
Zara baru saja selesai melaksanakan sholat ashar, wajahnya masih memancarkan kesedihan yang mendalam meskipun Ia sudah mencoba beristigfar berkali kali agar hatinya lebih tenang namun jiwanya masih saja terguncang setelah mengetahui fakta sesungguhnya tentang Sean.
Meskipun itu hanyalah masa lalu dan sekarang Sean sudah menjadi suami yang baik untuknya namun tetap saja, rencana Sean dimasa lalu itu sangat menyakitinya.
Zara bahkan berandai andai, jika saja Sean belum bisa mencintainya, mungkin saat ini hidup Zara tidak akan seindah ini. Apalagi dirinya juga baru saja kehilangan orangtuanya.
"Ayah Ibu..." gumam Zara yang mendadak mengingat kedua orangtuanya.
Jika saja Ayah dan ibunya masih ada mungkin dirinya tidak akan senelangsa ini. Zara bisa saja pulang dan kembali pada orangtuanya namun sekarang... entah pada siapa Zara akan bertumpu yang jelas saat ini Zara memang tidak ingin memandang Sean.
Karena memandang Sean sama saja kembali mengingat ucapan Sella yang menyakitkan itu.
"Non Zara mau dibuatkan teh hangat?" tawar mbok Nah yang tahu jika kedua majikan nya ity sedang bertengkar apalagi melihat mata sembab Zara setelah Sella datang tadi pagi.
"Enggak mbok..."
"Non Zara mau dibikinin makan apa? siang tadi Non Zara belum makan lho." kata Mbok Nah mengingatkan.
Zara sebenarnya sedang malas untuk makan namun entah kenapa Ia merasa ingin makan sesuatu.
"Boleh minta tolong belikan gado gado saja Mbok?"
Mbok Nah langsung tersenyum senang, "Siap non, mbok berangkat beli sekarang ya?"
Zara mengangguk, segera Mbok Nah pergi keluar untuk membelikan pesanan gado gado Zara.
Tak butuh waktu lama, Mbok Nah bisa mendapatkan gado gado karena masih sore dan masih banyak yang menjual gado gado.
Mbok Nah menyiapkan gado gado serta segelas air putih dan akan dibawakan ke kamar Zara, namun baru sampai tangga, Zara nyatanya malah turun ke bawah.
"Makan dimeja makan aja Mbok."
Mbok Nah mengangguk dan langsung membawa nampan ke meja makan,
Tak butuh waktu lama Zara langsung menghabiskan seporsi gado gado membuat Mbok Nah lega karena meskipun sedang sedih Nyonya nya itu masih mau makan.
"Enak nggak Non? baru pertama kali beli disana."
"Alhamdulilah enak Mbok, kenapa cuma beli satu memangnya Mbok Nah nggak pengen?" tanya Zara.
__ADS_1
"Mbok Nah nggak suka gado gado non." balas Mbok Nah membuat Zara mengangguk paham.
Selesai makan, Zara bergegas menuju kamar karena mendengar suara mobil Sean didepan rumah.
Zara baru saja selesai menyiapkan baju ganti Sean, Ia hendak keluar bersamaan dengan Sean yang akan masuk ke kamar.
Zara menunduk dan melewati Sean begitu saja, awalnya Sean ingin menahan tangan Zara namun mengingat Zara sedang marah akhirnya Sean mengalah dan membiarkan Zara melewatinya.
Sean memasuki kamar, terkejut karena meskipun sedang marah namun Zara masih mau menyiapkan baju ganti untuknya.
Dan selesai mandi, Sean langsung bergegas ke bawah menuju meja makan. Disana juga sudah ada makan malam untuknya.
Sean mendengar suara Zara yang sedang membaca Alquran di bilik ibadah. Sean duduk, makan malam kali ini memang tidak ditemani oleh Zara namun Sean masih bisa mendengar suara Zara itu sangat melegakan untuknya.
"Itu saya yang masak Den..." kata Mbok Nah yang tengah membawakan segelas air putih untuk Sean.
