BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
24


__ADS_3

Zara samar samar mendengar suara Sean berbicara. Ia membuka matanya dan melihat Sean berjalan ke arah nya membawa sesuatu.


Zara langsung bangun sambil menutupi tubuh polosnya dengan selimut.


"Sudah bangun sayang?" Sean duduk di pinggir ranjang sambil memberikan kecupan di bibir Zara. Zara hanya mengangguk saja, mendengar panggilan sayang dari Sean membuat jantungnya berlompatan.


"Aku tadi minta sama Ricky buat ambilin baju kita sama beliin makan malam soalnya kantin hotel sudah tutup." jelas Sean membuat Zara melirik ke arah jam dinding dan melihat sudah pukul 10 malam.


"Aku lama banget ya mas tidurnya." Zara tersenyum malu.


Sean hanya membalas senyum sambil mengacak rambut istrinya.


"Mau kemana?" tanya Sean saat Zara hendak berdiri.


"Ambil ponsel, mau ngabarin Ayah sama Ibu kalau aku nggak pulang."


Lagi lagi Sean tersenyum, "Mereka udah tahu kita di sini." kata Sean membuat Zara lega.


Keduanya diam sesaat,


"Nggak asik banget ya masa kita unboking nya di tempat seperti ini." kekeh Sean.


"Unboking apa mas?"


Bukan nya menjawab, Sean malah terkekeh lagi.


Zara hendak berdiri namun dibawah sana Ia merasakan perih dan sakit membuatnya berjalan pelan saat akan kamar mandi.


Sean yang gemas akhirnya mengendong Zara sampai kamar mandi.


"Sebenarnya nggak perlu di gendong juga mas." kata Zara sesampainya dikamar mandi.


"Aku malah geli melihat jalannmu seperti bebek." ungkap Sean membuat Zara mendelik tak terima dengan ucapan Sean.


"Aku hanya bercanda sayang," Sean kembali mengecup bibir Zara.


"Aku mau mandi dulu mas."


"Iya aku temani." Zara kembali mendelik.


"Mas keluar dulu." pinta Zara.


"Aku bahkan sudah melihat semuanya, kenapa harus malu?" kekeh Sean.


"Mass..." suara Zara terdengar merajuk membuat Sean akhirnya keluar dari kamar mandi.


Selesai mandi, Zara membuka pintu kamar mandi dan mengintip sebentar, Sean sedang sibuk dengan ponselnya. Zara berjalan pelan dan duduk disamping Sean. kini Zara sudah mengenakan piyama panjang yang dibawakan oleh Ricky.


"Mas nggak mandi?" tanya Zara pada Sean yang bahkan tidak menyadari kedatangan nya.

__ADS_1


Sean meletakan ponselnya lalu menatap ke arah Zara, "Harusnya tadi kita mandi berdua ya."


Sontak ucapan Sean membuat pipi Zara merona membayangkan apa yang terjadi jika mereka mandi berdua.


"Kita makan dulu saja ya, tadi sudah dibelikan nasi goreng." kata Sean berdiri untuk mengambil makanan.


"Kamu suka nasi goreng?" tanya Sean.


"Aku apa aja suka mas."


"Kalau sama aku suka nggak?" goda Sean membuat Zara menunduk malu.


"Yah, nggak suka ya,"


"Su-suka kok mas." akui Zara sambil tersipu malu.


Sean kembali terkekeh , bersama Zara ia merasakan sesuatu yang berbeda. Jika biasanya Ia hanya diam saja namun saat bersama Zara Ia lebih cerewet bahkan suka sekali mengoda Zara.


"Kita di sini sampai kapan mas?" tanya Zara mengingat dirinya besok harus mengajar.


"Entahlah... kamu tidak nyaman? mau cari hotel yang lebih bagus?"


"Bu-bukan begitu mas, hanya saja besok pagi aku sudah ke sekolah." jelas Zara.


"Jangan pikirkan masalah pekerjaanmu, aku sudah meminta Ricky untuk berbicara pada kepala sekolahmu kalau besok kamu tidak berangkat." kata Sean membuat Zara terkejut.


"Ta-tapi mas..." Zara hendak protes karena selama ini Ia termasuk guru yang rajin dan teladan. jarang sekali absen.


Selesai makan, Sean langsung mandi sementara Zara berbaring di ranjang sambil menonton televisi. Sean keluar dari kamar mandi, Ia mengenakan piyama sama dengan Zara. Sean langsung menghambur ke ranjang dan memeluk istrinya.


