BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
127


__ADS_3

Zara baru saja selesai menghabiskan sebungkus nasi padang, Ia hendak mencuci tangan nya namun ponsel yang ada disampingnya berdering membuat Zara buru buru cuci tangan agar bisa segera mengangkat telepon dari suaminya itu.


"Non jangan lari lari." Mbok Nah yang melihat Zara berlari kecil terlihat khawatir.


Zara hanya tersenyum sebelum akhirnya Ia menjawab panggilan dari suaminya itu, "Assalamualaikum mas..."


"Wa.alaikumsalam, kamu gimana sayang? baik baik saja kan?" suara Sean terdengar khawatir.


"Baik mas, aku habis makan nasi padang tadi dibeliin sama Mbok Nah."


Sean diam sejenak sebelum akhirnya kembali bertanya, "Kamu nggak mual sayang?"


"Enggak mas, malahan pengen makan terus."


Sean bernafas lega, "Baguslah kalau begitu."


"Mas sudah makan siang? tumben telepon."


"Nggak apa apa, kangen aja."


"Ck, ya sudah lanjut kerja lagi sana mas."


"Iya deh iya, Assalamualaikum sayang. tunggu abang dirumah ya." suara Sean terdengar cengegesan.


Zara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli, "Waalaikumsalam mas."


Setelah mematikan panggilan, Sean bersandar di kursi, memikirkan dirinya yang mendadak kehilangan nafsu makan juga mual.


"Zara yang hamil kenapa harus aku yang mual? apa ini karma karena aku mengejek Zayn kemarin?" gumam Sean menerka nerka sendiri.


"Ck, ya sudahlah, asal Zara dan calon anak ku baik baik saja, tidak masalah jika harus aku yang merasakan gejala hamilnya."


Dan baru sedetik Sean menghentikan ucapan nya mendadak perutnya kembali terasa mual.


"Ash, sial!" Sean memuntahkan cairan bening karena Ia belum makan siang sama sekali membuat perutnya terasa melilit.


"Kau kesal dengan Papamu sampai menyiksa Papamu seperti ini nak." gumam Sean saat kembali memuntahkan cairan bening.


Sean kembali duduk dikursinya tak lupa menyeka bibirnya menggunakan tisu.


Sean mengangkat ganggang telepon, "Keruanganku sekarang."


Tak berapa lama Naya memasuki ruangan Sean,


"Apa masih ada meeting lagi?"


Naya langsung membuka tab yang Ia bawa, "Sepertinya sudah tidak ada lagi pak, karena pihak rajawali mengundur meeting nya besok pagi."


"Bagus." Sean terlihat sangat senang. Ia langsung bangun dari duduknya dan mengambil jas yang Ia sampirkan dikursi dan langsung memakainya.


"Saya pulang kalau begitu." kata Sean dengan nada santai melewati Naya begitu saja.


"Tu tunggu pak...."


"Ada apa?" Sean berbalik menatap Naya.


"Tapi hari ini Pak Anggara mau datang pukul 3 sore untuk membahas rencana proyek baru nya di sini."

__ADS_1


Wajah Sean yang tadinya senang kini nampak berubah suram,


"Ck, kenapa harus hari ini." kesal Sean.


Naya menggelengkan kepalanya pelan, "Saya juga tidak tahu pak."


"Ck ya sudah." Sean kembali melepaskan jas nya dan duduk di kursinya.


"Keluar sana!" usir Sean pada Naya.


Setelah Naya keluar, Sean mengendurkan dasinya. Gagal sudah rencana nya untuk pulang lebih awal karena Papa nya mau datang. Jika Papa nya datang dan dirinya sudah pulang sudah pasti Ia akan mendapatkan omelan atau yang lebih parahnya lagi Papa nya akan mengadu pada Zara.


Tepat pukul 3 sore Anggara benar benar datang ke kantor Sean,


"Papa pikir kamu sudah pulang." Nada bicara Anggara terdengar mengejek.


"Tadinya memang ingin pulang, tapi dengar papa mau datang, Sean batal pulang lebih awal."


"Kenapa? sudah takut dengan Papa sekarang." kekeh Anggara.


"Ck, Sean nggak mau dianggap malas kerja lagi padahal hari ini Sean bener bener lagi lemes Pa."


