BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
59


__ADS_3

Butuh waktu hampir 2 jam untuk menenangkan Raisa. setelah semua guru ikut turun tangan akhirnya Raisa berhasil ditenangkan dan Zara bisa pergi dengan tenang.


"Itu anak kenapa tadi ngeselin banget sih!" protes Sean saat mereka sudah berada didalam mobil.


"Mas, nggak boleh gitu. namanya juga anak kecil."


Sean menghela nafas panjang, "Iya tahu, tapi kenapa harus seperti itu. ngeselin kayak bapaknya."


"Raisa sudah lama ditinggal pergi sama mamanya, sehari hari hidupnya hanya bersama Naninya saja. jadi sangat wajar jika Raisa seperti itu karena selama ini Raisa kurang kasih sayang." jelas Zara membuat Sean akhirnya diam.


"Udah nggak usah kesel lagi, lagian aku juga udah resign mas, nggak bakal ketemu lagi kan?"


Sean akhirnya tersenyum dan memeluk istrinya, "Bener juga sih."


"Ck, sekali kali jangan emosi bisa mas?" tanya Zara.


"Aku kalau sudah menyangkut tentang kamu, nggak bisa diem pokoknya."


"Dah pinter gombal ya sekarang." Zara tertawa membuat Sean gemas dan akhirnya mencium pipi Zara.


"Malu mas, ada Ricky didepan." Pipi Zara langsung memerah malu.


"Biarin aja, biar pengen!"


"Saya nggak lihat apapun kok Nona, Tuan." kata Ricky sambil menyetir mobil meskipun sebenarnya sedari tadi Ricky melirik ke arah spion untuk melihat romantisme kedua majikan nya itu.


"Lihatpun tak masalah, itung itung belajar kan sebentar lagi juga mau nikah." kata Sean.


"Memang sudah lamaran?" tanya Zara penasaran.


"InsyaAllah besok 2 hari lagi Nona."


"Ck, si Imah ngeselin banget ya nggak ngabarin aku." Zara memanyunkan bibirnya.


"Besok aku kosongin jadwal biar bisa nemenin Ricky lamaran."


"Serius mas?" Zara terlihat senang.


"Iyalah, aku tahu kamu pasti pengen nemenin temen kamu itu kan?" tanya Sean yang langsung diangguki Zara.


Berbeda dengan Sean yang sedang bahagia karena Zara telah berhenti mengajar, Zayn terlihat geram dan kesal saat mengetahui Zara berhenti mengajar bahkan melihat putrinya sampai menangis dan sedih.


"Tadi Raisa menangis terlalu lama membuat matanya terlihat bengkak." kata Rini yang kini menjadi wali kelas Raisa. Takut Zayn salah paham membuat Rini memberitahu Zayn lebih dulu.

__ADS_1


"Terimakasih atas bantuan nya, kami pamit dulu." Zayn mengajak Raisa memasuki mobilnya.


"Papa, Raisa nggak bakal ketemu sama tante cantik lagi." ucap Raisa dengan suara serak ingin menangis.


"Husst, Raisa nggak boleh nangis lagi ya... nanti Papa cari cara biar Raisa bisa ketemu sama tante cantik lagi."


"Beneran Pa?" Raisa tersenyum senang.


"Iya." kata Zayn memaksakan senyum didepan Raisa padahal dalam hatinya Ia benar benar sedang kesal dan marah.


Zayn tahu pasti Sean yang membuat Zara berhenti mengajar.


"Pria licik sialan!"


Setelah mengantar Raisa sampai dirumah, Zayn kembali ke kantor.


"Kapan jadwal pertemuan ku dengan Anggara group?" tanya Zayn pada Anya sekretaris barunya.


"Saat ini pihak Anggara group sedang mengundur waktu untuk bertemu dengan Bapak, saya sudaj menghubungi sekretarisnya dan dia mengatakan jika Ceo anggara group sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun pak." jelas Anya.


Zayn mengepalkan tangannya, "Sialan."


Zayn menatap ke arah Anya tajam, "Kenapa dengan pakaian mu?" tanya Zayn membuat Anya sedikit terkejut.


"Maaf pak, apa ada yang salah dengan pakaian saya?" tanya Anya bingung karena saat ini Ia menggunakan celana panjang, kemeja putih yang ditutup dengan blazer hitam.