Tak sampai di situ, Sean menciumi pipi Zara gemas dan Zara hanya diam saja dengan perlakuan suaminya itu.


"Masih sakit?" tanya Sean sambil memegangi area sensitif Zara.


Zara mengangguk pelan, Ia tahu Sean menginginkan nya lagi dan Zara tidak berani menolak karena takut Sean marah.


"Ya sudah kita tidur saja." kata Sean membuat Zara tersenyum lega.


Sean memejamkan matanya sambil memeluk erat Zara dan Zara pun ikut terlelap bersamanya.


Subuh, Zara terbangun karena mendengar suara adzan. Zara bangun dan langsung mandi keramas, mengingat kemarin tak cuma baju ganti yang dibawakan Ricky namun juga mukena jadi Zara masih bisa sholat meskipun sedang berada dihotel.


Keluar dari kamar mandi, Zara menatap Sean sejenak. Ingin rasanya Zara membangunkan Sean agar menjadi imam sholatnya namun seketika nyali Zara menciut mengingat Sean yang kadang marah padanya.


Zara menghela nafas panjang dan langsung sholat tanpa membangunkan Sean.


Sementara Sean, merasakan disampingnya tidak ada orang, Sean membuka matanya dan benar sudah tidak ada Zara disana.


Sean bangun untuk mencari Zara dan dirinya dibuat terkejut kala melihat Zara sedang melakukan sholat dibawah samping ranjang.

__ADS_1


Bibir Sean mengulum senyum, sejak semalam meski mereka sedang berada dihotel namun Zara sama sekali tidak meninggalkan sholat 5 waktunya.


Sean masih berbaring sambil memandangi khusyunya sholat Zara.


Dan setelah salam, Zara terkejut melihat ke arah Sean yang sudah bangun dan melihatnya sholat.


"Kenapa aku nggak dibangunin?" tanya Sean kala Zara sudah selesai berdoa.


"Aku takut mas marah, seperti lusa kemarin." jelas Zara yang masih ingat betul kalau Sean marah karena dirinya menganggu tidurnya.


"Apakah sebegitu takutnya denganku?" kekeh Sean yang membuat Zara hanya menunduk saja.


"Mas nggak sholat?" tanya Zara akhirnya memberanikan diri.


Zara duduk dipinggir ranjang dan langsung ditarik oleh Sean hingga Zara jatuh ke pelukan Sean.


"Ya setelah ini."


"Jangan menunda nunda waktu sholat mas." Zara mengingatkan yang membuat Sean kembali tersenyum.


"Baiklah bu guru ustadzah," balas Sean lalu melepaskan pelukan nya dan bangun.


Zara tersenyum geli dengan sebutan yang di ucapkan oleh Sean.


Selesai mandi dan sholat, Sean kembali ke ranjang dan langsung memeluk istrinya lagi.


"Ah aku lupa punya sesuatu untukmu." kata Sean bangun lagi untuk mengambil sesuatu.


"Apa ini mas?" tanya Zara saat Sean memberikan sebuah kotak dimana diluar terdapat pita yang sangat cantik.


"Buka sayang."


Dengan jantung berdegup Zara membuka kotak itu yang ternyata berisi sebuah kardus kecil yang didalamnya terdapat ponsel berlogo apel di gigit yang membuat Zara tak menyangka sama sekali Sean akan memberikan itu padanya.


Zara tahu sangat tahu jika ponsel itu sangat mahal dan diminati banyak orang. Zara bahkan tak berpikir bisa memiliki ponsel mahal itu.


"Untukmu..." kata Sean kala Zara menatapi ponsel mahal keluaran terbaru itu.


"Ini harganya mahal sekali mas." kata Zara memegangi ponsel yang kini menjadi miliknya.


"Bagiku tidak ada yang mahal asal bisa bersama mu setiap waktu." sontak ucapan Sean langsung membuat Zara tersipu malu.


"Aku tidak bisa menggunakan nya." kata Zara terlihat malu malu.


Sean tersenyum dan langsung mengajari Zara cara menggunakan ponsel itu.


"Ini nomerku, sudah kusimpan. disini sudah ada nomer keluarga kita juga." jelas Sean melihat nomor bernama my husband dimana Sean sendiri yang memberikan nama itu.


"Dan ingat jangan sampai kamu menyimpan nomor pria lain di ponsel ini!"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like vote dan komen...


__ADS_2