
Setelah melewati malam panjang penuh drama masa lalu, pagi ini Sean dan Zara meluncur ke kampung halaman Zara.
Mengingat sore nanti adalah acara lamaran Ricky dan Imah, Zara ingin mendampingi hari bahagia sahabatnya itu.
Sean nampak fokus menyetir mobil sementara Zara asyik memandangi kaca samping melihat jalanan.
Memang setelah drama semalam, Zara sudah memaafkan Sean namun sikapnya pada Sean masih dingin membuat Sean lebih menjaga jarak dan mencoba mengerti mungkin sang istri masih butuh waktu sendiri.
Mereka sampai di rumah Zara siang hari, karena acara masih sore hari, keduanya memutuskan untuk beristirahat dulu setelah perjalanan yang cukup melelahkan.
Zara memasuki kamarnya, melihat Sean berbaring di ranjang miliknya sambil memainkan ponsel.
"Minum dulu mas." Zara memberikan secangkir teh madu hangat untuk Sean.
Dengan wajah sumringah, Sean menerima uluran cangkir dari tangan Zara, "Terimakasih istriku sayang."
"Ayah sama Ibu sedang tidur mas, nggak tega mau bangunin."
"Nggak perlu dibangunin, malam ini kita nginep di sini nggak masalah." kata Sean seusai meneguk secangkir teh madu hingga habis.
"Kalau boleh, aku sendiri yang menginap malam ini mas." kata Zara dengan kepala menunduk tak berani menatap Sean yang nampak terkejut dengan permintaan Zara.
Sean menghela nafas panjang lalu membalas "Ya sudah, nanti aku pulang. lagipula besok jadwalku padat dikantor."
Zara mengangguk saja lalu memilih keluar meninggalkan Sean dikamarnya sendiri.
"Tidak apa marah tapi kenapa harus mengajak berpisah ranjang seperti ini, bagaimana kalau aku rindu? argghh." Sean menjambak rambutnya sendiri, merasa kesal dengan apa yang baru saja Zara ucapkan.
"Loh Ibu sampai nggak tahu kalau kalian pulang." Asih yang baru bangun dari tidur siangnya terkejut melihat Zara berada didapur memasak sementara Sean menemani Zara dimeja makan.
Sean bangkit dan langsung mencium punggung tangan ibu mertuanya, "Baru sampai tadi pukul 1 siang bu, habis ini mau nemenin Ricky lamaran."
"Alhamdulilah, ibu juga tadi dikasih tahu sama Imah kalau mau lamaran hari ini, nggak nyangka kalau kalian juga datang." ungkap Asih nampak senang.
"Ayah bangun... ada anak anak ini." Asih membuka pintu kamarnya untuk memberitahu Bahar yang masih dikamar.
Tak berapa lama Bahar keluar kamar, meskipun jalan nya masih pincang namun sudah tak menggunakan tongkat atau kursi roda lagi.
"Hari ini nginep kan?" tanya Bahar setelah Zara dan Sean mencium punggung tangannya.
__ADS_1
"Cuma Zara aja yah." balas Zara cepat.
"Lho kenapa nak Sean enggak ikut menginap?"
"Tadinya saya ma-"
"Mas Sean banyak kerjaan kantor yah, jadi harus pulang malam ini juga." Zara memotong ucapan Sean membuat Bahar sedikit curiga.
"Kalau begitu ya kamu harus ikut pulang juga nduk, nemenin suami kamu." pinta Bahar.
"Tapi yah, Zara kangen sama Ayah Ibu, mau nginep dirumah dulu." Suara Zara terdengar pelan.
"Nggak apa apa Yah, biar Zara menginap di sini dulu, lagipula saya juga ada pekerjaan diluar kota." kata Sean yang akhirnya langsung diangguki Bahar.
Acara lamaran Ricky dan Imah berjalan lancar, meskipun acara lamaran terlihat sangat sederhana dan jauh dari kata mewah namun kedua calon pengantin itu terlihat bahagia.
Seusai acara, Sean kembali kerumah mertuanya bersama Zara.
Sudah pukul 8 malam, waktunya Sean untuk kembali berangkat ke kota namun Sean masih mengulur ulur waktu sedari tadi. Ia benar benar tak ingin berpisah dari istrinya meskipun hanya sehari.
