
Ranti dan Zara saat ini sedang sibuk didapur membuat kue kacang untuk camilan mereka berdua dan juga untuk mengisi waktu luang agar tak bosan berada dirumah.
"Yahh, gosong Mah." Zara baru saja mengeluarkan seloyang kue kacang yang baru saja matang.
"Nggak apa apa, masih enak dimakan ini." kata Ranti melihat kue kacang nya hanya gosong dibagian bawah saja.
"Cicipi dulu Ma..."
Ranti mengambil satu buah kue kacang dan mencicipinya, "Enak... manisnya pas, gurih kacangnya krasa banget."
Zara yang penasaran akhirnya ikut mencicipi kue kacang buatan nya dan rasanya memang seenak itu.
"Coba aja ada Sean, udah dihabisin ini kue kacangnya." kata Ranti membuat Zara menghentikan kunyahan nya, mendadak juga mengingat Sean.
"Eh maaf, mama nggak maksud bikin kamu sedih, Mama cuma keinget sama Sean aja." kata Ranti merasa tak enak, melihat raut wajah Zara yang berubah.
"Nggak apa apa Ma, seengaknya Zara jadi tahu kesukaan mas Sean dan nanti bisa bikinin mas Sean juga." ungkap Zara lalu tersenyum.
"Berarti ada harapan bisa baikan nih." goda Ranti membuat pipi Zara merona.
Candaan keduanya dikejutkan oleh suara ponsel milik Ranti yang berdering.
Zara bergegas mengambilkan ponsel dan memberikan pada Ranti.
"Tumben Papa telepon." gumam Ranti sebelum menjawab panggilan dari suaminya itu.
"Assalamualaikum Pa."
Zara masih didepan Ranti, melihat raut wajah mama mertuanya berubah membuat Zara khawatir apalagi saat Ranti menjatuhkan ponselnya ke lantai.
"Ada apa Ma?"
"Se... Sean lagi dirumah sakit."
Sontak ucapan Ranti membuat Zara ikut terkejut dan menjatuhkan loyang yang baru saja Ia pegang.
"Sebentar lagi jemputan Papa datang, mama harus pulang sekarang Zara." kata Ranti dengan raut wajah cemas dan mata berair menahan tangis.
"Za... zara ikut ma."
Ranti sempat tersenyum sebentar, lalu mengangguk dan mengajak Zara bersiap.
Tak sampai 30 menit, sopir Anggara sudah datang untuk menjemput keduanya. Didalam mobil hening tak ada yang berbicara, Baik Zara maupun Ranti sibuk dengan pikiran nya masing masing.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Sean?" tanya Ranti pada sopirnya karena saat ditelepon Anggara sang suami tak menjelaskan penyebab Sean sampai dirumah sakit.
"Tuan Sean, ditusuk saat ingin menangkap Sella Nyonya."
Ranti terkejut, mendengar nama Sella menjadi penyebab Putranya sampai masuk rumah sakit.
__ADS_1
"Sella... wanita itu!" geram Ranti.
"Kenapa Sella ingin ditangkap?" tanya Zara penasaran.
"Sella menjadi buronan polisi paris karena kasus pembunuhan terhadap managernya Nona."
Baik Zara maupun Ranti terkejut mendengar jawaban dari sopirnya itu.
Zara benar benar tak menyangka, Sella wanita yang dilihatnya sangat anggun dan berkelas itu bisa melakukan hal sekeji itu apalagi dia seorang model, dikenal masyarakat bukankah seharusnya Dia menjadi contoh yang baik bukan malah membunuh seperti ini.
Setelah menempuh perjalanan hampir 5 jam akhirnya mereka sampai di rumah sakit sebelum adzan magrib.
"Pa..." Ranti langsung menghambur ke pelukan suaminya saat mereka tak sengaja bertemu di samping ruangan Sean.
"Sean nggak apa apa, udah di ruangan rawat." kata Anggara sambil mengelus punggung istrinya.
Setelah melepaskan pelukan, Zara mencium punggung tangan Anggara,
"Ikut pulang juga nak? udah kangen apa karena khawatir?" goda Anggara membuat Zara menunduk malu.
"Udah ah Pa, jangan digodain. Mama sama Zara masuk dulu ya Pa."
"Nggak usah ditanya yang aneh aneh Ma, Sean baru aja bisa tidur. dari tadi nggak bisa tidur dia." jelas Anggara membuat Ranti paham.
