BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
53


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu, Sean disibukan dengan pekerjaan kantor hingga selalu pulang larut malam sementara Zara juga masih sibuk mengajar dan sesekali datang kerumah mertuanya untuk membuat kue bersama Ranti sang Ibu mertua.


Seperti siang ini seusai pulang mengajar, Zara akan pergi kerumah mertuanya untuk membuat kue bersama ibu mertuanya.


Jika minggu lalu mereka membuat kue talam kali ini Ranti mengajak Zara membuat brownies.


Zara keluar dari gerbang sekolahan dan celinggukan mencari mobil Ricky, biasanya sudah terparkir didepan sekolahan jika dirinya pulang namun kali ini mobil Ricky belum terlihat.


"Tumben belum datang." gumam Zara akhirnya mencari tempat duduk untuk menunggu.


"Siang bu guru..." suara seorang pria membuat Zara menengok ke arah suara itu. Dan betapa terkejutnya Zara ternyata itu suara Zayn Papa Raisa.


"Siang juga..." Zara mencoba membalas dengan ramah meskipun dirinya sebenarnya sedikit tidak nyaman.


"Bunga yang cantik untuk ibu guru yang cantik juga." Zayn memberikan bucket mawar merah pada Zara namun Zara hanya diam tak menerima bucket itu.


"Maaf, sepertinya ini terlalu berlebihan, jika suami saya tahu bisa salah paham." Zara menolak bunga pemberian Zayn dengan sopan takut Zayn tersinggung meskipun sebenarnya tak masalah juga jika Zayn tersinggung namun Zara hanya tak ingin membuat masalah dengan siapapun lagi, cukup Panji saja yang Ia kecewakan, tak ingin mengecewakan orang lain lagi.


Respon Zayn malah tertawa melihat bunga nya ditolak oleh Zara,


"Aku memberikan bunga ini sebagai ucapan terimakasih karena Raisa bercerita kamu pernah ingin mengantarnya pulang kan waktu saya masih diluar negeri." jelas Zayn.


"Iya saya mengerti tapi itu memang sudah kewajiban saya sebagai seorang guru jadi tidak perlu harus serepot ini hanya karena ingin berterimakasih, saya hanya menjalankan peran saya sebagai seorang guru tidak lebih."


Zayn terdiam mendengar ucapan Zara, terdengar penolakan dari Zara.


"Kamu terlalu menjaga diri, terlalu setia padahal kamu tidak tahu apa yang suami mu lakukan diluar sana." kata Zayn sebelum akhirnya Ia berbalik untuk meninggalkan Zara.


Zara yang terkejut sekaligus tak mengerti dengan ucapan Zayn akhirnya mengikuti Zayn, "Maaf maksud anda apa?"


Zayn berhenti sejenak, "Aku hanya kasihan pada mu, wanita sebaik kamu yang harusnya dijaga dan disayangi namun malah dikhianati oleh suamimu sendiri. seharusnya kamu tidak perlu sesetia ini agar nanti tidak terlalu sakit hati jika mengetahui semuanya." ungkap Zayn.


"Saya mohon jangan mengarang cerita seperti ini, jangan fitnah!" Zara akhirnya marah juga mendengar Zayn menjelek jelekan Sean.


Zayn memandang Zara sejenak, Ia tersenyum lalu pergi meninggalkan Zara yang terlihat marah.

__ADS_1


Zara melihat Zayn membuang bucket bunganya sebelum memasuki mobil.


Zara masih berdiri ditempat, memandangi mobil Zayn yang sudah pergi. telinga Zara terasa masih mendengar ucapan Zayn yang diulang ulang.


"Harusnya kamu tidak perlu sesetia ini"


"Kamu tidak tahu apa yang suamimu lakukan diluar sana."


"Wanita baik seperti kamu seharusnya di jaga dan disayangi bukan malah di khianati."


Zara rasanya ingin menutup kedua telinga nya mendengar suara Zayn masih terasa terdengar,


"Benarkah apa yang Zayn ucapkan? benarkah Sean mengkhianatinya?" batin Zara mulai berperang hingga suara Ricky mengejutkan dirinya.


"Nona maafkan saya terlambat." Ricky terlihat baru saja berlari ke arahnya.


"Tidak apa apa, aku juga baru keluar."