"Ah pantas rasanya berbeda." batin Sean yang baru saja menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya.
Sean sedikit kecewa karena tadinya Ia pikir yang ada dimeja makan adalah masakan Zara namun meski begitu Ia mencoba mengerti karena memang Zara sedang marah padanya dan tak mungkin memasak untuknya.
"Apa tidak enak Den?" tanya Mbok Nah mengingat selama ada Zara, selalu masakan Zara yang dimakan oleh Sean.
"Apa Zara sudah makan?" tanya Sean nampak khawatir.
"Sudah kok Den, tadi minta dibelikan gado gado." balas Mbok Nah membuat Sean lega karena Zara masih mau makan meskipun Sean juga penasaran dengan Zara yang akhir akhir ini sering jajan diluar dibanding memakan masakannya sendiri.
"Saya malah mengira Non Zara sedang hamil tuan."
Sean terkejut dengan ucapan Mbok Nah.
"Soalnya akhir akhir ini Non Zara suka minta dibelikan jajan yang aneh aneh." jelas Mbok Nah.
"Apa orang hamil memang seperti itu Mbok?"
"Tidak semua kok Den, kadang memang ada yang seperti itu karena kan orang hamil gejalanya beda beda." Jelas mbok Nah lagi.
"Apa iya Zara hamil?" batin Sean saat Mbok Nah sudah meninggalkan dapur.
"Tapi jika memang hamil kenapa tidak mual atau merasakan seperti orang hamil pada umumnya?" batin Sean lagi namun seketika Sean menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa menanyakan hal ini pada Zara, bisa bisa Ia malah semakin marah padaku."
Sean bangkit dari duduknya, Ia tak ingin memikirkan hal lain karena yang ada dipikiran Sean saat ini hanyalah bagaimana membuat Zara memaafkannya, Ya hanya itu yang Sean pikirkan saat ini.
Sean mengambil air wudhu untuk sholat magrib, awalnya Sean pikir Zara akan menunggunya namun nyatanya Zara memilih sholat lebih dulu membuat Sean hanya bisa menghela nafas panjang.
Bahkan selesai sholat pun Zara menolak uluran tangan nya, Zara malah berbalik dan kembali melanjutkan membaca alquran.
lagi lagi Sean hanya bisa menghela nafas panjang, Ia memang harus sabar karena dirinya memang salah.
"Maafkan aku mas." batin Zara merasa bersalah karena tak menerima uluran tangan Sean untuk dia cium padahal biasanya Zara selalu mencium punggung tangan Sean setiap selesai sholat berjamaah.
Selesai sholat isya, Zara segera berbaring diranjang memunggungi Sean. Zara merasa tak nyaman saat Sean ikut masuk kamar dan berbaring disampingnya.
"Aku tahu kamu masih marah, sangat marah dan kecewa padaku. tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku tak akan menyerah untuk membuatmu kembali percaya padaku sayang." ungkap Sean saat keduanya sudah sama sama berbaring diranjang meskipun Zara masih memunggunginya.
"Bolehkan aku minta sesuatu padamu?" tanya Zara yang langsung membuat Sean tersenyum lega karena akhirnya Zara mengajaknya bicara.
"Tentu saja, katakan padaku sayang aku pasti akan mengabulkannya."
"Apapun itu?"
"Iya apapun itu."
"Bolehkah untuk sementara aku tinggal dirumah Ayah dan Ibu? sampai aku merasa tenang dan bisa menerima mu kembali."
Deg... Jantung Sean memompa sangat cepat, rasanya sakit sangat sakit.
"Apa ini artinya kamu akan meninggalkanku sayang?"
"Tidak, bukan begitu. aku hanya butuh waktu untuk berfikir. hanya itu saja mas." jelas Zara.
"Maaf, tapi aku tidak bisa mengabulkan itu sayang. kamu boleh mendiamkan ku sesukamu tapi untuk berpisah, aku tidak mau dan tidak akan bisa."
Air mata Zara kembali jatuh tanpa sepengetahuan Sean,
"Kamu egois mas..."
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEEN