
Setelah beberapa hari di rawat dirumah sakit, akhirnya Bahar bisa dibawa pulang. Meskipun harus rawat jalan dan memakai kursi roda karena kakinya yang retak namun kondisi Bahar sudah membaik.
Dibantu oleh para pengawal yang di kirim Anggara, Bahar dan keluarga akhirnya sampai dirumah.
Bahar segera dibawa ke kamar nya untuk istirahat begitu juga dengan Asih yang ikut istirahat karena selama beberapa hari berada dirumah sakit, Asih kurang tidur karena menemani Bahar.
Zara sedang membuatkan dua cangkir kopi untuk para pengawal yang berjaga di rumahnya malam ini. Meskipun sebenarnya Zara sedikit tak nyaman dengan keberadaan pengawal itu dirumahnya apalagi jika ada tetangga yang lihat pasti mereka menjadi bahan pembicaraan. Namun mau bagaimana lagi, saat ini keluarga Zara memang sedang membutuhkan pengawal demi keamanan dan keselamatan agar tak terjadi hal buruk lagi seperti yang menimpa Ayahnya.
Zara membawa dua cangkir kopi didepan dimana dua pengawalnya itu sedang duduk didepan sambil merokok dan berbincang.
"Duh repot repot Non." kata salah satu pengawal dengan wajah gembira melihat kopi hangat yang di bawakan oleh Zara.
"Hanya kopi." balas Zara meletakan kopi dimeja.
"Ehm, ngomong ngomong nanti kalian tidur dimana?" tanya Zara yang sedari tadi dipikirkan karena rumah Zara hanya ada dua kamar dan itupun sudah dipakai untuk dirinya juga orangtuanya.
"Halah, kita mah gampang Non. kita tidur dilantai asal ada tikar aja nggak apa apa."
"Hah, kasihan nanti kalian sakit. apa nggak sebaiknya kalian pulang dulu aja?"
Kedua pengawal itu terkekeh dengan pertanyaan Zara, "Sudah biasa dan sudah menjadi pekerjaan kami Non jadi nggak masalah.
"kami di sini tugasnya kan jagain keluarga Nona, kalau kami pulang ya percuma Tuan Anggara membayar kami." jelas pengawal itu.
Zara menghela nafas panjang, "Ya sudah, aku ambilkan tikar dulu."
Zara kembali memasuki rumah untuk mengambil tikar, tak lupa dua bantal dan dua selimut yang cukup tebal karena cuaca malam hari ditempatnya sangat dingin.
"Maaf ya, kalian harus tidur ditempat seperti ini karena didalam hanya ada dua kamar saja." jelas Zara merasa tak enak.
"Nggak apa apa Non, ini masih mendingan kita tidur ada tikar biasanya malah dilantai." akui pengawal itu membuat Zara terkejut bahkan bibirnya sampai terbuka melonggo tak percaya.
Seberat itukah pekerjaan sebagai pengawal batin Zara.
"Ya sudah saya masuk dulu, ehm nanti kalau kalian lapar di gang sebelah sana ada penjual mie rebus. hari ini masih belum bisa masak, InsyaAllah besok dirumah sudah masak."
"Siap Non." balas Pengawal itu dengan cepat.
__ADS_1
Zara mengangguk dan langsung memasuki rumah.
Dua pengawal itu nampak senang berada di sini, selain majikan mereka cantik juga ramah pada mereka.
"Gue mau deh punya istri kayak gitu." celetuk salah satu pengawal itu yang langsung di jitak oleh pengawal satunya.
"Eh punya bos besar itu!"
"Tuan Anggara?" tampak pengawal itu terkejut.
"Bukan tapi putranya, Tuan Sean."
"Loh, bukan nya Tuan Sean udah ada-"
Pengawal itu nampak mengendikan bahunya, "Nggak paham sama jalan pikiran orang kaya."
Sementara didalam kamar, setelah selesai sholat Isya, Zara segera berbaring di ranjangnya. Ia lirik jam dinding sudah pukul 11 malam. Pantas matanya sudah berat ternyata sudah sangat larut malam.
Zara mencoba memejamkan matanya, namun tak kunjung terlelap padahal Ia sudah sangat mengantuk.
