
Selesai dansa, Sean segera mengajak Zara pergi dari acara padahal acara masih belum usai.
Sean tak tega melihat Zara begitu tak nyaman saat berada disana, Sean juga tak ingin istrinya menjadi pusat perhatian para pria hidung belang yang ada disana.
"Mau mandi dulu?" tanya Sean sesampainya dikamar mereka.
"Kita kan nggak bawa baju ganti mas?" keluh Zara mengingat saat kesini mereka tak membawa apapun.
"Kata siapa," Sean tersenyum santai lalu berjalan ke arah ranjang dimana sudah ada sebuah paper bag disana.
"Aku sudah minta asisten Papa belikan baju tidur dan baju ganti kita buat besok." kata Sean memberikan paper bag pada Zara.
Bukan nya senang, Zara malah terlihat tak suka,"Pemborosan mas, harusnya kita bawa aja dari rumah."
Sean terkekeh, melihat Zara tak begitu menyukai kebiasaan nya. Memang cukup mengherankan dengan sikap Zara, mengingat kebanyakan semua wanita akan menyukai jika pasangan mereka membelikan baju baru namun Zara malah tak menyukai itu. aneh sekali.
"Beli baju baru setiap hari pun juga tak akan membuat uang ku habis sayang." Sean mengelus kepala Zara.
"Ck, jangan sombong mas, Allah bisa ngambil apapun yang kita punya kapan saja."
"Siap bu ustadzah." Sean tak bisa berkata apapun lagi.
Zara tersenyum sejenak, "Makasih buat bajunya mas." kata Zara dan langsung memasuki kamar mandi. Sean hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya itu.
Selesai mandi, mereka makan malam lagi didalam kamar sambil memandangi pemandangan kota dibalkon kamar hotel mereka. Sean memang sengaja memesan makanan dikamar karena tak ingin lagi mengajak istrinya keluar. Ia tak ingin bertemu dengan Zayn lagi dan berakhir kesal seperti tadi lagi.
"Tadi itu Anya, temen aku waktu masih dipesantren mas." jelas Zara seusai makan malam.
"Hmm..."
"Aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada Anya." kata Zara terlihat sedih mengingat tadi memang sikap Anya terlihat aneh.
"Bukan urusan kita juga sayang."
"Tapi mas, bagaimanapun dia teman aku dulu."
Sean nampak menghembuskan nafas panjang,
"Dia juga melepas hijabnya." Zara terlihat kecewa.
__ADS_1
"Memang kebanyakan wanita seperti itu kan, akan berubah liar saat keluar dari ponpes, apalagi dia bekerja dikota menjadi sekretaris, pasti akan banyak godaan juga." jelas Sean membuat Zara menatap ke arahnya heran.
"Godaaan?"
Sean mengangguk, "Kebanyakan sekretaris menjadi simpanan bos mereka agar mendapatkan uang tambahan yang banyak."
"Astagfirullah, jangan suudzon mas." Zara terkejut mendengar ucapan Sean.
"Bukan suudzon sayang, tapi kebanyakan mereka memang seperti itu."
"Apa mas juga seperti itu?" tanya Zara curiga.
"Ck, buat apa aku seperti itu sedangkan dirumah saja aku memiliki bidadari secantik ini." kata Sean sambil mengelus pipi Zara.
"Gombal!"
Sean terkekeh, "Seriusan sayang."
Zara terdiam sejenak memikirkan kembali ucapan Sean, "Apa Anya juga seperti itu mas?"
"Kalau di lihat dari cara berpakaian, sepertinya iya."
Hanya saja... Zara melihat raut wajah Anya seperti orang yang sedang tertekan namun entah apa yang membuat Anya seperti itu.
"Kalau bisa kamu jangan terlalu dekat dengan wanita tadi." pinta Sean.
"Kenapa mas?" Zara terlihat kecewa, padahal Ia ingin memastikan jika Anya baik baik saja tapi Sean malah melarangnya mendekati Anya.
"Dia itu sekretarisnya si duda, takutnya si duda memanfaatkan momen ini agar bisa dekat denganmu." jelas Sean.
