
Ricky yang baru saja dari agen, langsung menuju kantor Sean dengan membawa seorang pria bertubuh kekar.
"Tuan..."
Sean yang tadinya sibuk dengan laptopnya kini menatap ke arah Ricky dimana Ricky datang dengan membawa seseorang.
"Pesanan Tuan." jelas Ricky.
Sean langsung menelisik ke arah pria kekar berkulit sawo matang itu.
"Siapa namamu?"
"Nama saya Eddy Tuan."
"Kau pernah bekerja sebagai security atau masih newborn?"
"Belum Tuan,"
"Ck, bagaimana ini. aku ingin mencari security yang sudah berpegalaman." keluh Sean membuat Ricky langsung panik begitu juga Eddy.
"Saya pernah bekerja kasar apapun Tuan, dan saya pastikan bisa menjaga keamanan dan keselamatan istri Tuan." jelas Eddy yang memang sudah dibriefing oleh Ricky sebelum sampai ke kantor Sean.
Sean terlihat ragu untuk menerima Eddy yang belum berpegalaman, namun melihat postur tubuh Eddy yang gagah juga ucapan yang meyakinkan membuat Sean ingin memberi kesempatan.
"Ya sudah, kuberi kesempatan selama 1 bulan. aku lihat bagaimana kinerjamu. jika bagus aku akan menjadikanmu security tetap dirumahku." kata Sean yang langsung membuat Ricky juga Eddy senang.
"Terimakasih, terimakasih banyak Tuan." Eddy sampai berkali kali membungkukan badan nya untuk mengucapkan terimakasih.
"Sudah, jangan seperti itu. buktikan saja kinerjamu yang bagus."
"Baik Tuan."
"Bawa dia kerumah sekarang, dia sudah bisa mulai bekerja hari ini." perintah Sean pada Ricky.
"Baiklah Tuan."
Ricky melirik ke arah Eddy dan mengajaknya keluar dari ruangan Sean.
"Terimakasih banyak bang, sudah membantu saya." kata Eddy saat keduanya sudah berada didalam mobil.
"Tidak masalah, asal jangan sampai Tuan Sean tahu jika kau bukan berasal dari agen bisa masalah nanti." kata Ricky sedikit khawatir.
"Siap bang, aman pokoknya."
Keduanya sampai dikediaman Sean yang langsung disambut dengan tatapan heran oleh Zara.
"Ini security baru yang akan menjaga rumah ini Nona." ungkap Ricky pada Zara.
Barulah Zara paham dan akhirnya bersikap ramah pada Pria yang akan menjadi penjaga dirumahnya itu.
"Nama saya Eddy." Eddy mengulurkan tangan nya hendak menyalami Zara yang langsung diberi tatapan tajam oleh Ricky.
"Baiklah, aku akan memanggilmu Pak Eddy." Zara tak membalas uluran tangan Eddy, Ia hanya tersenyum saja yang langsung di mengerti oleh Eddy.
"Akan ku tunjukan dimana kamar dan juga tempat dirimu harus berjaga." ajak Ricky yang langsung diangguki Eddy.
__ADS_1
"Mari Nona.."
Zara kembali mengangguk, menatap punggung Ricky juga Eddy yang telah berlalu meninggalkan dirinya.
"Siapa Non?" Mbok Nah yang baru saja dari dalam nampak keluar menghampiri Zara.
"Mas Sean nyariin satpam buat jaga rumah ini Mbok."
Mbok Nah nampak senang, "Wah bagus dong Non, biar kita aman kalau den Sean lagi kerja trus juga kalau kemana mana bisa minta anter."
"Ck, satpam mbok bukan sopir." Zara terkekeh geli melihat Mbok Nah sumringah.
"Sama aja Non, satpam kerjaan nya cuma jaga aja jadi bisa diminta anter kapanpun kalau pas butuh." Mbok Nah tak ingin kalah.
"Ya sudah terserah mbok Nah aja." Zara masih terkekeh geli sebelum akhirnya Ia berjalan memasuki rumah.
