BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
111


__ADS_3

Setelah melewati 5 jam perjalanan akhirnya Zara sampai dirumah pukul setengah 8 pagi. Sampai dirumah Zara langsung mandi karena tubuhnya terasa lengket.


Selesai mandi, Zara menyempatkan untuk sholat dhuha dan membaca alquran sejenak sampai Ia merasa perutnya keroncongan barulah Zara melepaskan mukenanya untuk pergi keluar mencari sayur.


Zara belanja sayur diwarung terdekat karena kalau harus ke pasar dirinya harus menggunakan jasa ojek.


"Lho Zara kok disini?" tanya Mak Jannah pemilik warung kelontong.


"Iya mak, mau di sini dulu sebentar."


"Ohh sampai 40 harian Ayah sama Ibu ya?" tebak Mak Jannah.


Zara hanya mengangguk saja, meskipun tujuan awalnya pulang karena Ia ingin menyendiri namun Ia tak ingin semua orang tahu masalahnya.


Selesai belanja, Zara langsung pulang dan bergegas untuk memasak karena perutnya sudah sangat lapar mengingat Ia hanya makan gado gado kemarin sore padahal akhir akhir ini nafsu makan Zara berubah banyak, Ia selalu merasa kelaparan setiap saat.


Setelah sayur sop dan tempe goreng buatan nya matang, Zara segera makan dan langsung menghabiskan sepiring penuh nasi, Ia tampak lahap meskipun hanya makan makanan yang sederhana.


"Ada apa denganku sekarang? kenapa makan ku banyak sekali." batin Zara.


Selesai sarapan dan membersihkan rumah, Zara merasa kelelahan dan mengantuk yang akhirnya membuat Zara untuk tidur sebelum sore nanti Ia pergi ke makam Ayah dan ibunya.


Sementara itu Sean sampai dirumah Zara pukul 11 siang, Sean lihat keadaan rumah begitu sepi seperti tak berpenghuni.


Sean mencoba membuka pintu rumah Zara dan pintu berhasil dibuka karena tak dikunci membuat Sean yakin jika Zara memang benar benar pulang kerumahnya apalagi melihat tas besar yang ada diruang tamu.


"Itu tas Zara."


Sean membuka pintu kamar Zara dengan sangat pelan agar tak menimbulkan suara, dan setelah pintu terbuka, Sean bisa melihat Zara sedang terlelap dikamarnya membuat Sean merasa lega karena Zara baik baik saja.


Sean mendekat ke arah Zara, Ia sempat mengelus pipi Zara tak lupa mengecup kening Zara sebelum akhirnya memutuskan keluar karena tak ingin menganggu tidur istrinya itu.


Sean kini duduk diruang tamu, Ia memandangi tas besar yang dibawa oleh Zara, pikiran Sean melayang merasa bingung dengan apa yang harus Ia lakukan saat ini.


Ia benar benar tak bisa kehilangan dan jauh dari Zara namun sepertinya Zara butuh waktu untuk sendiri.


Cukup lama Sean terdiam akhirnya Sean bangkit dari duduknya dan keluar dari rumah Zara.


Sean kembali memasuki mobilnya,


"Jadi kita mau kemana Tuan?" tanya Ricky melihat Sean sudah berada di mobil.

__ADS_1


"Apa di sekitar sini ada hotel?" Tanya Sean membuat Ricky mengerutkan keningnya bingung.


"Sepertinya tidak ada Tuan."


"Ck, coba kita cari dulu. aku harus tinggal disekitar sini untuk sementara waktu sampai Zara mau pulang kerumah." ungkap Sean.


"Baiklah Tuan, jika seperti itu saya akan mencoba mencarinya."


Ricky segera melajukan mobilnya dan menyusuri sekitar perkampungan Zara, berharap bisa menemukan hotel.


Cukup lama Ricky mencari dan akhirnya Ia mendapatkan hotel yang tidak terlalu jauh dari perkampungan tempat tinggal Zara.


"Di sini bagaimana Tuan?"


Sean mengangguk setuju, "Aku akan memesan kamar, dengarkan aku. tugasmu sekarang ambilkan beberapa baju ganti untuk ku juga laptop yang ada dikantor. mulai hari ini aku akan bekerja dari sini."


"Ta-tapi Tuan, bagaimana jika Tuan Anggara tahu?"


"Aku akan bilang pada Naya agar merahasiakan ini dari Papa."


"Baiklah Tuan,"


Sean segera keluar dari mobil dan memasuki hotel diikuti oleh Ricky.


Setelah mendapatkan kamar yang layak untuk Sean, Ricky segera kembali ke mobil untuk melaksanakan tugas yang baru saja diberikan oleh Sean.


"Kenapa Pak Sean harus mendadak mengatakan ini padahal aku sudah menyetujui pertemuan untuk besok." ungkap Naya kesal kala Ricky sudah sampai dikantor Sean untuk mengambilkan laptopnya.


"Sudah lah jangan banyak protes, turuti saja perintah Tuan Sean, dari pada kau dipecat." balas Ricky santai.


"Kau gila, besok pertemuan dengan pihak rajawali juga pihak dari Pak Zayn, aku mana bisa menghadapi mereka." Naya nampak frustasi.


"Mau bagaimana lagi, sudah menjadi resiko seorang sekretaris kan?" ejek Ricky lalu berjalan keluar meninggalkan Naya yang masih saja mengomel.


"Dasar menjengkelkan." gerutu Naya.


"Ah iya dan satu lagi, jangan sampai Tuan Anggara tahu jika Tuan Sean tidak datang ke kantor." kata Ricky menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Naya.


"Aku akan mengatakan semua pada Pak Anggara." ancam Naya masih dengan wajah kesal.


"Oh baiklah, terserah saja jika kau ingin dipecat oleh Tuan Sean." ejek Ricky dan kembali berjalan keluar.

__ADS_1


Naya hanya bisa menghentak hentakan kakinya kesal karena sikap menyebalkan Ricky.


Ricky kini kembali melajukan mobilnya menuju rumah Sean, Disana Ia meminta tolong pada Mbok nah untuk mengambilkan beberapa baju Sean.


"Mbok Nah sedih liat Tuan sama Non Zara marahan gitu gara gara mak lampir nggak tau malu itu." ungkap Mbok Nah dengan nada kesal.


"Sama Mbok, aku juga. bayangin aja harusnya aku bisa pulang buat ketemu sama istri ku ee sekarang malah bolak balik dari kota ke kampung." keluh Ricky.


"Diajak pulang ke kampung aja."


Ricky terdiam sejenak memikirkan ide dari Mbok Nah,


"Ide bagus mbok, tapi kalau Non Zara sampai tahu gawat lah."


"Kamu ikut nyewa kamar hotel aja, itung itung bulan madu."


"Wah iya, ide bagus itu Mbok." Ricky langsung setuju dengan ide cemerlang Mbok Nah.


Setelah membawa sekoper baju milik Sean, Ricky pulang kerumahnya lebih dulu untuk menjemput istrinya.


"Kok dadakan sih mas?" tanya Imah heran karena tiba tiba Ricky mengajaknya menginap diluar kota, beruntung Ia sedang libur mengajar selama beberapa hari jadi tak perlu repot izin.


"Tuan Sean sama Non Zara marahnya juga dadakan gimana dong."


"Marahan kenapa mas?" Imah nampak terkejut dan khawatir.


"Ada masalah pokoknya, kamu nggak perlu ikut campur sayang."


"Lho nggak bisa gitu dong, aku kan sahabatnya Zara jadi kalau ada apa apa jelas aku harus ikut campur." protes Imah tak terima.


"Ini cuma kesalahpahaman, jadi biar Tuan Sean sendiri yang menyelesaikan. Please kita pantau saja tidak perlu sampai ikut campur." pinta Ricky yang akhirnya membuat Imah mengangguk, menuruti perintah suaminya itu.


Keduanya sampai dihotel tengah malam, Ricky langsung mengantar koper dan laptop kekamar Sean.


"Kenapa kau malah mengajak istrimu?"


"Maafkan saya Tuan, jika Tuan di sini berarti saya juga harus standby disini maka dari itu saya mengajak istri saya untuk ikut menginap disini karena saya kasihan jika sampai istri saya kesepian dirumah sendiri."


"Huh alasanmu, bilang saja kau tidak bisa jauh dari istrimu!"


Ricky langsung tersenyum nyengir mendengar omelan Sean.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


jangan lupa like vote dan komeen


__ADS_2