"Alasan kamu saja!"


"Ya Allah Pa, seriusan. Zara yang hamil mual sama lemesnya ke Sean semua." keluh Sean.


"Ya sudah sana pulang saja."


Sean terkejut dan menatap Anggara tak percaya, "Seriusan Pa?"


"Pulang sebelum Papa berubah pikiran."


"Anak aku nanti pasti bakal sayang banget sama opa nya yang baik hati kayak gini." kata Sean dan langsung melesat pergi begitu saja.


Anggara hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya itu. Dirinya tak tega melihat wajah Sean yang pucat membuat Anggara mengizinkan Sean pulang lebih awal.


"Mas udah pulang? kok pucet?" tanya Zara kala suaminya sampai dirumah lebih awal dari biasanya.


"Aku lagi nggak enak badan sayang, mual sama lemes."


"Ya Allah mas, ya udah ayo kita periksa dulu." wajah Zara langsung berubah khawatir.


"Nggak usahlah, ini kayaknya efek dari kehamilan kamu."


"Jadi sama kayak suaminya Anya? duh ini pasti gara gara mas kemarin ngejek Suaminya Anya nih." kata Zara mengingatkan.


"Udah tau sayang, dahlah nggak usah dibahas lagi. bikin tambah lemes." kata Sean berjalan menuju kamarnya dan berbaring di ranjang.


"Mandi sama ganti baju dulu mas."


"Ck, nanti aja lah, mau merem dulu bentar."


Zara hanya mengangguk saja, Ia keluar untuk ke dapur membuatkan teh madu hangat untuk suaminya.


"Minum dulu mas." Zara meletakan secangkir teh di meja, melihat Sean masih belum memejamkan matanya.


Sean bangun dan mengambil tehnya, Ia berharap minum teh tidak membuatnya mual namun baru membuka tutupnya dan mencium bau teh nya saja sudah membuat Sean berlari ke kamar mandi karena merasakan mual kembali.

__ADS_1


Zara menepuk nepuk bahu Sean,


"Dari tadi siang aku belum makan sama sekali, nggak bisa masuk dan langsung mual."


"Gimana dong mas, aku takut mas jadi sakit." Zara terlihat sedih.


"Harusnya aku saja yang ngerasain ini."


Sean menatap wajah sedih istrinya, "Justru harusnya jangan kamu, aku saja nggak apa apa sayang. kamu harus sehat makan yang banyak biar baby kita ikut sehat."


"Hmm, denger kata makan aku jadi pengen bakso mas."


"Haa?"


"Iya, aku pengen bakso yang didalamnya ada uratnya gitu, mas mau juga nggak?"


Seketika Sean langsung menggeleng,


"Ya sudah, aku minta Mbok Nah buat beliin dulu ya." Zara langsung keluar begitu saja meninggalkan Sean yang masih berdiri dan melonggo ditempat.


Dan saat ini Sean sedang menatap istrinya yang begitu lahap makan semangkok bakso yang penuh dengan kecap.


Melihat istrinya begitu lahap, membuat Sean penasaran dan ingin mencicipi satu namun baru mengambil sendok, Zara langsung menatap Sean tajam.


"Mas Mau ngapain?"


"Minta dikit aja."


Seketika Zara langsung menyingkirkan mangkoknya, "Nggak boleh mas, tadi katanya nggak mau."


Sean terkejut melihat perubahan sikap istrinya itu, "Iya iya, nanti tak suruh beliin mbok Nah aja."


Zara kembali menghabiskan semangkok baksonya.


Tengah malam, saat Sean baru merasakan lelap tidurnya mendadak terusik dengan suara Zara,


"Mas, bangun mas bangun..."


Dengan mata masih mengantuk akhirnya Sean memaksa membuka matanya,


"Ada apa sayang?"


"Aku mau sate ayam."


"Haaa?"


"Aku mau sate ayam mas, sekarang!"


"Harus banget sekarang?" tanya Sean sambil mengucek matanya yang masih lengket, melihat jam dinding masih pukul 1 malam.


"Iya mas, buruan beliin mas."


Sean melonggo menatap istrinya tak percaya.


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like vote dan komeennn

__ADS_1


Maaf gays lagi sakit jadi slowupdate nyahhh


__ADS_2