BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
23


__ADS_3

Sean menutup pintu kamar hotel, Ia lalu melihat isi kamar hotel yang tidak terlalu besar itu.


"Lumayan juga nih, meskipun hotel murahan tapi bersih dan nyaman." gumam Sean.


"Baju mas basah semua." kata Zara yang kini duduk di pinggir ranjang sambil menatap ke arah suaminya.


Sean berjalan mendekat dan berlutut didepan Zara, "Jilbab kamu juga basah, lepas gih."


Zara mengangguk, menuruti ucapan Sean melepaskan jilbabnya.


Sean duduk disamping Zara, memainkan rambut Zara dan mengelusnya. Tangan Sean menangkup kedua pipi Zara dan cup, satu ciuman mendarat di pipi Zara.


"Tadi aku di kasih jubah mandi, mau pakai nggak? ini bersih." Sean memperlihatkan dua buah jubah mandi warna biru pada Zara.


Zara menggeleng, "Mas aja, bajuku nggak basah kok."


Sean mengangguk dan langsung memasuki kamar mandi untuk membersihkan badan nya juga memakai jubah mandi nya.


Sean keluar dari kamar mandi dan melihat Zara tengah menyisir rambut panjangnya didepan cermin.


Sean berjalan mendekat lalu memeluk Zara dari belakang membuat Zara terkejut.


"Ehm, mas kayaknya aku mandi dulu aja ya." kata Zara merasa tak nyaman karena dirinya baru pulang mengajar langsung diajak jalan jalan oleh Sean.


"Kenapa? masih wangi ini." kata Sean menciumi leher Zara membuat Zara merasakan gelenyar aneh, geli namun terasa nikmat.


"Aku mandi dulu ya mas." pinta Zara melepaskan tangan Sean yang merengkuh pinggangnya.


"Aku ikut boleh?" goda Sean sambil tersenyum nakal.


"Ja-jangan mas!"


Sean terkekeh dan melepaskan pelukan nya, "Ya sudah sana."


Segera Zara mengambil jubah mandi yang tadi ditawarkan oleh Sean lalu memasuki kamar mandi.


Didalam kamar mandi, Zara mengatur degup jantungnya karena pelukan Sean baru saja.


"Tenang Zara, tenang... ini sudah kewajibanmu sebagai seorang istri jadi jangan menghindar lagi." gumam Zara.

__ADS_1


Zara bergegas melepaskan pakaian nya satu persatu hingga dirinya polos tanpa sehelai benangpun. Zara menguyur tubuhnya dengan air tak lupa memakai sabun hotel agar terasa wangi.


Selesai mandi, Zara langsung memakai jubah mandi tanpa ada satu pakaian didalamnya. Meski bajunya tidak basah namun rasanya sudah tidak nyaman dipakai karena sejak pagi sudah dipakai untuk bekerja.


Dengan langkah pelan Zara keluar dari kamar mandi. menatap ke arah Sean yang duduk di pinggir ranjang sambil menghadap ke pintu kamar mandi. Sean tersenyum ke arahnya membuat Zara sangat gugup. Pelan pelan Zara mendekati Sean hingga kini dirinya berada didepan Sean.


Sean mengenggam tangan Zara, Lalu mencium tangan halus milik Zara.


Sean berdiri dan menguncir rambut Zara agar leher jenjang nan putih milik Zara terlihat, setelah itu Ia kembali duduk.


Tangan Sean terangkat dan menarik tali jubah mandi yang dipakai Zara hingga jubah mandi itu terbuka dan memperlihatkan tubuh polos Zara tanpa sehelai benangpun.


Mata Sean terpesona dengan keindahan tubuh Zara yang masih alami itu. Bahkan Sean memandangnya tanpa berkedip sama sekali.


Deg ... deg... deg... jantung Zara berdegup sangat kencang, wajahnya sudah memerah malu karena untuk pertama kalinya ada orang lain yang melihat tubuhnya meskipun itu suaminya sendiri. Tangan Zara sedikit bergetar karena merasa sangat gugup dan takut.


Zara bahkan sempat menutupi tubuhnya dengan kedua tangan nya namun Sean segera melepas tangan Zara hingga tubuh Zara kembali terekspos.


