BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
133


__ADS_3

Zara baru saja selesai membuatkan sarapan untuk Sean pagi ini, Ia lalu naik ke atas untuk memanggil Sean sarapan bersama. Tadinya Zara pikir Sean sudah mandi dan siap dengan setelan kantornya namun nyatanya, suaminya itu kini kembali terlelap tidur seusai sholat subuh berjamaah.


Setelah terdiam cukup lama, Zara akhirnya memberanikan diri untuk membangunkan suaminya karena takut Sean terlambat ke kantor, meskipun Sean anak pemilik perusahaan, Zara ingin Sean memberi contoh yang baik untuk semua karyawan nya.


"Mass... bangun."


Dengan gerakan pelan, Zara mengoyangkan tubuh suaminya.


"Iya 5 menit lagi." gumam Sean.


Zara cukup heran dengan suaminya, semalam mereka tidur lebih awal dari biasanya namun sekarang Sean seperti masih mengantuk berat.


"Mungkin mas Sean kelelahan." batin Zara yang akhirnya membiarkan Sean kembali tidur.


Zara kembali turun kebawah, tadinya Zara membuatkan Sean teh madu namun sekarang Ia ganti menjadi kopi susu.


"Kenapa diganti Non?" Tanya Mbok Nah yang baru saja masuk ke dapur membawa alat pel lantai.


"Kayaknya mas Sean ngantuk berat mbok, jadi diganti kopi saja."


"Ohh iya semalem Aden nggak bisa tidur."


"Haa?" Zara menatap Mbok Nah dengan tatapan terkejut.


"Iya, semalem mbok kaget ada Aden lagi jalan jalan keliling rumah trus bilang sama Mbok suruh ngepel semua ruangan pagi pagi sebelum Non bangun. ini mbok baru selesai ngepel belakang rumah jadi nggak bisa bantuin Non Zara masak."


"Zara malah nggak nyadar kalau lantainya udah dipel." Kata Zara sambil terkekeh melihat lantainya sudah bersih kinclong dan tidak licin.


"Pokoknya mulai sekarang Mbok Nah bakal ngepel lantai setiap pagi biar Non Zara aman."


"Pasti gara gara aku jatuh kemarin itu ya Mbok?" tanya Zara merasa tak enak.


"Nggak kok Non, kan memang sudah kewajiban Saya membersihkan rumah." balas Mbok Nah yang membuat Zara berdecak.


Zara membawakan secangkir kopi ke kamar, saat membuka kamar Ia melihat Sean sudah bangun, sedang memakai setelan kantornya.


"Kirain masih belum bangun."


Zara meletakan kopi dimeja lalu membantu suaminya mengenakan dasi. terlihat Sean hanya tersenyum tipis membalas ucapan Zara.


"Kata Mbok, mas semalam nggak bisa tidur ya?" tanya Zara sambil mengerakan tangan nya memasang dasi.


"Hmm, iya."


"Ada apa mas? apa lagi ada masalah?"

__ADS_1


Lagi lagi Sean tersenyum tipis, "Nggak ada sayang, emang lagi nggak bisa tidur aja semalam."


"Aku kok nggak tahu ya kalau mas nggak bisa tidur." heran Zara yang langsung membuat Sean terkekeh.


"Kamu pules banget, disenggol berkali kali aja nggak bangun."


"Ck, nggak gitu juga mas." Zara langsung cemberut mendengar ejekan suaminya.


Cup... Sean langsung memberikan kecupan bibir,


"Nggak usah manyun manyun gitu lah, bikin pengen aja."


"Ck, semalem udah juga mas."


"Pengen lagi." pinta Sean dengan mata puppy eyes membuat Zara gemas dan tak tahan untuk tidak tertawa.


"Udah ah, kopinya diminum dulu trus kita sarapan bareng."


"Siap ibu negara."


Zara kembali terkekeh dan menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Sean.


Selesai sarapan, Sean siap untuk berangkat. Dan saat mengantar Sean keluar Zara dikejutkan oleh kedatangan Imah sahabatnya.


"Aku mau di sini seharian." ungkap Imah kala keduanya baru saja selesai berpelukan.


"Libur dong." pamer Imah yang langsung membuat Zara bersorak gembira.


