
Zara memasuki kamar, melihat Sean masih terlelap. Ia mengambil sisir dan menyisir rambutnya yang baru saja kering. Subuh tadi Zara bangun dan mandi keramas meski datang bulannya belum selesai, karena kepalanya pusing dan rambutnya sudah gatal.
Memang sudah menjadi kebiasaan Zara mandi keramas diwaktu subuh.
Setelah mengucir rambutnya, Zara mengambil jilbab oblong harian yang biasa Ia pakai. Setelah dirasa rapi Zara berbalik dan terkejut melihat Sean sudah bangun dan sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Ma-mas sudah bangun?" mendadak Zara menjadi gugup.
Sean bukan nya menjawab, Ia malah berdiri dan mendekati Zara.
Dengan sekali gerakan, Sean melepaskan jilbab Zara membuat Zara sangat terkejut. Tak cukup sampai disitu saja, Sean menarik kucir Zara membuat rambut panjang Zara kembali berantakan.
Zara memberanikan diri menatap Sean yang kini sedang menatapnya penuh puja. Sean menarik pinggang Zara lalu membawanya ke ranjang. Kini Sean berada di atas Zara dengan nafas memburu penuh minat.
Sean bisa merasakan wajah Zara berubah pucat, seolah belum siap namun Sean tak bisa menahan lebih lama lagi.
Tangan Sean kembali terangkat, menyusuri pipi Zara dan berakhir di bibir ranum milik Zara. Bibir berwarna pink alami tanpa polesan lipstik itu benar benar membuatnya jatuh cinta.
Sean memajukan bibirnya hingga bibir keduanya pun menempel. Dan saat Sean hendak membuka mulutnya...
Tok ... tok... tok... pintu kamar Zara diketuk membuat keduanya sama sama terkejut.
Sean kesal dan mengumpat dalam hati sementara Zara langsung bangkit dan membuka pintu kamarnya.
"Maaf ibu menganggu, tapi ada Nak Ricky katanya mau menjemput Nak Sean." Asih terlihat tak enak harus mengetuk pintu pasutri baru itu.
"Iya Bu, biar mas Sean siap siap dulu." balas Zara yang langsung diangguki Asih.
Zara mengambil kembali hijabnya dan memakainya, Ia mendekati Sean yang nampak murung.
"Katanya Mas Ricky udah didepan mas."
"Ck, anak itu menyebalkan sekali." Sean bangkit dan berjalan mengambil handuk lalu keluar dari kamar Zara untuk mandi.
Selesai sarapan dan berpamitan pada orangtua Zara, kini Sean berjalan keluar rumah di ikuti oleh Zara.
Sean menatap ke arah Ricky sebal membuat Ricky bingung apa salahnya,
Sean berbalik dan menatap kembali Zara sebelum mereka berjauhan selama beberapa hari nanti.
"Aku berangkat dulu."
__ADS_1
Zara langsung mengambil tangan suaminya dan menciumnya. Sontak perlakuan Zara itu membuat Sean senang karena merasa Zara menghormatinya sebagai suami.
"Mas hati hati, jaga kesehatan disana. Zara doakan dari sini." kata Zara dengan suara lembut.
Sean tersenyum, Ia menangkup kedua pipi istrinya dan langsung mencium pipi kanan, pipi kiri juga dahi yang sangat lama lalu yang terakhir bibir ranum Zara.
Zara langsung tersipu malu dengan semua perlakuan Sean.
Rasanya Sean masih belum ingin meninggalkan istrinya apalagi mengingat malam pertama mereka yang selalu gagal.
"Aku berangkat dulu." kata Sean lagi yang langsung diangguki Zara.
Sean berjalan menuju mobilnya dimana Ricky masih berdiri disana namun pura pura tak melihat adegan yang baru saja terjadi.
"Kenapa harus datang sepagi ini?" kesal Sean pada Ricky setelah mobil meninggalkan pekarangan rumah Zara.
"Maafkan saya Tuan, Tuan Anggara yang meminta saya menjemput pagi." jelas Ricky.
"Ck, kalian menyebalkan!"
Hari hari berlalu, sudah 2 hari lamanya mereka merasakan LDR. baik Sean maupun Zara merasakan sesuatu yang berbeda saat mereka berjauhan.
Hari ini Zara sudah mulai bekerja setelah 4 hari dirinya cuti dan sekarang mulai beraktifitas seperti biasa.