Karena kesal tak kunjung terlelap, Zara akhirnya bangun untuk mengambil ponsel yang tadi Ia charger karena kehabisan baterai.
Dan benar saja ada satu pesan masuk dari Panji.
Zara sempat mengerutkan keningnya, penasaran pesan apa yang Panji kirimkan untuknya.
Bisakah kita bertemu sebentar ada yang ingin kubicarakan."
Pesan dari Panji yang dikirimkan pukul 6 sore tadi, Zara hanya diam sambil terus membaca pesan itu. Masih bingung dengan apa yang harus Ia lakukan. disatu sisi Ia membenci Panji karena keluarga Panji penyebab kecelakaan sang Ayah. Di sisi lain Ia masih sangat mencintai Panji karena meski bagaimana pun, Panji pernah tinggal dihatinya sejak lama dan mungkin membutuhkan waktu untuk move on dari Panji meskipun sudah ada Sean yang menggantikan posisi Panji namun Zara masih ragu jika dirinya sudah mencintai Sean.
Besok kita bertemu di sekolahan
Zara meletakan ponselnya setelah membalas pesan Panji. Cukup lama Zara terdiam dan akhirnya Ia kembali mengambil ponselnya dan melihat apakah ada balasan atau tidak. Namun nyatanya Panji hanya membaca pesan nya tanpa membalas membuat Zara kembali meletakan ponselnya dan kembali berbaring untuk tidur.
Pagi setelah subuh Zara sudah di sibukan memasak, untung saja sudah ada tukang sayur lewat jadi dirinya tidak perlu repot ke pasar untuk membeli bahan masakan yang sudah habis di kulkasnya.
Pukul 6 pagi, Zara sudah selesai memasak dan dirinya bersiap untuk mengajar disekolahan. Dan saat Ia akan berangkat ada sebuah mobil yang berhenti didepan rumahnya. Tadinya Zara pikir itu Sean namun sedikit kecewa saat ternyata bukan Sean yang keluar dari mobil itu.
__ADS_1
"Selamat pagi Non Zara, saya Ricky asisten dari Tuan Sean. Saya datang kemari untuk meminta berkas data diri Nona untuk data pernikahan." kata pria itu sambil memberikan selembar kertas berisi data apa saja yang harus Zara kumpulkan.
"Harus sekarang?" tanya Zara melihat isi kertas yang Ricky berikan.
Pria bernama Ricky itu mengangguk, "Benar Nona."
Zara kembali memasuki rumahnya untuk mengambil berkas yang dimaksud.
"Siapa nduk?" tanya Asih ikut masuk ke kamar Zara.
"Suruhan Tuan Anggara katanya minta berkas buat pernikahan" balas Zara sambil terus mengambil lembar demi lebaran data data dirinya.
Asih nampak ikut duduk di ranjang Zara, "Sampai lupa kalau kamu menikah dua hari lagi."
Zara terlihat menghela nafas panjang,
"Zara berangkat ya buk." kata Zara saat berkas yang Ia cari sudah didapatkan semuanya.
Asih mengangguk, "Hati hati ya nduk."
Didepan Zara memberikan berkas yang kini sudah Ia masukan ke dalam amplop coklat itu.
"Jika masih ada yang kurang katakan saja." kata Zara saat Ricky mengecek berkas yang dibutuhkan.
Ricky menggelengkan kepalanya, "Sudah cukup Nona, sudah lengkap."
Zara terlihat lega, "Ya sudah aku berangkat ke sekolahan dulu."
"Biar saya antar Nona." kata Ricky yang langsung diangguki Zara.
"Bisakah sedikit ngebut? saya sudah hampir terlambat." kata Zara mengingat ini sudah hampir pukul 7 padahal dirinya harus sudah berada disekolahan tepat pukul 7 pagi.
"Siap Non."
Dan tepat pukul 7, Zara sampai didepan sekolahan. Zara berjalan cepat agar sampai di kantor guru dan sampai disana nyatanya semua guru sudah memasuki kelas masing masing untuk mengajar. Beruntung jadwal kelas Zara masih pukul 8 jadi diri masih ada waktu untuk persiapan.
"Zara, bisakah kita bicara?" suara lirih Panji yang berada dibelakangnya membuat Zara terkejut.
__ADS_1
BERSAMBUNG
jangan lupa like vote dan komenn