
Dokter Dika, dokter dikeluarga Anggara sudah datang dan akan memeriksa Sean. Zara ikut melihat Dokter Dika memeriksa suaminya.
"Hanya kelelahan biasa. minum obat dan istirahat, besok pasti membaik." jelas Dokter Dika.
"Tapi demam juga dok." keluh Zara terlihat sangat khawatir.
"Ya dia memang biasa seperti ini jika kelelahan." kata Dokter Dika sambil menuliskan resep obat.
"Apa kau masih suka minum minum?" tanya Dokter Dika yang langsung membuat Zara terkejut karena tak menyangka dan Sean menatap ke arah Dokter Dika penuh ancaman.
"Tidak, tidak pernah lagi." balas Sean dingin.
"Bagus, apa istrimu yang membuatmu berhenti minum?" goda Dokter Dika memperjelas membuat Sean semakin kesal.
"Sudah pergi saja sana!" bentak Sean langsung membuat Dokter Dika terkekeh merasa puas berhasil mengerjai Sean.
"Jangan lupa tebus obatnya Nona," kata Dokter Dika memberikan resep obat pada Zara.
Seperginya Dokter Dika, Zara segera memberikan resep obat itu pada Ricky agar segera ditebus dan tak butuh waktu lama Ricky sudah datang membawa obatnya.
Zara memasuki kamar sambil membawa nampan berisi semangkok bubur yang masih hangat juga segelas air putih tak lupa obat yang baru saja ditebus oleh Ricky di apotik.
"Makan dulu mas trus minum obat." kata Zara membangunkan Sean dengan pelan.
"Pahit..." keluh Sean merasakan lidahnya pahit dan nafsu makan nya hilang.
Zara tersenyum, "Lagi sakit mas jadi pahit. kita makan trus minum obat biar pahitnya hilang."
Sean terkekeh dengan ucapan sabar Zara, "Aku bukan anak TK."
Zara tersenyum, membantu suaminya bangun dan bersandar pada ranjangnya.
Dengan telaten Zara menyuapi Sean hingga mangkuk yang tadinya penuh dengan bubur sudah ludes habis dimakan oleh Sean.
"Yang katanya pahit tapi habis dong." cibir Zara membuat Sean mau tak mau tertawa.
"Kok sekarang julid amat sih kayak netizen."
"Deket sama kamu jadi julid," kata Zara sambil menyiapkan obat sesuai resep dokter lalu memberikan pada Sean.
__ADS_1
"Oh jadi aku kayak toxic nih buat kamu." protes Sean setelah minum obat.
"Selama mas baik, nggak bakal jadi toxic."
Sean tersenyum, "Tapi aku pernah menjadi tidak baik, dulu sebelum bertemu kamu.
"Mabuk mabukan, bikin bangkrut perusahaan Papa, nyusahin Papa sama Mama." ungkap Sean jujur.
"Yang penting sekarang sudah berubah lebih baik mas." kata Zara sambil mengenggam tangan Sean, memberi keyakinan pada suaminya.
"Mungkin itu salah satu alasanku dulu kenapa ragu untuk menikah denganmu, karena aku merasa tak pantas." ungkap Sean membuat Zara tersenyum.
"Asal mas tidak main wanita saja" kata Zara sambil menatap mata Sean.
Sean tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan,
"Mungkin sekarang bisa disebut main wanita." batin Sean.
"Alhamdulilah jika memang tidak pernah, semoga saja tidak pernah karena sebaik baiknya suami adalah dia yang tidak pernah mengkhianati istrinya." kata Zara sambil tersenyum membuat Sean tertegun.
"Bagaimana jika aku melakukannya, bermain wanita?"
"Jujur?" Sean terlihat tak paham.
Zara mengangguk, "Ya, mas jujur jika memiliki wanita lain... InsyaAllah aku bisa menerima." kata Zara yang lagi lagi membuat Sean tertegun.
"Akan sangat menyakitkan jika ditusuk seseorang yang sangat kita percayai dari belakang, jadi kejujuran memang dibutuhkan dalam suatu hubungan apalagi kita sebagai suami istri."
"Kalau nanti memang mas ada wanita lain atau mau menikah lagi... katakan saja mas. memang sangat menyakitkan untukku tapi itu lebih baik jika dikhianati diam diam." jelas Zara mengakhiri ucapannya membuat Sean benar benar tertampar.
Sean menatap Zara, Ia mencoba coba mencari apa yang kurang dari istrinya itu? Cantik, Soleha, Bisa masak, bisa ngurus suami, penyayang anak anak...
Lalu apa kurangnya Zara?
Tidak, sama sekali tidak ada kurangnya. Zara benar benar sosok istri sempurna dimata Sean.
Sean memang merasa tidak mengkhianati Zara karena setelah menikah dengan Zara, Sean sama sekali belum menghubungi Sella. namun tetap saja, Ikatan antara dirinya dan Sella masih ada dan jika Zara sampai tahu itu, mungkin akan sangat kecewa padanya.
Jadi mungkin sekarang lah waktu Sean untuk memilih, antara Zara atau Sella.
__ADS_1
Sore harinya, Anggara dan Ranti datang kerumah Sean. Ranti yang mengetahui sang putra sakit segera datang sambil membawa sop ikan kesukaan Sean jika sedang sakit.
"Zara dari tadi cuma bikin bubur Ma, karena nggak tahu kalau Mas Sean suka sop ikan." kata Zara saat menerima rantang berisi sop ikan yang sudah dingin.
"Nanti Mama kasih list daftar makanan kesukaan Sean." kata Ranti sambil terkekeh, "Itu sopnya diangetin dulu."
Zara mengangguk dan segera menghangatkan sop ikan untuk makan malam Sean.
"Kenapa nggak kabarin Mama kalau Sean sakit? Mama malah tahu dari Papa yang bilang katanya Sean nggak kerja hari ini."
"Maaf Ma, bukan nggak mau ngabarin. Kata mas Sean cuma kecapekan biasa jadi nggak ngabarin Mama takut khawatir." jelas Zara merasa tak enak dengan Mama mertuanya.
Ranti tersenyum mendengar penjelasan menantunya itu, "Katanya Sena diterima ngajar di Tk?"
"Alhamdulilah iya Ma, cuma karena hari ini mas Sean sakit jadi aku ngelibur dulu."
"MasyaAllah, kamu bener bener deh nak." Ranti menepuk nepuk bahu Zara merasa sangat bangga dengan menantunya itu.
Sementara itu, Sean dan Anggara nampak duduk diruang tengah sambil menonton televisi.
"Papa nggak nyangka kamu bisa bekerja sama dengan Shine." ucap Anggara kala keduanya cukup lama saling diam.
"Papa terlalu meremehkan Sean."
Anggara tertawa, "Bukan meremehkan, tapi memang kamu yang dulu berbeda dengan kamu yang sekarang."
"Apa Papa salah kalau kamu berubah karena memiliki istri seperti Zara?" tanya Anggara membuat Sean langsung terdiam.
Terkadang Sean juga masih tak percaya dengan dirinya sendiri. Jika dulu rasanya melangkah saja berat, terlalu banyak masalah sampai Ia sering menghancurkan perusahaan sang Papa namun sekarang berbeda, Semuanya terasa mudah untuk Sean, apapun itu Sean merasa dilancarkan tanpa ada masalah membuat Sean berpikir apakah ini karena doa doa istrinya disetiap sholatnya? entahlah, Sean hanya merasa hidupnya yang sekarang sangat berbeda dengan hidupnya yang dulu.
"Kamu diam itu berarti memang Zara yang sudah membuat hidupmu lebih baik kan?" tanya Anggara lagi yang langsung mendengar helaan nafas dari Sean.
"Jadi apa kamu sudah membuat keputusan nak? jangan terlalu lama. Papa hanya takut kamu kehilangan yang terbaik atau mungkin malah keduanya." Kata Anggara lagi terlihat tak sabar menunggu jawaban Sean.
Sean mengangguk, "Ya Sean sudah memilih Pah, dan semoga keputusan Sean ini yang terbaik dan paling tepat."
Anggara langsung tersenyum lebar mendengar jawaban Sean.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...