Sementara didepan, Ricky terlihat kesal dengan Eddy "Kau ini, berani sekali mengulurkan tanganmu pada Nona kita. jika sampai Tuan tahu bisa langsung dipecat kau!"
Eddy menundukan kepalanya, tak berani menatap Ricky yang kini marah padanya. meskipun badan Eddy lebih kekar dan lebih besar dari Ricky namun tetap saja Eddy tak bisa melakukan apapun karena disini yang lebih berkuasa adalah Ricky.
"Maaf bang, saya tidak tahu."
"Jangan berani lagi melakukan itu, Nona Zara sangat berharga untuk Tuan Sean, jangan sampai kau melakukan diluar batas." Ricky memperingatkan Eddy.
"Baik bang, saya mengerti. tidak akan ku ulangi lagi."
Ricky menghela nafas lega, "Jika sampai kau melakukan kesahalan dan dipecat, akan membuat namaku juga buruk karena aku yang membawa mu kesini. jadi bekerjalah dengan baik dan jangan melakulan sesuatu yang membuat kau bisa dipecat."
"Baik bang, akan saya turuti semua perintah abang."
Ricky meninggalkan rumah Sean setelah cukup memberikan dan menjelaskan apa saja yang harus Eddy lakukan.
Sementara Eddy mulai menata barang barang yang Ia bawa ke dalam kamar pribadinya.
"Luas dan cukup nyaman," gumam Eddy.
Selesai menata barangnya, Ia lantas berbaring di ranjang yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk ditempati.
"Dia sangat cantik, sayangnya..."
Eddy tersenyum sendiri membayangkan seseorang yang Ia anggap cantik itu.
Malam harinya,
Sean pulang cukup larut karena pekerjaan yang begitu menumpuk membuatnya harus lembur.
Ia pikir Zara sudah terlelap namun nyatanya istrinya itu masih setia menunggu kepulangan nya.
"Capek." keluh Sean usai selesai mandi dan langsung berbaring diranjang.
"Mau dipijitin mas?" tangan Zara sudah siap untuk memijat Sean namun segera Sean menolak.
"Nggak... nggak usah di pijit."
"Kenapa?" heran Zara karena selama ini Sean tak pernah menolak pijatannnya.
__ADS_1
"Aku nggak mau kamu ikutan capek gara gara mijitin aku sayang."
Zara tersenyum, "Apa sih mas, cuma mijit nggak bakal bikin capek lah."
Zara akhirnya memaksa memijit tubuh suaminya,
"Enak banget pijitan istriku, bikin nagih."
"Mulai gombalnya."
Sean terkekeh, "Oh ya, gimana sama Eddy?"
"Satpam baru itu?"
"Iya sayang, menurut kamu gimana?"
"Ya nggak gimana gimana mas, kayaknya dia orang baik." balas Zara masih terus memijat Sean.
"Jangan sampai kamu naksir dia ya!"
"Astagfirullah mas, nggak mungkin lah."
Sean tersenyum lalu mengelus kepala istrinya itu, "Dia lebih gagah dari aku, aku jadi takut kalau kamu nanti naksir dia."
Pijatan lembut Zara kini berubah menjadi cubitan cubitan gemas yang langsung membuat Sean mengaduh.
"Ampun sayang .... ampun." teriak Sean sambil tertawa.
"Abis kamu tuh aneh banget ngomongnya mas, kamu yang nyari satpam malah kamu juga yang cemburu."
Sean terkekeh, "Aku cuma khawatir aja sayang."
"Mas nggak percaya sama aku?"
Suasana berubah menjadi tegang membuat jantung Sean berdegup kencang karena niat awalnya hanya ingin bercanda.
"Percaya sayang, percaya. duh kok jadi ngambek sih."
Sean menarik tangan istrinya hingga jatuh ke dada nya.
"Ck, kesel aja mas."
"Iya deh iya maaf."
Zara hanya diam saja tidak merespon ucapan Sean.
"Abis dipijitin kok rasanya jadi..."
"Jadi apa?" raut wajah Zara berubah cemas.
"Jadi pengen."
BERSAMBUNG..
jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1