"Ck, jangan suudzon dulu mas."
Sean lagi lagi menghela nafas panjang, "Aku sudah mengingatkanmu sayang jadi aku harap kamu mau menuruti ucapan suamimu ini." kata Sean menarik tangan Zara dan membawanya ke pangkuan nya.
"Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang," bisik Sean ditelinga Zara lalu mulai menciumi pipi Zara, tangan Sean pun sudah aktif membuka kancing piyama yang Zara kenakan.
"Jangan di sini mas, takut dilihat orang dari bawah." balas Zara membuat Sean terkekeh. mana mungkin orang bisa melihat apa yang mereka lakukan sementara mereka saja berada dikamar paling atas.
Sean menuruti ucapan istrinya, membawa Zara ke ranjang mereka. Tak menunggu waktu lama, Sean langsung membawa Zara ke surga dunia mereka. menikmati setiap tubuh Zara dengan lembut dan penuh perasaan membuat Zara tak henti hentinya mendesahkan nama Sean berkali kali.
__ADS_1
Berbeda jauh dengan Zara, Anya diseret dan dibawa ke kamarnya. sampai dikamar tubuh Anya dilempar ke ranjang.
"Brengsek! tak berguna." umpat Zayn membuat Anya meringkuk.
Anya benar benar tak mengerti apa salahnya, Ia hanya bisa menebak jika Zayn mengenal Zara dan suaminya namun suami Zara terlihat tak menyukai Zayn dilihat dari pandangan mata Suami Zara yang sangat kesal pada Zayn.
Dan sekarang Zayn mendadak emosi, melampiaskan amarah padanya yang tak tahu apa apa.
Zayn keluar sebentar lalu masuk lagi dengan membawa sebuah tali, entah apa yang akan Zayn lakukan dengan tali itu.
Anya yang menjauh saat Zayn mendekat langsung ditarik Zayn, tangan nya diangkat dan di ikat menggunakan tali yang Zayn bawa tadi.
"Apa yang anda lakukan pak?" tanya Anya takut saat Zayn mengikat tangannya pada ranjang.
"Diam!" bentak Zayn membuat Anya tak lagi bertanya.
Setelah tubuh Anya terikat, Zayn mengeluarkan sebuah pisau, yang langsung membuat Anya menjerit takut setengah mati.
Anya pikir Zayn akan membunuhnya tapi ternyata Zayn menggunakan pisau itu untuk merobek bajunya hingga terlepas dan tubuh Anya polos tanpa sehelai benangpun.
Zayn membuang pisaunya, melihat tubuh polos Anya yang terikat seperti ini sejenak menghilangkan kekesalannya karena tak bisa mendapatkan Zara.
Tak menunggu waktu lama, Zayn mulai menikmati tubuh indah Anya, membuat Anya menjerit dan menangis karena perlakuan nya yang sedikit kasar.
Satu ronde pertama usai, Zayn melepaskan ikatan tangan Anya, merasa sangat puas meskipun Ia kesal melihat Anya tidak menikmati dan malah menangis.
Namun satu ronde saja tak cukup untuk Zayn, setelah menghabiskan satu rokok sambil duduk disofa dan memandangi tubuh Anya yang meringkuk dan tertutup selimut, Zayn kembali berdiri dan mendekati Anya, Ia menarik selimut yang Anya gunakan untuk menutupi tubuh polosnya, lalu Ia buang ke lantai.
Zayn kembali menaiki tubuh Anya, membuat Anya kembali menangis.
"Bisakah sekali saja kau tidak menangis!" bentak Zayn membuat Anya takut dan menghentikan tangisannya.
Zayn kembali menjelajahi tubuh Anya dengan lembut dan membuat Zayn bisa mendengar suara ******* Anya untuk pertama kalinya.
Zayn tersenyum puas, melihat Anya akhirnya bisa takluk dibawahnya. kini bukan lagi suara tangisan Anya yang terdengar namun desah kenikmatan yang membuat Zayn merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komennn....
__ADS_1