"Aku sholat magrib dulu aja ya Ma, nanti aku nyusul masuknya." pamit Zara yang langsung diangguki Ranti.
Ranti kesal dan memukul lengan Anggara, "Papa kenapa ngomongnya gitu!"
Anggara terkekeh, "Iyalah, coba kalau nggak ketusuk, mungkin mantu kita belum mau pulang."
Ranti menatap suaminya kesal sebelum akhirnya Ia meninggalkan suaminya memasuki ruang rawat Sean.
"Mama..." Sean yang baru saja membuka matanya senang melihat Mama nya memasuki ruangan.
Sean menatap ke arah pintu, berharap ada seseorang lagi yang ikut masuk namun harapan Sean sia sia saja karena nyatanya Sean datang sendiri.
"Kenapa ngeliatin pintu?" tanya Ranti yang sebenarnya tahu apa yang Sean harapkan.
"Mama kesini sendiri?"
"Iyalah, sama siapa lagi."
Wajah Sean langsung berubah kecewa,
"Gimana keadaan kamu? kok bisa sih kamu ditusuk sama mak lampir itu?" tanya Ranti terlihat geram.
"Udahlah Ma, nggak usah dibahas lagi yang penting sekarang Sella sudah ditangkap sama pihak berwajib dan menjalani hukuman nya." jelas Sean tak ingin membahas masalah Sella lagi.
"Mama nggak nyangka aja wanita itu bisa sekejam itu sama kamu. seharusnya dia tidak setega itu menusuk kamu mengingat kalian dulu sempat bersama bertahun tahun."
__ADS_1
Sean nampak menghela nafas panjang, "Dia tadinya mau kabur tapi Sean handang jadi ya dia nggak punya pilihan lain selain nusuk Sean."
"Ck, kamu itu masih aja belain wanita itu!" kesal Ranti.
"Enggak belain Ma, memang gitu faktanya."
"Sudah sudah, baiknya kamu istirahat jangan memikirkan apapun lagi."
"Mama yang ngajakin ribut duluan."
Keduanya diam sejenak, Ranti merasa lega karena keadaan Sean baik baik saja meskipun perut Sean harus dijahit namun keadaannya sangat baik.
"Gimana sama Zara Ma?" akhirnya Sean menanyakan Zara setelah Ia menahan diri sedari tadi.
"Baik kok,"
"Sean kangen Ma..."
Setelah mengucapkan itu, Pintu kamar Sean terbuka dan terlihat Zara wanita yang sangat Ia tunggu dan Ia rindukan akhirnya datang juga.
"Biasa aja ngeliatin nya, kayak nggak pernah liat cewek cantik aja." goda Ranti membuat Sean mendegus sebal.
"Udah Ah, Mama keluar aja. takut ganggu." Ranti bangun dari duduknya dan berjalan keluar.
"Jagain Sean ya sayang, Mama mau kangen kangenan sama Papa dulu." bisik Ranti sebelum keluar membuat Zara tersenyum malu.
Dengan perasaan campur aduk, Zara berjalan mendekati ranjang dan duduk dikursi yang tadinya diduduki oleh Ranti.
Sean yang sangat senang melihat Zara ada disampingnya pun langsung bangun untuk duduk namun karena jahitan diperutnya masih baru membuat Ia merasakan nyeri saat mencoba bangun.
"Tiduran aja mas, nanti malah kenapa napa." kata Zara khawatir.
"Kalau udah ada kamu disamping aku, nggak bakal kenapa napa." kata Sean yang langsung membuat pipi Zara merona.
"Ck, pulang pulang langsung digombalin."
Sean tersenyum, "Makasih sayang, kamu udah mau pulang buat aku."
Zara menunduk, "Maaf mas baru datang, maaf nggak ada disamping kamu disaat kamu butuh aku." ungkap Zara merasa bersalah melihat suaminya sempat di jahit luka nya namun Zara tidak ada disamping Sean.
"Nggak perlu minta maaf sayang, ngeliat sekarang kamu ada di sini, nemenin aku aja udah bikin aku langsung sembuh."
Zara tersenyum, "Gombal!"
Sean ikut tersenyum, "Harusnya aku ditusuk dari kemarin ya biar nggak usah nahan kangen"
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komeeen
__ADS_1