Keduanya memasuki mobil, "Tadi saya mengantar Tuan ke hotel dulu jadi saya terl-"


"Hotel?" Zara nampak terkejut dan langsung menatap tajam Ricky.


"Astgafirullah, maafkan hambaMu Ya Allah." gumam Zara karena hampir saja Ia membayangkan hal buruk tentang suaminya.


"Ada apa Nona?" tanya Ricky heran melihat raut wajah Zara tak seperti biasanya.


Zara menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak, tidak apa apa. kita langsung kerumah Mama saja."


Ricky mengangguk paham, meskipun sebenarnya Ia masih penasaran dengan pada terjadi pada Zara melihat tingkah Zara sedikit aneh.


Sesampainya dirumah mertuanya, nyatanya Zara sudah ditunggu oleh Ranti.


"Ganti baju, makan siang trus istirahat dulu sebentar sebelum kita mulai membuat browniesnya." kata Ranti.


Zara mengangguk, "Iya Ma..."

__ADS_1


Zara segera naik ke atas memasuki kamar Sean. Karena akhir akhir ini Zara sering datang, membuat Zara meninggalkan beberapa pakaian nya di sini.


Zara duduk di pinggir ranjang, Ia terdiam karena pikiran nya sedikit terusik memikirkan ucapan Zayn yang masih saja terdengar berulang ulang ditelinga nya.


Zara sudah menahan diri untuk tidak percaya dengan ucapan Zayn karena selama ini Sean selalu bersikap baik padanya bahkan Sean selalu marah dan cemburu jika mengingat Panji membuat Zara percaya jika Sean mencintainya namun setelah mendengar apa yang Zayn katakan Zara menjadi sedikit ragu pada Sean.


"Apa sebaiknya aku tanyakan saja pada mas Sean?" gumam Zara.


Seketika Zara menggelengkan kepalanya, mengingat Sean juga tidak menyukai Zayn bisa bisa Sean salah paham padanya.


Zara bukan tidak tahu atau bodoh, melihat cara Zayn menatap matanya membuat Zara paham jika Zayn menyukainya apalagi Raisa yang sekarang menjadi muridnya begitu gencar mendekatinya membuat Zara takut mengecewakan mereka nanti. Itulah sebabnya Zara sedikit menghindar meskipun sulit apalagi sekarang Raisa selalu saja mendatangi nya dijam istirahat, meminta Zara menemaninya membuat Zara tak tega dan akhirnya mau tak mau kini Zara dan Raisa menjadi dekat.


"Kamu kenapa sayang? sakit?" tanya Ranti melihat Zara terlihat lesu dan tak nafsu makan.


Zara hanya menggelengkan kepalanya pelan, sejujurnya Ia sedang tak nafsu makan saat ini namun Ia tak ingin membuat Ranti kecewa karena sudah memasak makanan banyak untuknya jadi Zara memaksakan diri untuk makan dan siapa sangka Ranti bisa melihat gelagat aneh dari Zara.


"Cuma lagi lemes aja Ma..."


"Capek ya? kalau gitu kita batalin aja bikin browniesnya. kamu istirahat aja."


"Jangan Ma, jangan ... aku nggak apa apa kok." Zara merasa tak enak pada Ranti.


"Mama malah takut kamu kenapa napa, istirahat saja sayang kita bisa bikin kapanpun kita mau." kata Ranti namun Zara tetap memaksa membuat browniesnya sekarang hingga akhirnya satu loyang brownies yang baru saja matang di oven terlihat bantat dan gagal.


"Kan, Mama bilang apa. kamu dari tadi nggak fokus sayang makanya tadi Mama bilang kita bikin kapan kapan aja." ucap Ranti membuat Zara menunduk.


"Maafin Zara Ma..."


Ranti mengelus bahu Zara, "Mama nggak masalahin browniesnya yang nggak jadi, dari tadi Mama khawatir sama kamu,"


"Apa kamu lagi ada masalah sayang?" tanya Ranti membuat Zara lagi lagi menunduk.


"Nggak ada Ma, Zara cuma lagi pusing sama kerjaan aja."


"Bukan masalah sama Sean kan?"

__ADS_1


Bersambung...


jangan lupa like vote dan komen...


__ADS_2