
Sepulang mengajar mengaji, Zara membantu memasak makan malam dan makan malam bersama orangtuanya. Zara benar benar menikmati masa masa dirinya masih berkumpul dengan orangtuanya karena nanti jika Zara sudah ikut Sean ke kota mungkin Zara akan jarang sekali merasakan makan malam bersama orangtua nya seperti ini.
Selesai makan malam, Zara sholat isya lebih dulu tak lupa mendoakan sang suami agar selalu baik baik saja disana. Sejak di nikahi oleh Sean, selalu ada nama Sean yang Ia sebut dalam doanya. Dan doa doa terbaik Ia gumamkan hanya untuk Sean.
Zara melipat mukena nya dan mengembalikan di tempatnya, Setelah itu Ia kini duduk didepan meja rias, mengambil sisir untuk menyisir rambutnya. Zara memandangi wajahnya sendiri, Tangan nya terangkat untuk menyentuh bibirnya sendiri. Tanpa disadari Zara melengkungkan senyum di bibirnya. Mengingat kemarin setelah sah menjadi suami istri, bibirnya selalu disentuh oleh Sean.
Dan malam ini, rasanya Zara benar benar merindukan suaminya itu.
Selesai merapikan rambutnya, Zara berjalan ke ranjangnya dan berbaring disana. Ia mengambil ponselnya untuk melihat apakah ada notifikasi atau pesan dari Sean dan Zara harus dibuat kecewa karena sama sekali tak ada pesan dari Sean.
Memang sejak berangkat ke kota, Sean sama sekali belum menghubunginya. Bahkan setelah Sean meminta nomor Zara saat mereka belum menikah sama sekali tak ada notif pesan atau telepon dari Sean.
Berharapkah? Ya tentu saja Zara berharap karena Zara ingin tahu apa yang dikerjakan suaminya disana, sudah makan apa belum dan masih banyak lagi. Namun meski begitu, Zara mencoba mengerti posisi suaminya, sebagai seorang pebisnis mungkin Sean sangat sibuk hingga lupa mengabari dirinya. Ya mungkin Sean sangat sibuk.
Zara memejamkan matanya, sejak dua hari yang lalu memang dirinya susah sekali tidur, Ya sejak tak ada Sean disampingnya. Entahlah Sean benar benar sudah merubah segalanya tentang Zara.
Hari ini, Zara beraktifitas seperti biasa. Berangkat diantar oleh Ricky. Sedikit lesu dan tak semangat entah apa yang membuatnya seperti ini.
Dan siang saat jam pulang, Zara kembali berjalan lesu keluar dari gedung sekolahan.
Dan betapa terkejutnya Zara saat melihat ada Sean berdiri di depan sekolahan dan dibelakangnya bukan mobil mewah milik Sean namun sebuah motor sport.
"Mas..." Zara berlari ke arah Sean dan langsung mencium tangan Sean membuat Sean terkejut dengan perlakuan Zara.
"Mas kok nggak ngabari dulu kalau mau datang?" tanya Zara sambil tersenyum manis didepan suaminya.
Sean yang tadinya mood buruk, melihat Zara tersenyum padanya membuat moodnya langsung berubah senang.
"Aku tadi..."
"Mas tumben bawa motor?" tanya Zara lagi dengan bawelnya membuat Sean ikut tersenyum. Siapa sangka Zara yang biasanya hanya diam kini berubah menjadi sebawel dan semengemaskan ini.
"Ayo jalan jalan." ajak Sean.
"Sekarang?"
"Tahun depan." balas Sean dengan wajah pura pura sebal membuat Zara terkekeh.
Sean mengambil helm dan memakaikan untuk Zara. Beruntung hari ini Zara menggunakan celana jadi bisa membonceng dibelakang Sean.
__ADS_1
"Udah?" tanya Sean saat Zara sudah menaiki motor.
"Sudah mas."
"Turun kalau sudah." kata Sean membuat Zara terkekeh lagi.
Sean langsung melajukan motornya menyusuri jalanan bersama Zara.
"Pegangan sayang, nanti jatoh." kata Sean sedikit berteriak.
