BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
85


__ADS_3

Sudah 2 hari lamanya Anya berada dirumah Sean menjadi pengasuh Raisa. Anya terlihat senang dan nyaman karena Ia banyak menghabiskan waktu bersama Raisa. Sementara Zayn juga tidak terlalu menganggunya apalagi mengajak bercinta. Entahlah Zayn memang sudah sadar atau bagaimana karena sejak berbicara dengan Zara didepan toko bunga waktu itu membuat Zayn tidak lagi memaksa Anya untuk bercinta.


"Tante hari ini aku mau dong dibuatin Mie rasa soto." pinta Raisa saat keduanya sedang berada didalam mobil perjalanan pulang sekolah.


Sejak Nani nya berganti Anya, Raisa memang tak memanggil Anya dengan panggilan Nani, Raisa tetap memanggil Anya dengan panggilan Tante padahal Anya sudah melarang namun sepertinya Raisa sudah nyaman dengan panggilan itu.


"Mie rasa soto? mie instan maksudnya?" tanya Anya yang masih tak paham.


"Iya, biasanya dulu Nani suka buatin aku mie kemasan, katanya lebih gampang dan nggak ribet, enak kok tante, Raisa suka." ungkap Raisa yang langsung membuat Anya terkejut.


"Raisa setiap hari makan kayak gitu?" tanya Anya penasaran.


Raisa mengangguk, "Selama nggak ada Bibik kan yang masak Nani, Tapi jangan bilang sama Papa ya tante soalnya kata Nani kalau Papa tahu bisa marah." jelas Raisa yang lagi lagi membuat Anya terkejut.


Bagaimana bisa Naninya Raisa memberikan mie instan pada Raisa bahkan setiap hari padahal Mie instan tidak bagus untuk anak sekecil Raisa.


Sesampainya dirumah, Anya segera ke dapur untuk membuatkan apa yang Raisa pinta. Namun Anya tidak menggunakan mie instan, Ia membuat Mie langsung dari tepung dan memasaknya dengan racikan bumbunya agar lebih sehat. beruntung peralatan dapur dirumah Zayn sangat lengkap jadi Anya tidak kesulitan saat membuatkan mie untuk Raisa.


"Mau dibantuin Non?" Mbok Jah, asisten rumah tangga Zayn yang baru sangat baik dan juga ramah pada Anya.


Anya menggeleng, "Sudah mau selesai kok Mbok, jadi mbok Jah istirahat saja." kata Anya yang sudah menganggap Mbok Jah seperti ibunya sendiri karena mbok Jah dan Ibu Anya terlihat seumuran.


"Kerjaan Mbok jadi berkuarng satu kalau tiap siang, Non Anya terus yang masak buat Non Raisa."


Anya tersenyum, "Jangan manggil Non lah mbok, orang kita aja sama sama kerja di sini." kata Anya merasa tak nyaman.


"Ck, kali aja Tuan suka sama Non trus nikah sama Non Anya kan malah jadi majikan Mbok, udah nggak kagok lagi manggilnya." balas Mbok Jah sambil terkekeh.


"Apa sih mbok, nggak usah ngomong aneh aneh lah." Anya terlihat menunduk malu.


Setelah matang, Anya membawa semangkuk kecil mie buatannya ke meja makan dimana sudah ada Raisa yang menunggu, sudah mengenakan baju rumah dan mencuci kaki juga tangan.

__ADS_1


"Cobain deh, pasti lebih enak dari mie yang biasa dimakan Raisa." kata Anya penuh percaya diri.


Raisa melihat tak ada yang berbeda dari mie buatan Anya, hanya saja mie nya terlihat lebih gendut juga ada warna hijau didalam mienya, Raisa langsung mencicipi sesuap dan...


"Wahhh, ini enak banget Tante... Raisa suka." kata Raisa kembali menyuapkan mie nya hingga habis semangkuk.


Anya hanya tersenyum sambil memandangi Raisa yang makan mie buatan nya dengan lahap. Mie yanh dijamin sehat karena buatan sendiri juga Anya memberikan tambahan sayur pada adonan mie jadi sangat sehat dan cocok dinikmati anak kecil.


"Pinter banget dihabisin."


"Enak banget tante, besok aku mau lagi. tapi buatnya jangan lama lama kayak tadi ya." pinta Raisa yang langsung membuat Anya tersenyum.


Membuat mie seperti itu memang membutuhkan waktu cukup lama berbeda dengan mie instan yang hanya 5menit saja sudah matang.


