungkin sedang marah padanya, Zayn sadar dirinya memang sudah sangat keterlaluan pada Anya juga Raisa.
Zayn membuka kamar Raisa, dan benar saja Anya tertidur dikamar Raisa sambil memeluk Raisa.
Zayn memasuki kamar Raisa, Ia mendekat dan duduk di pinggir ranjang, tangannya terangkat mengelus kepala Raisa yang kini sudah terlelap.
"Maafkan papa." gumam Zayn.
__ADS_1
Puas memandangi wajah putrinya, Zayn segera mengendong tubuh Anya dan membawanya ke kamar mereka.
Dengan gerakan pelan, Zayn menidurkan Anya diranjang mereka namun sayangnya gerakan Zayn tetap membuat Anya bangun.
"Ck..." anya mendengus sebal lalu memunggungi Zayn.
"Maaf sayang." ucap Zayn sambil tertawa menyadari kesalahan nya yang membuat istrinya kesal.
"Mas kalau lagi ada masalah diluar jangan dibawa sampai kerumah, kasian Raisa sampai mengira mas udah nggak sayang lagi." omel Anya pada suaminya yang malah tersenyum lebar itu.
"Iya iya, aku salah. aku minta maaf sayang."
"Minta maaf sama Raisa sana!"
"Kan Raisa nya udah tidur, gimana dong?"
Anya menatap suaminya kesal, "Memang mas ada masalah apa?"
Zayn diam , tak menjawab.
"Mass... apa aku nggak penting buat kamu sampai kamu nggak mau cerita sama aku?"
"Enggak sayang bukan gitu." Zayn merasa dilema saat ini, ia takut jika menceritakan pada Anya tentang Nisya, takut Anya akan cemburu dan bertambah marah.
"Mas..."
Dengan menghela nafas berat Zayn akhirnya menceritakan tentang Eddy,
Anya yang terkejut dengan cerita Zayn segera bangun bahkan sampai membegap mulutnya tak percaya. Orang kaya seperti Zayn nyatanya bisa ditipu oleh para polisi yang membebaskan Eddy.
"Kamu nggak marah?"
"Kenapa harus marah mas?" Anya menatap Zayn heran. Ia justru merasa kesal pada Eddy yang hampir mencelakai Zara sahabatnya.
"Ya karena aku menceritakan tentang Nisya padamu."
Anya tersenyum, "Aku nggak marah mas, dan nggak mungkin marah. mau bagaimanapun, mbak Nisya itu bagian dari masa lalu kamu juga Mama nya Raisa. mana mungkin aku marah dan cemburu."
Seketika Zayn memeluk istrinya,
"Ngapain sih peluk peluk, tadi aja dijutekin"
Zayn tertawa, "Maaf sayang, tadi aku masih emosional, aku salah tadi pulang cepet dan malah melampiaskan pada kalian."
"Justru itu yang paling bener mas, kalau kamu nggak pulang dan mampir ke tempat lain malah nambah masalah lagi."
Zayn mengangguk setuju, keluarga adalah tempat pulang yang bisa menghilangkan segala lelah dan amarah.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komeeeennn