Sean menarik tangan Zara lalu Sean membawa Zara berbaring di ranjang. Jari jari Sean terangkat dan menyusuri wajah halus Zara, berjalan semakin ke bawah hingga ke area sensitif tubuh Zara membuat mata Zara terpejam karena merasakan sesuatu yang belum pernah Ia rasakan.


Tak menunggu waktu lama lagi, Sean langsung ******* bibir ranum milik Zara. Bibir yang sejak kemarin mengoda nya yang belum sempat Ia sentuh karena terlalu banyak gangguan yang terjadi.


"Aku ingin melakukan nya sekarang, apakah boleh?" tanya Sean sambil menatap Zara. tatapan sayu juga ingin membuat Zara tak tega untuk menolak.


"Aku takut sakit mas," Zara mengingat ucapan teman sesama guru yang sudah menikah, mereka mengatakan jika malam pertama itu akan menyakitkan dan itu membuat Zara sedikit takut.


"Aku akan pelan pelan sayang, hmm." Sean masih menunggu jawaban dari Zara.


Zara pun akhirnya mengangguk membuat Sean tersenyum dan melanjutkan aktifitas panas mereka lebih dalam.


Sean kini tengah memandangi wajah Zara yang terlelap. Sebelumnya Zara menangis karena merasa kesakitan membuat Sean hanya melakukan satu kali saja. Ya satu kali rasanya memang belum cukup namun Sean juga tak tega melihat Zara menangis karena kesakitan. Ini pertama kalinya untuk Zara jadi mungkin Sean harus lebih bersabar lagi.


Sean bangun untuk mengambil ponselnya. Sean langsung mengaktifkan ponsel yang tadi sengaja Ia matikan karena tak ingin mendapat gangguan seperti yang biasa terjadi saat hendak melakukan dengan Zara.


Bunyi ponsel Sean bersahutan tanda jika banyak notifikasi pesan masuk. Dan Sean sudah mengira siapa yang mengiriminya pesan, sudah pasti itu adalah Papa nya.


Tak berapa lama ponsel Sean berdering, Sean tersenyum sejenak lalu segera menjawab panggilan itu.


"Iya Papa ku sayang." balas Sean cengegesan. Sean bangkit dan berjalan menjauh dari ranjang karena takut suaranya akan menganggu Zara.

__ADS_1


"Gila kamu Sean! bisa bisanya kamu bolos pertemuan dengan pihak rajawali!" sentak Anggara dari dalam telepon.


"Tapi udah Papa gantikan kan?" balas Sean santai.


"Sebenarnya kamu dimana? nemuin Sella iya? kemarin kamu beli tiket ke bali buat ketemu Sella?"


Sean langsung berdecak sebal, bagaimana Papa nya bisa tahu jika dirinya kemarin sempat ke bali.


"Enggak Pa, nggak ketemu kok."


"Trus kamu dimana?" nada Anggara kembali meninggi.


"Sean ketemu Zara Pa, lagian Papa sih orang masih pengantin baru disuruh kerja." protes Sean.


"Jangan bohong kamu Sean, Papa bakal nyuruh anak buah Papa buat nyari kamu sekarang juga."


"Ya Allah Pa... nggak percaya sama anak sendiri. Sean beneran lagi sama Zara pa."


"Coba kamu foto Zara sekarang juga." kata Anggara masih tak percaya.


"Jangan lah Pa,"


"Jangan kenapa? ketahuan bohong kamu ya!" omel Anggara.


"Ck, bukan gitu pa, masalahnya Zara sedang tidur dan nggak pakai baju ekhem, masa mau Sean lihatin ke papa sih. bisa ngamuk ntar Mama." kata Sean yang langsung membuat Sang Papa memutuskan panggilan lebih dulu.


Sean terkekeh puas melihat sang Papa mematikan panggilan secara sepihak.


"Kenapa Pa? Sean dimana?" tanya Ranti yang sedari tadi berada disamping Anggara mendengarkan percakapan Anggara dengan Sean.


"Sean lagi proses Ma..."


"Proses apa sih pa?" Ranti penasaran dengan ucapan suaminya.


"Proses bikin cucu buat kita." kata Anggara yang langsung membuat Ranti tersenyum senang.


BERSAMBUNG...


jangan lupa like vote dan komenn

__ADS_1


__ADS_2