"Aku berangkat dulu." pamit Sean mengecup kening Zara setelah Zara mencium tangan nya. Mata Sean sempat melirik ke arah Eddy yang tengah memperhatikan Zara dan dirinya.


Sial memang batin Sean mengepalkan tangan nya tanpa diketahui oleh Zara.


Seperti biasa, Eddy membuka kan pintu mobil agar Sean bisa masuk,


"Jaga rumah baik baik." pinta Sean pada Eddy.


"Siap laksanakan Tuan."


Sean tersenyum tipis lalu menutup pintu mobil.


Mobil mulai melaju keluar dari pekarangan rumah, sementara Zara langsung mengajak Imah masuk kerumah dan Eddy masih saja memperhatikan gerak gerik Zara tanpa sepengetahuan Zara.


"Mau ngapain kita nih?" tanya Zara saat dirinya dan Imah sudah duduk didalam rumah.


"Enaknya sih bikin cemilan buat nonton film."

__ADS_1


Zara langsung mengangguk setuju, "Ide bagus."


Keduanya pun langsung berkutat didapur, membuat cemilan dengan bahan seadanya.


Setelah cemilan jadi, mereka kini menonton film sambil asyik menceritakan banyak hal.


Berbeda dengan para istri yang tampak senang dan ceria, Kini Ricky berada di fase tegang dimana mendadak Sean memintanya berhenti dipinggir jalan dan menanyakan pertanyaan yang membuat Ricky tak bisa menjawab dengan cepat.


"Apa kau benar benar mendapatkan Eddy dari tempat agen?"


Ricky terlihat panik dan bingung harus menjawab apa, jika Ricky jujur sudah pasti Ia akan mendapatkan amarah dari Sean namun jika Ricky bohong pun juga akan mendapatkan masalah besar nantinya.


"Kenapa kau hanya diam saja? katakan yang sebenarnya padaku."


Karena merasa terdesak, akhirnya Ricky menjawab dengan takut, "Sebenarnya Eddy bukan berasal dari agen Tuan. maafkan saya."


Ricky melihat wajah terkejut Sean namun seketika Sean berusaha biasa saja, "Jadi, ceritakan detailnya."


Ricky menelan ludah takut melihat wajah Sean berubah emosi, sebelum akhirnya Ia menceritakan pada Sean.


"Waktu itu saya perjalan menuju agen dan tak sengaja menabrak Eddy. saya berniat menolong dan membawanya kerumah sakit namun Eddy bilang dirinya tidak apa apa dan hanya butuh pekerjaan, karena dia mengatakan jika pernah bekerja sebagai satpam jadi saya tertarik dan membawa kepada Tuan, maafkan saya Tuan."


Sean terdiam cukup lama, Ia memang curiga jika Eddy bukan orang sembarangan. Ia yakin ada rencana jahat yang Eddy buat untuk menghancurkan keluarganya mengingat semalam Ia melihat Eddy membawa botol yang Sean sendiri tak tahu itu apa dan saat Sean mengecek lantai depan rumah sudah bercecer minyak yang akan membuat lantai licin, sudah pasti Eddy pelakunya karena selama ini sebelum ada Eddy tak ada kejadian Zara sampai terpleset seperti kemarin.


Benar benar berbahaya.


Sean mengambil ponselnya yang berada disaku lalu mendial nomor sang Papa.


"Pa aku butuh 2 orangnya Papa."


"Ya tapi tidak sekarang, nanti saja untuk berjaga jaga." kata Sean lalu menutup panggilan nya.


Ricky yang mendengarkan ucapan Sean tentu saja sangat terkejut, "Apa terjadi sesuatu Tuan?"


"Ya, karena kecerobohanmu mencari sembarang orang membuat istriku hampir celaka." balas Sean menatap Ricky kesal.


Ricky lagi lagi dibuat terkejut, "Ta tapi kenapa bisa Tuan?"


Sean hanya diam saja, Ia nampak memikirkan sesuatu.


"Jika memang Eddy orang yang berbahaya, pecat saja Tuan."


Sean tersenyum, "Tidak semudah itu, aku harus tahu siapa dia dan apa motifnya melakukan semua ini."


Ricky mengangguk setuju, Ia merasa bersalah karena telah membawa orang yang salah juga tak menyangka jika Eddy bukan orang baik seperti yang dia pikirkan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like vote dan komeeennn


__ADS_2