"Ta-tapi pak... maafkan saya, saya tidak terbiasa menggunakan-"


"Apa kau masih perawan?" tanya Zayn yang kini sudah berdiri didepan Anya membuat Anya sedikit takut dan berjalan mundur.


"Ap-apa maksudnya pak?" Anya semakin takut karena Zayn kini sudah memojokan dirinya.


Zayn terlihat mengelus pipi Anya, setidaknya dengan ini sedikit membuat Zayn melupakan kekesalan nya karena Zara.


"Pak, ja-jangan Pak..." pinta Anya kala Zayn membuka kancing baju Anya paling atas.


"Kau jual mahal sekali, apa ini karena kau masih perawan?" Zayn mengangkat dagu Anya dan mulai mengelusi bibir tipis milik Anya.


Bibir tipis yang dipoles lipstik warna merah muda mengingatkan Zayn dengan bibir Zara yang sama tipisnya hanya saja bibir Zara natural karena tak dipoles dengan lipstik.


Damn it... hanya membayangkan bibir Zara saja sudah membuat gairah Zayn naik.


"Maafkan saya pak, tapi saya tidak bisa melakukan ini." ungkap Anya dengan suara takut.

__ADS_1


Zayn yang kesal akhirnya menjambak rambut Anya, "Sialan, apa kau mau kupecat?" bentak Zayn membuat Anya kembali terkejut.


Anya tak menyangka jika Zayn orang yang mesum seperti ini, sangat berbeda dengan wajahnya yang terlihat kalem.


"Jan-jangan pak, tolong jangan pecat saya."


Zayn tersenyum licik, "Jika kau tak mau kupecat, kau harus menuruti apa yang kuperintahkan!"


Anya menunduk takut, Rasanya Ia ingin pergi saat ini juga namun mau bagaimana lagi, Ia sangat membutuhkan pekerjaan ini.


Zayn membawa Anya ke sebuah ruangan kecil yang ada diruangan Zayn. Ruangan itu terlihat seperti kamar membuat Anya ketakutan setengah mati.


Anya mulai menangis saat Zayn membuka kancing baju miliknya.


"Jangan menangis Baby, aku akan memberikan kenikmatan dunia untukmu." bisik Zayn ditelinga Anya lalu Zayn mengecup bibir Anya.


Setelah kancing baju terbuka, mata Zayn terpesona memandang tubuh Anya yang seperti belum dijamah oleh seorang pun.


Dengan kedua tangan nya, Anya kembali menutup bajunya, "Say-saya ... lebih baik bapak pecat saya saja." Kata Anya berniat ingin pergi namun tangan Zayn langsung mencekal Anya dan melemparnya diranjang.


"Jangan harap kau bisa pergi sebelum menuntaskan semuanya baby." ucap Zayn dan mulai menjamah tubuh Anya.


Anya menangis dan berteriak minta tolong namun percuma saja karena ruangan itu kedap suara.


Berbeda dengan Anya, Setelah mendapatkan telepon dari Anya, Naya segera memasuki ruangan Sean.


"Maaf pak, sekretaris baru pak Zayn menelepon saya dan mengatakan jika ingin bertemu bapak dan saya sudah mengundur pertemuan nya sesuai dengan apa yang Bapak minta." jelas Naya membuat Sean mengangguk.


"Bagus, untuk sementara ini aku tak ingin bertemu dengan nya." kata Sean kini menatap heran ke arah Naya.


"Baik pak." Naya segera berbalik ingin keluar namun suara Sean menghentikan langkahnya.


"Ada apa dengan pakaianmu itu?"


Naya terkejut, saat ini Ia mengenakan dress dibawah lutut dipadukan blazer lengan panjang.


"Maksud bapak?"


"Saya tidak suka kamu memakai rok seperti itu, terlalu mengumbar aurat jadi baiknya kamu pakai celana panjang seperti yang biasa kamu kenakan." kata Sean membuat Naya langsung menunduk malu.


"Baiklah pak, maafkan saya."


Sean menghembuskan nafas panjang, Setelah menikah dengan Zara dan merasakan nikmatnya bercinta, Sean menjadi sangat sensitif jika melihat wanita dengan pakaian terbuka. namun meski begitu, Ia berusaha menjaga diri dan cukup dengan Zara wanita halalnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEEEN ...


__ADS_2