BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
38


__ADS_3

Setelah Raisa dan Zayn tak terlihat, Sena nampak mendekati Zara.


"Dia sering datang kesini mbak tapi aku malah nggak kenal, kok mbak Zara malah kenal banget kayaknya." Sena terlihat penasaran.


"Kemarin ketemu di rumah sakit waktu dikampung. nggak nyangka sekarang ketemu lagi."


"Ohh pantesan kayak udah akrab."


"Kasihan Raisa, ternyata Mama nya sudah meninggal." ungkap Zara terlihat sedih.


"Haaa? jadi mas ganteng tadi itu duda?" Sena nampak terkejut.


Zara menatap Sena sambil tersenyum, "Kamu naksir?"


"Eh enggak, apa sih mbak." pipi Sena langsung memerah malu membuat Zara tersenyum geli.


"Namanya Zayn kalau kamu mau tahu." kata Zara langsung pergi meninggalkan Sena.


"Ih mbak Zara apa sih, aku nggak naksir." balas Sena sedikit berteriak lalu berlari mengejar kakak iparnya itu.


Siang harinya, seperti janji Sean jika akan datang untuk menjemput Zara. sebenarnya Zara masih ingin menemani Sena namun Sean memaksa mengajak Zara pulang dan akhirnya Zara ikut pulang diantar Sean.


Sebelum sampai dirumah Sean membelokan mobil ke sebuah restoran.


"Makan dulu di sini biar kamu nggak perlu repot masak untuk makan siang." kata Sean melepaskan seatbeltnya dan mengajak keluar Zara.


"Udah kewajiban aku mas masak makan siang buat kamu jadi aku nggak merasa direpotkan." balas Zara yang juga sudah melepaskan seatbeltnya.


Cup... Sean mengecup bibir Zara membuat Zara terkejut,


"Mas, kalau ada yang lihat gimana?"


Sean terkekeh, "Kita mau main di sini aja juga nggak bakal ada yang lihat sayang kan didalam mobil."


"Tetep aja mas, keliatan dari luar."


"Ya nggak apa apa biar yang lihat bisa nonton film blue secara live." balas Sean cengengesan.


"Astagfirullah mas,"


"Aku bercanda sayang, gitu langsung di istigfarin. memangnya aku setan." kata Sean dengan nada kesal dan kini giliran Zara yang terkekeh.


"Mana ada setan ganteng." gumam Zara disela tawanya.


"Kamu bilang apa?" samar samar Sean mendengar Zara menyebutnya ganteng.


"Nggak bilang apa apa mas." kata Zara malu lalu keluar dari mobil lebih dulu.


Sean tertawa melihat tingkah istrinya yang kini sudah banyak peningkatan itu.

__ADS_1


Jika dulu Zara lebih sering terdiam, sekarang sudah bisa mengodanya.


Mereka sudah berada didalam restoran. Suasana cukup ramai karena mereka datang saat jam makan siang.


"Harusnya tadi cari yang sepi mas." keluh Zara.


"Kamu nggak nyaman?" tanya Sean.


Zara mengangguk, Ia merasa sedari tadi banyak pasang mata yang memperhatikan dirinya. Mungkin karena kebanyakan wanita yang datang memakai pakaian tanpa hijab sementara dirinya datang mengenakan setelan gamis dan hijab.


"Ya udah kita pindah tempat lain aja." ajak Sean langsung berdiri.


"Jangan mas, kita udah pesan makanan." kata Zara meminta Sean kembali duduk.


"Nggak masalah, tinggal bayar udah beres." kata Sean santai.


"Makanan nya nggak kemana dong? mubazir mas." Zara mengingatkan membuat Sean nampak menghela nafas panjang.


"Ck, kasian kamu itu kalau nggak nyaman."


Zara tersenyum, "Padahal aku yang nggak enak sama mas."


"Lho kenapa malah aku?" Sean heran.


"Mereka pada ngeliatin aku aneh, aku takut bikin mas malu soalnya penampilan aku kayak gini, beda banget sama mereka." jelas Zara membuat Sean akhirnya ikut memperhatikan siapa yang memandangi Zara.