Selesai makan, Anya langsung menemani Raisa bermain dikamar hingga Raisa kelelahan dan akhirnya tertidur.


Anya memyelimuti tubuh Raisa sebelum akhirnya Ia keluar kamar Raisa dan memasuki kamarnya.


Anya berbaring diranjang sambil membuka ponselnya, melihat apa ada pesan dari Zayn namun Anya harus dibuat kecewa karena tidak ada pesan satupun dari Zayn.


Pikiran Anya langsung saja melayang, memikirkan Zayn disana, sudahkah Zayn mendapatkan pengganti sekretaris dikantornya? apa dia lebih cantik darinya hingga Zayn kini melupakannya? Anya langsung tersenyum miris,


"Jangan bodoh Anya, bukankah ini lebih baik dari pada harus membuat dosa setiap hari karena melayani nafsu bejat Zayn." gumam Anya pada dirinya sendiri.


Berbeda dengan Anya yang sedang kalut, Zayn dikantor harus dibuat emosi dengan kinerja sekretaris barunya yang tidak becus. Memang sekretaris baru Zayn terlihat cantik dan seksi, membuat siapa saja akan tergoda termasuk Zayn namun kinerja nya sangat buruk, sangat berbeda dengan Anya yang sama sekali tidak pernah membuatnya marah atau kesal jika menyangkut pekerjaan.


"Kenapa hanya membuat ini saja masih salah!" Zayn melempar setumpuk kertas ke lantai membuatnya berserakan kemanapun.


"Ma-maafkan saya pak." Gladis segera memungguti berkas yang berserakan itu.


Karena rok Gladis terlalu pendek, juga kancing atas bajunya tidak dipasang membuat Zayn bisa melihat warna ****** ***** juga bra yang Gladis kenakan.

__ADS_1


"KELUAR!!" teriak Zayn yang langsung membuat Gladis takut dan segera keluar padahal Ia belum selesai mengambil semua berkas yang berserakan dilantai.


"Arghh! sialan!" umpat Zayn mengendurkan dasi yang Ia pakai karena merasakan kepanasan luar biasa gara gara melihat dalaman yang dipakai Gladis.


Zayn mencoba menahan diri, Ia ingin berubah dan tak ingin lagi melecehkan wanita manapun meskipun Gladis berkali kali sudah mengodanya namun Ia mencoba untuk tidak tergoda, cukup Anya saja wanita terakhir yang Ia lecehkan secara paksa dan tidak akan ada lagi meskipun banyak yang mengodanya tanpa harus Ia paksa.


Zayn pulang cukup larut,


"Sudah pada tidur?" tanya Zayn pada Mbok Jah yang membuka kan pintu.


"Non Raisa sudah tidur kalau Non Anya masih didapur." jelas Mbok Jah.


Zayn terlihat mengerutkan keningnya heran sebelum akhirnya berjalan menuju dapur. Zayn melihat Anya masih sibuk memasak, entah apa yang Anya buat, tapi bukankah ini sudah sangat larut untuk makan malam?


Zayn mendekat dan membuat Anya terkejut, "Pa- eh mas sudah pulang?" tanya Anya gugup karena masih belum biasa memanggil Zayn dengan panggilan Mas.


"Belum tidur? buat apa?"


Anya menggelengkan kepala, "Buat mie sehat untuk Raisa."


Zayn menatap heran ke arah Anya, bahkan Raisa saja sudah tidur kenapa Anya masih repot membuatkan mie untuk Raisa.


"Aku bikin mie nya dulu biar besok sewaktu waktu Raisa minta lebih cepet masaknya." jelas Anya yang sudah tidak lagi didengar oleh Zayn karena Zayn sibuk menatap leher mulus Anya yang sedari tadi mengodanya.


Tak tahan, Zayn mengimpit Anya untuk mencium leher mulus milik Anya itu,


"Pak... euh..." Anya merasakan sensasi yang sudah lama tak Ia rasakan.


Zayn yang sadar setelah mendengar suara Anya, menghentikan apa yang baru saja Ia lakukan dan segera pergi meninggalkan Anya begitu saja.


Anya terlihat bingung, disatu sisi Ia senang karena Zayn tidak melanjutkan namun di sisi lain, ada rasa kecewa dan penasaran kenapa Zayn tidak melanjutkan? apa dirinya sudah tidak lagi menarik untuk Zayn?

__ADS_1


BERSAMBUNG...


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEEN


__ADS_2