
Pagi ini setelah sholat subuh berjamaah dengan Sean, Zara langsung membantu Mbok Nah memasak didapur membuatkan sarapan untuk Sean yang akan berangkat kerja.
Sementara Sean kembali tidur lagi, karena masih merasakan lelah karena malam panas semalam bersama Zara hampir pukul 2 dini hari mereka baru usai.
Selesai membuatkan sarapan, Zara naik ke atas untuk membangunkan Sean karena sudah pukul 7 pagi. Zara membuka pintu kamar, melihat ranjang sudah kosong dan mendengar bunyi gemericik air dikamar mandi menandakan Sean sedang mandi lagi setelah subuh tadi Sean ikut mandi bersamanya.
Zara membuka lemari baju Sean dan menyiapkan baju yang akan dipakai Sean. Zara baru saja meletakan baju Sean di ranjang, Ia mendengar bunyi ponsel Sean yang ada dimeja.
Zara mendekat dan mengambil ponsel Sean untuk melihat siapa yang menelepon Sean sepagi ini.
Tanda emoticon love dikontak Sean lagi yang menelepon pagi ini. Zara hanya memandang dan mendiamkan saja tanpa menjawab panggilan itu meskipun sebenarnya Ia sangat penasaran dengan pemilik nomor itu.
Panggilan tidak dijawab oleh Zara, namun sesaat kemudian nomor itu kembali memanggil hingga akhirnya Zara menjawab panggilan itu karena sangat penasaran. Dengan jantung berdetak cepat, Zara menempelkan ponsel di telinga nya.
"Halo Sean..." Suara yang terdengar nampak tak asing untuk Zara.
"Ma mama..." Zara mencoba menebak suara itu.
"Lho, Zara... kamu lagi sama Sean?" Suara Mama Ranti terdengar heran.
"Iy-iya Ma... Zara sudah ada di kota. dirumahnya Mas Sean."
"Beneran? kapan? kok Mama nggak dikabarin?" protes Ranti.
"Pantas tuh anak nggak pulang dari kemarin." gerutu Ranti.
"Kemarin siang Ma, InsyaAllah nanti Zara ajak Mas Sean kerumah Mama." kata Zara merasa tak enak dengan ibu mertuanya yang tidak mendapatkan kabar tentang dirinya yang sudah ada dikota.
"Nggak usah biar Mama nanti ke tempat kamu. sekalian Mama ajak kamu arisan." kata Ranti yang langsung di iyakan Zara.
Zara meletakan ponsel Sean, kini hati dan pikiran nya merasa bersalah pada Sean karena sudah berpikir yang tidak tidak pada Sean.
Ia berbalik dan terkejut melihat Sean ada dibelakangnya.
"Telepon dari siapa?' tanya Sean yang kini bertelanjang dada hanya mengenakan handuk yang di lilit dipinggangnya.
"Da-dari Mama mas." kata Zara sedikit gugup.
__ADS_1
"Ohh, bilang apa katanya?" tanya Sean sambil berjalan mendekati baju yang sudah Zara siapkan.
"Nanti aku mau di ajak arisan katanya."
"Ck, kebiasaan Mama deh ah." Sean terlihat tak suka dan Zara hanya tersenyum.
Dengan langkah gugup, Zara mendekati suaminya dan langsung membantu memakaikan dasi untuk Sean.
"Mas, aku mau minta maaf?"
"Maaf kenapa?" alis Sean langsung mengkerut.
"Maaf karena aku... emm."
Sean masih menunggu ucapan Zara, " Maaf karena aku salah paham, mikir yang aneh aneh tentang kamu."
"Mikir aneh gimana?" Sean terlihat belum paham." "Ya itu, pas kemarin kamu dapet telepon dari kontak yang kamu kasih emoticon love, aku pikir dia emm, dia orang lain yang spesial. aku sempet nggak percaya itu Mama seperti yang kamu bilang." jelas Zara sambil menundukan kepala membuat Sean tersenyum dan langsung mengacak hijab Zara.
"Untung Mama telepon jadi kamu nggak curiga lagi kan sayang sama aku." kata Sean yang langsung diangguki Zara.
