
Sean kembali pulang larut malam ini karena pekerjaan yang menumpuk. Akhir akhir ini memang banyak pekerjaan sang Papa yang dialihkan kepadanya karena kondisi Papa Anggara yang sering sakit membuat Sean harus menggantikan posisi Papa nya.
Sean pulang disambut istrinya dengan pakaian yang sangat seksi, Dress satin sepaha yang terlihat belahan gunung kembar juga menerawang membuat siapapun akan tergiur termasuk Sean.
Dan malam ini, Ia akan membalaskan hasrat yang terpendam selama beberapa hari karena ucapan menipu Zayn. mengingat Zayn, Sean kembali dibuat kesal karena pria itu Ia harus menahan hasratnya padahal akhir akhir ini istrinya sering memakai pakaian seksi untuk mengodanya namun Sean malah harus menahan diri.
Cup... satu kecupan mendarat di pipi Zara membuat Zara tersenyum.
"Nggak ditahan lagi sekarang?" tanya Zara.
"Nggak lah, Zayn sialan memang!"
Zara menutup bibir Sean dengan jarinya, "Nggak boleh ngomong kotor."
Sean tersenyum, Ia kembali memberikan kecupan pada istrinya sebelum akhirnya pergi untuk mandi dan makan malam.
Ya Sean sengaja tidak makan malam diluar lagi karena Sean tahu selama ini istrinya selalu menunggu dirinya untuk makan malam bersama.
"Tumben mas nggak jajan diluar?"
Sean tersenyum, "Nggak lah, kasian istriku tiap malam makan sendiri."
"Mas tahu?" Zara nampak terkejut pasalnya Ia tak pernah memberi tahu suaminya jika sebenarnya Ia belum makan setelah menanyakan makan pada Suaminya.
"Tahu, kenapa bohong?"
Kemarin saat Sean pamit tidur, badan nya memang lelah namun matanya susah terpejam membuat Sean turun ke bawah melihat apa yang dilakukan istrinya dan Sean cukup terkejut melihat Zara sedang makan malam sendirian dimeja makan. Bertepatan dengan Mbok Nah yang lewat dibelakangnya, Mbok Nah mengatakan jika Zara setiap hari sengaja menunggu Sean agar bisa makan malam bersama. Dan mengetahui kenyataan itu membuat Sean merasa bersalah dan mengerti jika Zara sempat berpikiran buruk padanya.
"Maaf mas, aku nggak bermaksud buat bohong, aku cuma nggak mau mas ngerasa nggak enak dan harus makan malam lagi sama aku."
Sean tersenyum, "Ya nggak apa apa, nemenin istrinya kan juga dapet pahala aku nya."
Zara ikut tersenyum dan mengangguk, "Iya mas bener kok."
"Berarti kamu juga nggak boleh bohong lagi apalagi merasa nggak enak sama aku."
"Iya mas, maaf aku salah." Zara tersenyum malu.
Sean tersenyum, mulai menikmati masakan istrinya yang sangat lezat tiada duanya.
__ADS_1
Selesai makan malam, keduanya naik ke atas. Sean sudah tak sabar, sedari tadi Ia menahan diri dan sekarang tiba waktunya untuk buka puasa.
"Nggak perlu merasa insecure atau malu cuma karena sekarang kamu lebih gemuk. bagiku, gemuk atau tidak kamu tetap menjadi candu untuk ku sayang." kata Sean yang membuat Zara langsung meleleh.
"Aku takut karena nggak bisa merawat diri membuat mas berpaling."
Sean tersenyum, "InsyaAllah nggak akan sayang. aku akan tetap menerima kamu apa adanya.''
"Terimakasih mas." Zara terharu dibuatnya.
Tak menunggu waktu lama, Sean segera membuka kain penutup tubuh istrinya, memandang sejenak tubuh istrinya yang selalu menjadi candu untuknya sebelum akhirnya memulai permainan panas yang tertahan selama beberapa hari.
....
Beberapa bulan berlalu, Zara baru saja pulang dari rumah sakit menjenguk Imah yang baru saja melahirkan. Ya 9 bulan sudah berlalu untuk Imah dan tinggal seminggu lagi Zara pun juga akan melahirkan sesuai dengan hari perkiraan lahir yang sudah ditentukan oleh dokter.
