
Sudah hampir seminggu lamanya Sean juga Zara berada di villa dan malam ini adalah malam terakhir mereka berada disana.
Sean yang masih enggan untuk pulang nampak bermalas malasan kala Zara sedang mengemasi barang mereka.
"Masih mau disini." ucap Sean dengan nada manja menempel dibahu istrinya.
"Ya udah mas di sini aja besok biar aku pulang sendiri."
Sean langsung saja tertawa, gemas mendengar jawaban istrinya itu membuat Sean menarik tubuh Zara dan membawanya ke ranjang.
"Kenapa sekarang bisa ngeselin gini sih?" gemas Sean menghujani pipi Zara dengan ciuman.
Zara tersenyum geli, "Lagian udah seminggu, mas masih aja kurang."
"Sama kamu itu memang nggak ada puasnya, kurang terus bawaan nya." ungkap Sean.
Zara hanya menggelengkan kepalanya, Ia bangkit setelah Sean tak lagi menindihnya.
"Aku selesaikan ini dulu mas." kata Zara kembali memasukan baju ke dalam koper.
"Padahal bajunya ditinggal aja nggak apa apa, soalnya ini kan Villa Papa, kapan aja kita bisa kesini lagi."
"Tapi tetep aja mas, lebih baik dibawa dari pada disini nanti malah nggak kepake."
"Ya sudah terserah ibu negara saja." balas Sean yang tak ingin memperpanjang perdebatan dengan Zara.
"Semoga kita pulang nanti sudah isi ya mas." Zara kini duduk disamping suaminya, Ia nampak mengelusi perutnya yang masih rata.
"Kalaupun belum hamil, kamu nggak boleh kecewa dan nyalahin diri ya, kita pikir positifnya saja."
Zara mengangguk setuju, meskipun sebenarnya berat untuk dilakukan, "InsyaAllah mas, tapi sepulang dari sini kita tetep periksa ya."
"Siap ibu negara." balas Sean yang membuat Zara kembali terkekeh.
Paginya mereka pulang dan sampai dirumah sore hari. Baik Sean maupin Zara nampak kelelahan sesampainya dirumah.
"Wah wah, non Zara sama Aden betah banget honeymoon nya." celetuk Mbok Nah.
"Ini saja masih kurang Mbok, pengen nya disana terus." balas Sean membuat Mbok Nah terkekeh.
Keduanya langsung terlelap kala sampai dikamar hingga magrib baru bangun untuk sholat.
"Kapan kita ke dokter kandungan mas?" tanya Zara selesai sholat berjamaah dengan Zayn.
"Besok pagi saja, sebelum berangkat ke kantor."
Zara mengangguk setuju,
Keduanya makan malam, sambil menunggu adzan isya, setelah sholat Isya keduanya kembali terlelap karena masih kelelahan.
Dan paginya lagi, Sean mengantar Zara ke dokter kandungan seperti pinta Zara. Dan kali ini yang membawa mobil adalah Ricky, yang sudah kembali masuk bekerja.
__ADS_1
"Gimana malam pertamanya?" tanya Sean iseng.
"Mantap pak boss." balas Ricky langsung membuat Sean terkekeh.
"Sayang banget ya, nggak jadi double honeymoon padahal villa nya bagus lho." Zara ikut menimpali.
"Nggak apa apa Nona, justru saya malah suka nggak jadi double honeymoon nya."
"Lho kenapa?" tanya Zara heran membuat Ricky merutuki ucapannya karena sudah keceplosan.
"Aku yang minta, karena biar kita bisa fokus berdua." Sean membela Ricky.
"Ck, mas ini..." Zara menatap kesal ke arah suaminya.
"Tapi udah diganti ke tempat yang lebih bagus sayang," Sean kembali membela diri.
Zara hanya mendegus saja, tak lagi menjawab ucapan Sean.
Sesampainya didepan klinik dokter kandungan, Sean mengandeng tangan istrinya saat memasuki klinik. beruntung antrian pagi ini belum panjang jadi Sean dan Zara tak perlu menunggu lama.
"Jadi sudah berapa lama menikah?" tanya Dokter Gretta pemilik klinik sekaligus dokter obgyn disana.
"Hampir 3bulan." balas Zara kala perutnya diperiksa oleh Dokter Gretta.