Sean mengambil ponsel di saku nya, Ia lihat kontak emoticon love itu sambil tersenyum. Dulu memang Ia berikan emoticon love pada nomor Sella namun setelah Zara sempat melihat kemarin, Ia langsung mengubahnya menjadi nomor Mama nya.
Dan nyatanya, itu bisa mengembalikann kepercayaan Zara padanya. Saat itu Sean yakin Zara mencurigainya, sangat jelas terlihat dari mata Zara setelah mendengan jawaban dari Sean. Dan Sekarang Zara kembali percaya padanya meskipun Sean harus menipunya lebih dulu namun Sean tak peduli asal Zara tak marah padanya.
Sementara itu mobil Ranti kini sudah berada didepan rumah mewah Sean. Ranti keluar dan memandangi rumah mewah yang baru dibeli Sean setahun yang lalu.
Ranti ingat betul, rumah ini Sean beli untuk Sella yang bahkan belum mengetahui tentang rumah ini. Karena pada saat Sean ingin memberikan surprise pada Sella, Sean malah dibuat kecewa karena Sella lebih memilih terbang ke paris menjadi model disana.
Kecewa dan terpuruk Sean saat itu hingga setiap malam Sean selalu mabuk mabukan. Sella benar benar membawa pangaruh buruk pada putranya. Dan dengan menikahkan Sean dengan Zara, Baik Ranti maupun Anggara berharap putranya itu hidup jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Mama..." Zara langsung menghampiri ibu mertuanya dan mencium punggung tangan Ibu mertuanya.
"MasyaAllah, menantu Mama tambah cantik." puji Ranti pada Zara membuat Zara tersipu malu.
"Mama sendirian? Zara pikir Mama sama Sena."
"Sena sibuk di toko bunga nya, nanti deh pulang arisan kita mampir ke toko bunga Sena." kata Ranti yang langsung membuat Zara senang.
__ADS_1
"Mau Ma... Mau. Zara dari tadi bingung juga mau ngapain dirumah karena udah ada mbok Nah yang bersih bersih."
"Ee menantu Mama yang harus santai santai lah, masa iya kerja beresin rumah." kata Ranti membuat Zara tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
Zara kini sudah bersiap untuk menemani Mama mertuanya.
"Temen temen Mama pasti pada klepek klepek nih lihat kamu." kata Ranti saat melihat Zara begitu anggun dengan pakaian syari lengkap dengan hijabnya. Terkadang Ranti merasa malu pada Zara, di usianya yang terbilang masih muda mau mengenakan hijab sementara dirinya yang sudah dikatakan akan menjadi nenek malah belum ada niatan untuk memakai hijab.
"Aku takut nanti malu maluin Mama disana." kata Zara saat keduanya berada didalam mobil.
"Udah santai saja sama Mama, temen Mama pada baik kok orangnya." kata Ranti sedikit membuat Zara tenang karena ini kali pertamanya Zara akan berkumpul dengan para wanita elite teman Mama mertuanya.
Keduanya sampai disebuah rumah yang tak kalah mewah dari rumah Sean. Zara digandeng oleh Ranti dan diajaknya masuk.
"Assalamualaikum..." Ranti dan Zara mengucap salam bersamaaan saat memasuki rumah itu yang langsung membuat semua orang yang didalam membalas serentak.
"Wa.laikumsalam."
Ada sekitar 5 orang yang berada disana, mereka menatap ke arah Ranti Dan Zara dengan raut wajah heran.
"Waduh ada bidadari jatuh dari langit." kata salah satu wanita berperawakan gendut.
Ranti tersenyum bangga, " Ini menantu aku, istrinya Sean."
Ucapan Ranti membuat semua teman nya terkejut,
"Lho kemarin kan bukan ini?"
Ucapan salah satu wanita disana membuat Zara memberikan diri menatap wanita itu,
Ranti hanya diam saja tak memberikan respon apapun.
"Tapi cantikan yang ini kok." celetuk salah satu teman Ranti.
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komen...
__ADS_1