
Mbok Nah memeriksa seluruh tubuh Zara, memastikan tidak yang lebam ataupun lecet. bahkan Mbok Nah memeriksa perut Zara dan memastikan kandungan Zara baik baik saja.
"Aku nggak apa apa Mbok." kata Zara saat melihat raut wajah Mbok Nah yang sangat khawatir padanya.
"Ayo Non kita periksa dulu saja, minta anter Eddy. takutnya kandungan Non Zara kenapa napa."
"Nggak perlu Mbok, aku baik baik saja."
"Non Zara... nanti kalau sampai ada apa apa dengan Non Zara bisa bisa nanti saya dipecat." kata Mbok Nah yang langsung menangis membuat Zara akhirnya tak tega.
"Ya sudah, ayo lah Mbok. padahal aku nggak apa apa."
Zara masih saja ngeyel namun karena tak ingin Mbok Nah dipecat akhirnya Ia menurut saja.
Zara akhirnya diantar oleh Eddy diklinik terdekat dengan menggunakan mobil cadangan dirumah Sean yang tak pernah dipakai.
"Kandungan nya baik baik saja, beruntung benturan nya tidak keras jadi tidak menjadi masalah besar, lain kali lebih hati hati."
"Dan jangan bekerja terlalu berat sampai kandungan mu kuat." jelas Dokter Lee yang diangguki oleh Zara juga Mbok Nah.
"Aku akan menghubungi Sean agar tak membiarkanmu melakukan pekerjaan berat karena itu sangat berbahaya untuk janinmu."
"Jangan..."
"Jangan sampai Mas Sean tahu."
Dokter Lee menghela nafas panjang, "Baiklah, ini akan menjadi rahasia kita bertiga, tapi kamu harus berjanji akan lebih berhati hati lagi."
Zara tersenyum lega, Ia mengucapkan banyak terimakasih pada Dokter Lee sebelum akhirnya keluar dari klinik Dokter Lee.
"Seharusnya kita ceritakan saja pada Tuan Sean, Mbok malah khawatir kalau kita nggak cerita, sewaktu waktu Tuan Sean tahu malah bisa marah besar." kata Mbok Nah setelah berada didalam mobil sedang perjalanan pulang.
"Aku cuma nggak mau Mas Se cemas mbok, lagian aku beneran nggak apa apa kan tadi."
"Iya sih Non, tapi kan ..."
"Iya Mbok, nanti biar aku yang cerita sama Mas Sean pelan pelan. aku juga nggak mau bohong sebenernya."
"Ya Non, begitu lebih baik." setuju Mbok Nah yang langsung tersenyum senang sementara didepan Eddy hanya menjadi pendengar saja.
Malam hari saat Sean pulang, Sean melihat ada yang aneh dari istrinya itu. Cara berjalan Zara tidak seperti biasanya, terlihat sedikit pincang.
"Kamu habis jatoh?" tanya Sean yang sontak membuat Zara terkejut.
__ADS_1
"Mas tahu dari mana?"
"Haa? jadi beneran abis jatoh?" Sean yang tadinya sedang berdiri hendak ke kamar mandi pun di urungkan. Langsung menarik tangan Zara dan membawanya duduk bersamanya.
"Gimana bisa jatoh? dimana jatohnya? ada yang sakit nggak? kita periksa sekarang ya?"
Zara tersenyum mendengar kekhawatiran suaminya itu, "Aku baik baik aja mas, dan tadi juga udah langsung periksa kok dianter Mbok Nah sama Pak Eddy."
Wajah Sean terlihat lega, "Jatuh dimana?"
"Tadi mau ambil gembor tapi malah jatoh."
"Ngapain sih ambil begituan?"
"Ya kan mau nyirem tanaman mas."
"Kan udah dibilang nggak usah aneh aneh dulu sayang, segala pake nyirem tanaman." omel Sean.
"Maaf mas, aku juga nggak tau kalau lantai nya licin."
"Licin?" Sean sedikit heran, karena gembor itu berada di depan gudang yang tak pernah dilewati siapapun tapi kenapa bisa lantainya licin.
"Kok bisa licin? emang habis di pel sama Mbok Nah?"
Sean terdiam sejenak, entah apa yang Ia pikirkan.
"Tadi langsung periksa ke tempat Lee? dia bilang apa?"
"Disuruh hati hati sama nggak boleh kerja berat mas." balas Zara sambil menundukan kepalanya, takut Sean marah.
Namun bukan nya marah, Sean malah mengelus puncak kepalanya, "Dan kamu harus nurut ya sayang."
Zara langsung mendongak menatap ke arah Sean,
"Demi anak kita." kata Sean lagi sambil tersenyum.
"Iya mas, maafin aku."
"Tadi Mama juga telepon aku, bilang katanya kamu mau ke tempat Sena."
Zara kembali menunduk, "Aku bosen dirumah mas."
"Kalau kamu bosen, kamu bisa datang ke kantor aku. nemenin aku kerja jangan malah cari kerja kayak gitu. bukankah kehamilan kamu sudah lama kita tunggu sayang? jadi please jangan sia siakan apa yang sekarang Allah titipkan untuk kita."
__ADS_1
Zara terdiam mendengarkan nasehat dari suaminya, suara lembut Sean mampu meluluhkan hatinya dan membuatnya menyadari jika Ia bersalah.
"Maafin aku mas, aku memang ngeyel dan menyebalkan."
Sean tersenyum, Ia lalu membawa istrinya ke dalam pelukan nya, "Dan aku minta jangan ngeyel lagi jika menyangkut kehamilan kamu, apapun yang aku katakan ini demi kebaikan kamu dan calon anak kita."
"Iya mas, nggak ngeyel lagi deh." balas Zara membuat Sean tersenyum lega.
Setelah dirasa cukup memberikan briefing pada Zara, Sean segera memasuki kamar mandi untuk mandi.
Dan tengah malam, Sean merasa tidurnya terusik, entah apa yang Ia pikirkan Ia juga tak tahu yang jelas saat ini Sean tidak bisa tidur.
Sean akhirnya bangun, Duduk sebentar diranjang sambil menatap wajah lelap sang istri lalu Ia tersenyum. Sean menarik selimut agar menutupi tubuh istrinya sampai atas.
Sean berjalan menuju balkon kamarnya, Ia duduk didepan pintu balkon kamarnya lalu menyalakan rokoknya.
Sean menatap ke bawah dan langsung terkejut kala melihat Eddy, satpam baru itu berjalan menuju posnya, sepertinya Eddy baru saja dari dalam rumah sambil membawa botol di tangan nya, entah apa yang baru saja Ia lakukan.
Beruntung Eddy berjalan lurus tanpa melihat ke atas dimana Sean sedang duduk sambil menatap ke arahnya curiga.
Sean mengerus rokonya, Ia bergegas turun ke bawah untuk memastikan apa yang Eddy lakukan dirumahnya.
Sean menuju dapur, Ia melihat barang barang dapur masih utuh dan bersih tidak ada bekas apapun, jika Eddy memang membuat kopi seharusnya ada gelas yang basah namun sepertinya Eddy tidak kesini.
Akhirnya Sean keluar, pertama yang Ia lakukan adalah mengecek lantai depan gudang dimana Zara sempat terpleset disana.
Sean melihat lantai disana memang licin tapi bukan karena air namun ternyata ada bekas minya disana yang membuat lantainya licin.
"Apa ini? kenapa bisa lantai disini ada minyak?" heran Sean sampai menyetuh lantai mengunakan jarinya.
Sean kembali ke dalam dan Ia ingin membangunkan Mbok Nah untuk meminta penjelasan namun Ia urungkan.
Sean malah berjalan menuju depan rumah, Ia ingin menanyakan apa yang Eddy lakukan ditengah malam begini.
Dan saat membuka pintu, Sean baru selangkah keluar, kembali merasakan lantai licin membuat Ia hampir saja terjatuh.
Sean langsung jongkok dan melihat apa yang membuat lantainya licin dan lagi lagi ada minyak disana.
"Sial... apa yang sebenarnya Ia lakukan!"
Sean nampak geram, karena ada yang sengaja mencelakai istrinya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komeeennn