
Zayn memasuki kamar mandi dan langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk menghilangkan hasrat inginnya pada tubuh Anya. Tubuh yang membuatnya candu bahkan tak lagi menginginkan wanita lain, hanya ingin Anya yang menuntaskan hasratnya itu.
"Sial..." guman Zayn berkali kali mengucapkan umpatan kekesalan pada dirinya sendiri.
Jika saja Anya seperti wanita lain yang selalu sukarela memberikan tubuh pada dirinya tanpa menangis mungkin Zayn tadi akan menyeret Anya ke kamar dan langsung menikmatinya sampai puas namun karena Anya yang sering kali menangis saat keduanya bercinta membuat Zayn semakin lama semakin tak tega.
sebrengsek brengseknya Zayn , Ia juga memiliki perasaan dan tak mau terus terusan memaksa Anya untuk melayani birahinya itu.
Zayn keluar dari kamar mandi, Ia melihat sudah ada segelas susu hangat dimeja kamarnya. Tanpa disadari Zayn tersenyum mengingat sejak Anya tinggal disini, setiap pagi selalu ada kopi hangat dan malamnya segelas susu. Anya benar benar sangat memperhatikan dirinya.
Zayn menghabiskan segelas susu hangat itu, Ia turun ke bawah untuk meletakan gelas kotor juga mengecek Anya apa masih didapur namun nyatanya Anya sudah tidak ada didapur.
Kaki Zayn mendadak melangkah menuju kamar Anya yang terletak dilantai bawah, Zayn membuka pintu yang tak dikunci itu dan tersenyum licik mengingat Zayn sengaja memberikan kamar Anya tanpa kunci agar dirinya bisa leluasa masuk.
Zayn melihat Anya sudah berbaring dan menyelimuti tubuhnya, mata Anya bahkan sudah terpejam.
Zayn berjalan mendekat, menatap wajah Anya lekat lekat.
Jika dilihat, wajah Anya sangat cantik tidak berbeda jauh dari Zara wanita yang sangat Zayn gilai itu.
Yang berbeda hanya pada pipi saja, Zara terlihat chubby sementara Anya memiliki pipi yang tirus.
"Kenapa baru datang sekarang? seharusnya datang lebih awal jadi aku tidak perlu repot menyukai istri orang." gumam Zayn masih terus memandangi wajah Zayn.
Grokk.... suara ngorok Anya terdengar membuat Zayn langsung terkekeh, tak menyangka jika Anya yang pendiam dan penakut jika tidur suara ngoroknya terdengar.
Puas memandangi wajah Anya, Zayn keluar dari kamar Anya. Zayn keluar dan terkejut saat Mbok Jah juga lewat depan kamar Anya.
"Tu-tuan..." mbok Jah nampak terkejut saat melihat Zayn keluar dari kamar Anya.
"Ak-aku hanya melihat dia tidur, tidak melakukan apapun!" kata Zayn tiba tiba dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Mbok Jah yang kebingungan.
"Padahal saya tidak tanya?" heran Mbok Jah merasa aneh. selama tinggal dirumah Zayn bersama Anya, Mbok Jah memang kerap melihat Zayn yang curi pandang pada Anya, membuat Mbok jah paham jika mungkin Zayn menyukai Anya dan Mbok Jah juga sering melihay Zayn keluar masuk kamar Anya saat tengah malam, entah apa yang Zayn lakukan, Mbok Jah tak peduli karena itu bukan urusannya.
"Sial, kenapa juga aku harus memberi penjelasan pada Mbok Jah!" Zayn merasa kesal pada dirinya, padahal asisten rumah tangga nya yang dulu sering melihat dirinya bercinta dengan Tisa dan Zayn biasa saja tapi sekarang saat Mbok Jah tahu dirinya keluar dari kamar Anya malah mejadi panik sendiri.
Paginya Zayn sarapan bersama Raisa yang tak henti hentinya mengoceh memuji masakan Anya yang sangat enak.
__ADS_1
"Kemarin Raisa dibikini mie sama tante rasanya enak banget Pa." jelas Raisa.
"Mie? sejak kapan Raisa boleh makan Mie?" Tanya Zayn dengan tatapan tajam membuat Raisa seketika menutup mulutnya.
"Ketauan deh."
"Papa tanya sejak kapan Raisa makan mie?" Zayn mulai curiga.
"Waktu sama Nani suka dibuatin mie Pa..."
Zayn mengepalkan tangan nya kesal, "Sial! wanita itu benar benar!"
"Kemarin Tante juga bikinin Raisa tapi enak kok Pa, kata tante sehat juga." jelas Raisa.
"Anyaa..." Suara Zayn nampak mengelegar membuat Anya yang sedang menyiapkan bekal sekolah Raisa jadi terkejut.
"Saya dipanggil?" tanya Anya memastikan.
"Kata siapa kamu boleh memberi Raisa mie instan?"
"Mie instan? saya tidak pernah memasak mie instan." Anya membela diri.
"Papa marah gara gara tahu aku makan mie tante, padahal mie yang tante bikin kan sehat ya?" jelas Raisa yang akhirnya membuat Anya jadi tahu apa masalahnya.
Anya berjalan ke kulkas lalu mengambil tepak berisi mie buatan nya semalam, "Karena Raisa suka mie dan suka meminta mie jadi saya buatkan mie sehat untuk Raisa semalam. soal bahan dijamin lebih sehat, kalau tidak percaya mau saya buatkan?" tawar Anya memperlihatkan tepak berisi mie warna hijau pada Zayn.
"Ehkem, boleh tapi nanti malam saja." kata Zayn yang langsung diangguki oleh Anya.
"Papa udah nggak marah lagi kan?" tanya Raisa polos.
"Memang kapan Papa marah."
"Ck, barusan Papa galak sama tante, jangan galak galak Pa nanti tante nya kabur loh." Raisa mengingatkan membuat Zayn menjadi salah tingkah.
Setiap hari jumat, sebelum berangkat sekolah seperti biasa Zayn juga Raisa mampir ke toko bunga untuk membeli bunga yang nantinya akan diletakan pada makam Nisya, Mama Raisa yang sudah meninggal dunia.
"Saya tunggu di sini saja." kata Anya saat sudah sampai didepan lokasi pemakaman umum.
__ADS_1
"Tidak, kau harus ikut masuk!" perintah Zayn yang membuat Anya mau tak mau ikut masuk ke area pemakaman.
Anya berjalan dibelakang Zayn yang kini mengendong Raisa, hingga ketiganya berhenti disalah satu makam yang cukup terawat.
Nisya Isyara Binti Hermanto.
Nama yang tertulis dibatu Nisan itu, Nisya nama mantan istri Zayn yang sudah meninggal, batin Anya.
Anya berdiri tak jauh dari Zayn juga Raisa yang tengah duduk disebelah makam. nampak Raisa yang meletakan bunga dimakam sang Mama.
"Pagi Mama ku sayang." sapa Raisa dengan suara lembut yang entah mengapa membuat Anya menjadi merinding.
Raisa gadis kecil yang harusnya mendapatkan kasih sayang kedua orangtua nya kini harus dewasa sebelum waktunya karena kehilangan sang Mama.
"Pagi Nisya..." Sapa Zayn yang kemudian mencium batu nisan milik Nisya.
Raisa dan Zayn berbincang bincang didepan makam, seolah Nisya masih ada. Mereka menceritakan apapun.
Anya yang melihat dan mendengar itu, menjadi ikut terharu.
Tak menyangka jika Zayn, bosnya yang selalu dingin, kasar dan kejam padanya bisa selembut ini, memiliki perasaan seteduh itu.
Dibalik semua sifat kerasnya nyatanya ada kesedihan yang disembunyikan oleh Zayn.
"Duduklah sini..." pinta Zayn saat Anya hanya mematung dan berdiri.
Anya segera menuruti perintah Zayn, duduk disamping Raisa.
"Perkenalkan Nisya, dia Anya. Nani baru nya Raisa." kata Zayn yang membuat Anya hanya menunduk saja. Tak tahu apa yang harus Ia katakan didepan makam mantan istri bosnya itu.
"Tapi seperti sebentar lagi bukan hanya Nani saja, aku ingin menikahinya untuk menjadi istriku juga ibu sambung putri kita."
Anya yang sedari tadi menunduk kini mendongak dan menatap ke arah Zayn tak percaya.
Benarkah... benarkan Zayn akan menikahinya?
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komeen