Dengan malu malu Zara menuruti suaminya, Ia memeluk suaminya dari belakang.
Sean tak tahu arah, Ia hanya berputar putar saja karena belum hafal jalanan tempat ini. Yang Ia inginkan hanya melepaskan kekesalan nya juga melepas rindunya pada Zara.
Setelah pulang dari Bali, Sean memang merasa sangat kesal dan muak dengan Sella. Ia merasa telah dipermainkan oleh Sella. Sean memutuskan pulang malam itu juga.
Dan pagi tadi saat berangkat ke kantor mood Sean masih saja buruk membuatnya meninggalkan kantor dan memilih menemui Zara. berharap dengan menemui Zara bisa membuat dirinya sedikit lebih baik. Nyatanya Sean malah merasa sangat bahagia saat ini, apalagi Ia melihat Zara tersenyum manis padanya, seketika meluluhkan kekesalan Sean.
"Mau makan apa?" Tanya Sean, mengingat Zara baru pulang sudah pasti Zara lapar.
"Apa saja." Balas Zara sambil bersandar di bahu suaminya.
"Apa yang kamu sukai?"
Tak menunggu waktu lama, Sean memarkirkan motornya didepan warung bakso.
"Apa tidak apa apa mas makan di sini?" tanya Zara hati hati.
"Kenapa memang?"
"Aku takut mas merasa tak nyaman karena tak biasa makan ditempat seperti ini." jelas Zara membuat Sean tersenyum geli.
Tanpa menjawab Sean mengandeng tangan Zara mengajaknya masuk.
Zara memesan bakso lalu duduk disamping Sean.
"Baru dua hari ku tinggal kenapa wajahmu terlihat kusut sekali?"
Sontak Zara terkejut, Ia mengambil cermin kecil didalam tasnya lalu Ia bercermin dan memperhatikan apakah ada yang aneh dengan wajahnya.
__ADS_1
Sean tertawa geli, Ia hanya ingin mengerjai istrinya malah membuat Zara panik.
"Tidak sayang, kamu masih cantik malah lebih cantik." kata Sean yang langsung membuat pipi Zara merona.
"Mas mengerjaiku ya?" tanya Zara polos dan langsung membuat Sean tertawa lagi.
Selesai makan bakso, Sean dan Zara kembali melanjutkan jalan jalan nya. Niatnya Zara ingin mengajak Sean ke sebuah taman yang tak jauh dari sana namun baru setengah perjalanan hujan menguyur mereka membuat Sean menghentikan motornya didepan sebuah pos ronda.
"Kamu basah semua mas." kata Zara melihat baju yang dipakai Sean basah sementara Zara hanya jilbab nya saja yang basah.
"Ck, apes banget... mau jalan jalan pake motor sama istrinya aja malah kehujanan." Omel Sean membuat Zara tersenyum geli.
"Dari tadi memang udah mendung, aku pikir nggak sampai hujan mas."
"Iya aku mikirnya juga gitu tapi malah deres gini."
Keduanya pun terdiam cukup lama hingga ada seorang pria paruh baya membawa payung yang menghampiri mereka.
"Mas sama mbak ini orang mana?" tanya pria itu.
"Daerah selatan pak." balas Zara sopan.
Pria itu mengangguk, "Sudah nikah?"
"Sudah pak." balas Zara lagi karena Sean acuh pada pria itu.
"Kalau sudah menikah, mendingan berteduh disana aja mas mbak, murah kok." kata pria itu sambil menunjuk sebuah bangunan diseberang jalan.
Hotel Melati.
Mata Sean langsung berbinar menatap nama bangunan itu.
"Wah ide bagus itu. Cocok ini, kami memang belum sempat bulan madu." ucap Sean membuat Zara hanya menunduk.
"Ayo mas mbak, saya antar." kata pria itu sambil memberikan sebuah payung untuk Sean dan Zara.
Sean begitu bersemangat menerima payung itu, bahkan berkali kali Ia berterimakasih pada pria yang tak lain pegawai hotel itu.
"Kamu udah bersih kan?" tanya Sean setengah berbisik saat perjalanan menuju hotel.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komen