"Baru sebentar, masih anget angetnya itu." celetuk Dokter Gretta yang tak dipahami oleh Zara.
"Udah kepengen punya momongan?"
"Sabar dulu, nikmati masa masa berdua bareng suami karena nanti setelah punya anak sudah berbeda rasanya."
Zara kembali mengangguk,
Setelah Zara selesai diperiksa, kini giliran Sean yang diperiksa oleh Dokter Gretta.
Zara dan Sean menunggu hampir 1jam hasil pemeriksaan mereka.
"Kalau secara medis, dua duanya sehat. Dari suami sehat dari istri kantong kandungan sehat juga baik tidak ada penyakit dalam apapun. mungkin masih harus bersabar dan berusaha lebih lagi ya." jelas Doktee Gretta yang membuat Zara bernafas lega.
Selama ini Zara takut, jika Zara ternyata mandul dan tak bisa memberikan keturunan pada Sean namun mendengar penjelasan Dokter Gretta, Zara kini bisa bernafas lega karena apa yang di takutkan tidak terbukti.
Hanya menunggu waktu dan sabar, semoga segera disemogakan batin Zara.
"Udah lega kan?" tanya Sean kala keduanya sudah berada didalam mobil.
Zara mengangguk dan tersenyum, "Apa yang aku takutkan tidak terjadi mas, Alhamdulilah."
Sean ikut tersenyum, Ia mengelus kepala istrinya lalu membawanya ke pelukan, "Mungkin memang kita masih diberi waktu berdua dulu sayang, menikmati semuanya berdua sebelum akhirnya nanti kita diberi kepercayaan."
Zara mengangguk setuju,
"Jangan sedih lagi dan jangan dipikirkan lagi, kita positif thinking saja." kata Sean yang langsung diangguki Zara.
__ADS_1
Setelah mengantar Sean ke kantor, Kini Zara meminta Ricky mengantarnya ke toko bunga Sena.
Zara tak ingin merasakan bosan dirumah, jadi Ia memilih membantu Sena ditoko bunga saja meskipun Zara masih sedikit takut jika Zayn sampai menemuinya lagi.
Namun hingga siang menjelang sore tak ada tanda tanda Zayn datang membuat Zara merasa lega karena tak harus bertemu dengan pria itu.
Sebelum Sean pulang, Zara pulang lebih dulu dengan naik taksi online karena Zara harus menyiapkan makan malam untuk suaminya itu. Dan betapa terkejutnya Zara saat sampai dirumah melihat orangtuanya disana.
"Ayah... Ibu... " Zara langsung menghambur ke pelukan orangtuanya yang kini duduk disofa ruang tamu rumahnya.
"Kenapa nggak bilang kalau mau datang?"
Asih tersenyum, "Biar surprise kata Ayahmu."
"Kami pikir belum pulang honeymoon." timpal Bahar.
"Pulang kemarin Ayah, dari tadi pagi ditoko bunga Sena jadi nggak tau kalau Ayah sama Ibu kesini."
"Kami juga baru sampai kok nduk, tiba tiba kangen sama kamu pengen ketemu."
"Harusnya tadi Ayah sama Ibu telepon jadi Zara jemput."
"Nggak usah jemput kan kita sudah dikasih sopir pribadi dari mertuamu nduk, mau kemana saja enak tinggal bilang." jelas Bahar membuat Zara tersenyum.
Zara merasa sangat bersyukur karena mertuanya itu tak cuma baik dan sayang padanya namun juga pada kedua orangtuanya.
"Ayah sama Ibu nginep kan?"
"Iya tapi cuma sehari aja ya." balas Asih membuat Zara kecewa.
"Yahh, kok cuma sehari bu?"
"Soalnya anaknya pak lurah mau nikah, nggak enak kalau nggak datang."
"Ya sudah, tapi janji nanti kesini lagi Ya bu..."
"Iya, InsyaAllah kalau diberi kesehatan dan umur panjang nduk."
"Zara selalu doakan Ayah dan Ibu panjang umur dan sehat terus, bisa nemenin Zara sampai Zara punya anak nanti."
"Apa sudah ada kabar baik?" tanya Bahar
Zara menggelengkan kepalanya pelan, "Belum Ayah, tapi alhamdulilah kami berdua sehat."
"Alhamdulilah, semoga segera disemogakan."
"Aamiiin."
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yaaa
__ADS_1