"Mas belum berangkat? nanti keburu malam." Zara memasuki kamar dan duduk disamping Sean yang masih asyik memainkan ponselnya.
"Kalau kemalaman aku ikut menginap aja ya?" pinta Sean yang langsung membuat Zara menggeleng tak setuju.
"Bisa libur dulu." balas Sean berharap Zara berbaik hati mengizinkan dirinya menginap.
"Ck, libur terus. dan kenapa juga tadi harus bohong sama Ayah kalau mau ke luar kota?"
"Aku kan memang ada jadwal keluar kota sayang besok sore tapi cuma sehari. lupa semalam mau ngasih tahu keburu kamu marah, eh..." Sean langsung membungkam mulutnya membuat Zara mau tak mau tersenyum dengan tingkah suaminya itu.
"Ya udah tapi mas tetep pulang kan malam ini?"
"Aku nginep ya sayang?" Sean masih memohon.
"Enggak, mas harus pulang malam ini."
Sean memanyunkan bibirnya, "Ya udah kamu ikut pulang, nggak kasihan sama aku besok beberes koper sendirian buat ke luar kota. biasanya kamu yang nyiapin semuanya kan sayang."
Zara menggelengkan kepalanya, "Maaf mas, aku mau menginap di sini." kata Zara yang akhirnya membuat Sean menyerah.
__ADS_1
"Iya iya aku pulang sekarang." Sean bangkit dan merapikan bajunya lalu mengambil kunci mobil yang ada dimeja kamar Zara.
"Jangan lama lama ngambeknya, kapanpun mau pulang telepon Ricky biar dijemput sama Ricky." kata Sean sebelum keluar kamar.
"Dan ingat jangan berani berani kamu ketemu sama si Panci. kita cuma marahan, kamu masih milik aku," kata Sean yang langsung membuat Zara tersenyum dan mengangguk.
Zara, Bahar dan Asih mengantar Sean sampai depan rumah hingga mobil Sean melaju meninggalkan pekarangan rumah.
Zara berjalan lesu menuju kamarnya,
"Kamu sudah ngantuk nduk?" tanya Bahar membuat Zara menghentikan langkahnya.
"Kalau belum ngantuk temenin Ayah dan Ibu nonton tv dulu ya." kata Bahar yang langsung diangguki Zara.
Ketiganya kini sudah berada didepan televisi, menonton sinetron kesukaan Asih.
"Apa kamu lagi ada masalah sama Nak Sean?" tanya Bahar setelah cukup lama ketiganya terdiam.
Zara menggelengkan kepalanya pelan,
"Jangan bohong nduk, kalau kalian nggak ada masalah kenapa kamu membiarkan Nak Sean pulang malam malam begini." curiga Bahar.
"Cerita saja nduk, kami siap mendengarkan." kata Asih.
Zara menghela nafas panjang sebelum akhirnya bertanya "Apa Ayah juga mengetahui jika mas Sean sudah memiliki tunangan saat menikah dengan Zara?"
Bahar dan Asih nampak terkejut,
"Maafkan kami nduk."
"Jadi Ayah dan ibu juga sudah tahu?" Zara terlihat kecewa.
"Maafkan Ayah yang tidak bisa memberitahumu sejak awal, semua salah Ayah." Bahar terlihat sedih dan menyesal.
"Andai saja dulu Ayah tidak bekerja di tempat Anggara dan memiliki banyak hutang budi mungkin kamu juga tidak akan menikah dengan Nak Sean." ungkap Bahar.
"Tapi Zara bahagia hidup bersama mas Sean, hanya saja Zara kecewa kenapa semua orang harus membohongi Zara, kenapa tidak ada kejujuran sejak awal, rasanya sesak sekali Ayah, ibu." Mata Zara memerah ingin menangis membuat Asih langsung memeluknya.
"Semua sudah masa lalu nduk, sekarang nak Sean juga sudah memilihmu. jangan berlarut larut, maafkan suamimu ya... mungkin sudah jalan dari Allah kalian dipersatukan dengan cara seperti ini." kata Asih sambil mengelus punggung Zara memberikan ketenangan pada putrinya yang kini sudah terisak.
__ADS_1
BERSAMBUNG....
jangan lupa like vote dan komeeen