Dan raut wajah Sean seketika berubah kesal, "Pada minta dicolok matanya!"


"Mereka itu lihat kamu bukan mau ngolok olok tapi mereka ngeliat karena suka sama kamu. lihat saja tuh matanya pada mau copot kayak nggak pernah ngeliat cewek cantik aja." kesal Sean menatap ke arah para pria yang memandangi istrinya penuh kagum.


Semua pria yang tadinya memandang Zara pun akhirnya menunduk setelah Sean menatapi mereka dengan tatapan mengancam.


"Resiko punya bini cakep." kata Sean mambuat Zara tersenyum dengan rona merah di pipinya.


Setelah makanan datang, Sean makan dengan terburu buru dan langsung mengajak Zara pergi dari sana.


"Besok makan siang dirumah saja." Sean masih kesal padahal sekarang keduanya sudah berada didalam mobil.


"Udah mas, masa marah marah terus."


"Ya gimana lagi, mereka rese semua ngeliatin kamunya gitu banget." ungkap Sean.


Zara hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.


Sesampainya dirumah, Sean tak langsung berangkat ke kantor. Ia malah mengajak Zara berbaring di ranjang setelah sholat dzuhur.


"Memang sudah tidak ada pekerjaan dikantor mas?" tanya Zara yang kini sudah berbaring disamping suaminya.


"Nggak ada, jadi santai lagian besok aku libur." kata Sean tak henti hentinya menciumi pipi Zara.

__ADS_1


"Lepas ah hijabnya." kata Sean yang langsung membuat Zara melepaskan hijabnya. Dengan senyuman nakal, Sean mulai menciumi leher putih mulus milik Zara.


Zara memejamkan matanya, merasakan sensasi luar biasa saat bibir Sean menempel dikulitnya.


"Aku mau sayang." tangan Sean langsung membuka kancing gamis Zara.


"Selalu ganggu pikiran aku kalau lagi dikantor, maunya main terus sama kamu." kata Sean langsung memulai permainan panasnya.


Zara terbaring lemas, semalam sudah 3 ronde dan baru saja Sean mengajaknya 2 ronde belum malam nanti pasti Sean menagih lagi. kadang Zara heran kenapa suaminya bisa sekuat itu, meminta terus menerus. Meski begitu tetap saja Zara tidak bisa menolak hasrat suaminya.


"Kalau besok libur, apa boleh aku pulang mas?" tanya Zara saat keduanya tengah berbaring sambil memandangi langit atap.


"Pulang kemana? rumah kamu di sini."


"Maksud aku, kerumah Ayah ibu."


Sean mengangguk paham, "Udah kangen?"


"Iya mas, boleh nggak?"


Sean tersenyum dan mengangguki keinginan Zara membuat Zara akhirnya bersorak gembira.


"Tapi satu ronde lagi." kata Sean langsung berada diatas Zara.


"Mass..." keluh Zara yang tak didengar oleh Sean.


Malamnya...


Sean duduk diblankon kamarnya sambil menyesap rokok yang masih setengah, pintu kamar terbuka dan Zara berjalan ke arahnya sambil membawa secangkir kopi.


"Temenin." pinta Sean yang langsung diangguki Zara.


Zara duduk disamping Sean, Ia menatap ke arah langit dimana malam ini sama sekali tidak ada bintang.


"Mendung jadi nggak ada bintangnya." gumam Zara.


Sean malah tertawa mendengar ucapan Zara, "Mas kok malah ketawa?" heran Zara karena merasa ucapan nya tidak ada yang lucu.


"Aku kalau denger mendung sama hujan jadi keinget pas kita mampir ke hotel melati." kata Sean yang langsung membuat Zara ikut tersenyum mengingatnya.


"Awal aku menyentuhmu dan awal kita membuka hari sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya." kata Sean sambil tersenyum.


"Tapi kenapa harus dihotel melati," Sean tertawa sementara Zara hanya diam mendengar ocehan suaminya.


Zara melihat mood suaminya sangat baik malam ini jadi dirinya memberanikan diri untuk bertanya pada Sean.


"Mas apa aku boleh mengajar lagi?"


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen...


__ADS_2