Jarak melahirkan antara Zara dan Imah memang tidak terlalu jauh karena saat Imah hamil, sebenarnya Zara pun sudah hamil hanya saja Ia belum mengetahui akan kehamilan nya saat itu.
"Kenapa kamu keliatan pucet mas?" Zara memegang dahi suaminya, memastikan suaminya itu baik baik saja.
"Enggak sakit, melihat Imah melahirkan sampai teriak teriak karena kesakitan seperti tadi membuat aku tak tega besok kamu juga merasakan hal yang sama."
Zara tersenyum, "Doakan saja aku selamat mas, aku akan berjuang untuk melengkapi keluarga kecil kita."
Zara mengenggam tangan suaminya, "Semua sudah memiliki peran masing masing mas, cukup doakan dan selalu disampingku menemani aku sampai kita bertemu dengan anak kita saja sudah cukup."
Sean mengangguk dan memeluk istrinya.
3 hari berlalu, Zara saat ini sedang berada dirumah bersama Mbok Nah juga para pengawalnya karena Sean pergi ke kantor.
Selesai sholat dzuhur dan makan siang, Zara yang tak tahu lagi harus melakukan apa, memilih duduk diruang tengah untuk menonton televisi. Dan mendadak Zara merasakan perutnya mulas membuatnya pergi ke kamar mandi.
Baru saja keluar dari kamar mandi, Zara kembali merasakan perutnya mulas membuatnya kembali memasuki kamar mandi hingga tak terasa sudah 3 kali Zara bolak balik ke kamar mandi.
"Aneh, padahal aku juga tidak makan sambal, kenapa perutku mulas sekali." batin Zara.
"Ada apa Non?" Mbok Nah yang melihat gelagat aneh dari Zara pun segera mendekat.
"Nggak tau nih mbok, mulas dari tadi tapi nggak mau keluar."
__ADS_1
"Waduh jangan jangan sudah mau lahiran Non."
"Masa sih Mbok? hpl nya masih 4 hari lagi." kata Zara ragu.
"Kadang memang suka maju mundur non nggak sesuai Hpl." jelas Mbok Nah.
Zara masih ragu, Ia awam dengan hal seperti ini karena memang baru pertama kalinya.
Zara kembali duduk karena Ia tak merasakan mulas lagi, namun satu jam kemudian Zara kembali merasakan mulas membuatnya kembali ke kamar mandi.
Hingga setelah ashar, rasa mulas diperut Zara semakin sering dan terasa membuat wajah Zara pun memucat.
"Kita kerumah sakit aja Ya Non."
"Nunggu mas Sean dulu aja Mbok."
"Ya sudah, mbok telepon aden dulu."
"Nggak usah mbok, biarin aja takut ganggu mas Sean kerja." larang Zara pada Mbok Nah. karena saat ini memang posisi Sean sangat dibutuhkan dikantor mengingat Papa Anggara sedang sakit.
"Ya sudah kalau nggak boleh menghubungi Anden , kita kerumah sakit sekarang ya non." ajak Mbok Nah yang akhirnya diangguki Zara.
Keduanya berangkat dengan diantar sopir dan 2 pengawal rumah.
"Sudah bukaan 2, hari ini sudah akan melahirkan." kata Doker Lee saat sudah berada diklinik tempat praktek dokter obgyn itu.
"Tapi hpl nya masih 4 hari lagi?"
"Kadang memang maju dan mundur, sudah biasa orang hamil seperti itu."
Zara akhirnya mengangguk pasrah, Ia tak menyangka akan melahirkan lebih cepat dari perkiraan.
Setelah sholat magrib, Zara yang tadinya hanya merasakan mulas kecil kini berubah menjadi mulas sakit yang membuatnya tak tahan untuk tidak menjerit.
"Sudah bukaan 9, sebentar lagi siap untuk melahirkan."
"Mas Sean... mas Sean..." Zara tak henti hentinya mengumamkan nama Sean sambil menahan sakit yang sangat luar biasa ini.
"10... kita mulai sekarang."
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka membuat semua orang terkejut, melihat Sean datang masih dengan setelan kantor. Langsung berlari mendekat ke arah Zara dan mengenggam tangan nya,
"Kamu pasti bisa sayang, aku di sini."