"Nah itu anaknya sudah siap." suara Bahar terdengar saat dirinya keluar kamar.
Zara mengerutkan keningnya kala melihat Ricky sepagi ini sudah datang kerumah.
"Pagi Nona... saya datang karena suruhan Tuan muda harus mengantar Nona berangkat ke sekolahan." jelas Ricky.
"Padahal tidak di antar juga tidak apa apa. malah merepotkan."
"Sama sekali tidak merepotkan Nona." balas Ricky lagi sambil tersenyum ramah.
Setelah berpamitan dengan Ayah dan Ibunya, Zara berangkat ke sekolahan dengan diantar Ricky.
Jujur sebenarnya Zara merasa tidak nyaman seperti ini, karena sejak sebelum menikah dirinya sering sekali diantar dengan menaiki mobil dan membuat teman sesama guru ada yang kurang menyukainya.
Seperti saat ini, saat Rena keluar dari mobil dan berjalan memasuki sekolahan. dirinya disenggol dari belakang hingga hampir terjatuh.
"Ups, sory... aku sengaja." ucap orang yang menyenggol Zara yang tak lain adalah Rena.
__ADS_1
Zara tak membalas, Ia justru hanya tersenyum saja menanggapi Rena.
"Udah jadi horang kaya ya sekarang." Rena berjalan disamping Zara mengikuti langkah kaki Zara.
Lagi lagi Zara hanya tersenyum, Zara tahu selama ini Rena iri padanya. apalagi saat Panji melamarnya waktu itu, Rena langsung membencinya karena sejak dulu Rena menyukai Panji dan Zara pikir setelah tidak bersama dengan Panji, dirinya akan berbaikan dengan Rena namun nyatanya sama saja Rena masih membencinya.
Rena mengangkat kedua tangan nya dan memamerkan cincin yang di jari manisnya, "Tahu apa ini?"
Zara hanya mengerutkan keningnya, meski penasaran namun Ia juga tak mau ikut campur ataupun mencari tahu apa itu.
"Ini dari Mas Panji. aku sama dia bentar lagi juga mau nikah." pamer Rena yang langsung membuat Zara terkejut.
"Kenapa... cemburu? nggak usah gatel lagi sama Mas Panji. awas aja." ancam Rena lalu berjalan cepat meninggalkan Zara.
"Astagfirullah, sabar Zara sabar..." gumam Zara sambil mengelus elus dada nya.
Dan sesampainya dikantor sekolahan, Zara disambut guru guru lain nya dengan baik. mereka kembali mengucapkan selamat pada Zara padahal mereka sudah datang di acara ijab kabul Zara.
"Dik Zara sabar dulu ya, masalah pengunduran dirinya. soalnya belum nemu penggantinya." kata kepala sekolah saat Zara dipanggil di ruangan nya.
"Iya pak, tapi kalau bisa jangan terlalu lama nggeh pak." balas Zara sambil tersenyum malu.
"Duh, penggantin baru. nggak tahan ya LDR sama suami." godanya yang hanya disenyumi malu malu oleh Zara.
Kini Zara sedang berada dikantor sambil menunggu jam dirinya masuk kelas. Zara sibuk membuat bahan untuk Ia mengajar di kelas nanti. Zara sempat melihat Panji dan Rena masuk bersamaan namun seketika Zara mengabaikan nya.
"Mas rencana nikah kita diajuin aja yuk?" samar samar Zara mendengar suara Rena berbicara pada Panji.
Helaan nafas panji terdengar, "Aku nurut sama Ayah aja gimana baiknya."
"Lho nggak bisa gitu dong mas, masa harus nunggu setahun lagi buat nikah." protes Rena.
"Itu sudah menjadi keputusan orangtua kita, lagipula kita ini dijodohkan! sudahlah jangan banyak protes lagi!" kesal Panji.
"Kamu kok galak banget sih mas sama aku! aku bilangin sama Ayah kamu!" kesal Rena membuat kesabaran Panji akhirnya habis.
Panji berdiri lalu berjalan keluar meninggalkan Rena tanpa peduli dengan teriakan Rena yang memanggilnya. Panji benar benar malu, beruntung hanya ada Zara di ruangan itu.
"Apa kamu? seneng kan lihat aku bertengkar sama mas Panji!" sentak Rena saat Zara tak sengaja menatap ke arah Rena.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN