BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
95


__ADS_3

Sean tak tahu kemana Papanya akan mengajak dirinya pergi bahkan Sean tak tahu daerah mana ini karena mobil sang Papa memasuki sebuah hutan.


Sean ingin menanyakan pada Papa nya namun melihat wajah sang Papa sangat tidak bersahabat membuat Sean hanya diam dan menurut.


Hingga akhirnya mobil Anggara berhenti didepan rumah sederhana yang ada ditengah hutan itu.


"Ayo masuk!" ajak Papa yang langsung diangguki Sean.


Keduanya memasuki rumah dengan didampingi pengawal Anggara. Dan dirumah itu juga sudah banyak pegawal Anggara yang nampak menunduk saat Anggara dan Sean datang.


Mereka memasuki sebuah ruangan dimana seorang pria tengah duduk dikursi dengan tangan terikat, juga wajah babak belur seperti habis dihajar seseorang.


Sean terkejut mengetahui pria yang tak asing itu, dia adalah Joni Ayah dari Panji mantan kekasih Zara.


"Dia pelakunya, dia yang membuat mertuamu meninggal." kata Anggara menatap geram ke arah pria yang kini malah tersenyum sinis ke arahnya itu.


Sean kembali terkejut juga tak menyangka, Joni masih berani mengusik keluarganya, mengingat terakhir ancaman Anggara sempat membuat Joni ketakutan dan sekarang dia sudah berani mengusik lagi.


"Bagaimana bisa?" Sean masih tak percaya membuat Anggara memanggil salah satu anak buahnya yang mengurus kasus ini untuk menjelaskan pada Sean kronologinya.


Dan ternyata sudah sejak awal saat Bahar dan Asih datang ke kota, orang orang bayaran Joni sudah membuntuti mereka, bahkan sebenarnya sudah ingin membuat celaka saat Bahar dan asih saat jalan jalan bersama Zara namun beruntung saat itu orang bayaran Joni tidak memiliki kesempatan dan kesempatan itu datang saat Bahar dan Asih perjalanan pulang, Saat itu Bahar dan Asih serta sopirnya berhenti disebuah masjid untuk sholat ashar dan orang bayaran Joni merusak mobil yang dipakai Bahar, hingga membuat rem blong dan kecelakaan itu terjadi.


Sean mengepalkan tangannya, mendengar apa yang dikatakan oleh anak buah Papanya membuat Ia menatap benci ke arah Joni yang hampir saja membunuh istrinya.


"Papa sudah puas memukulinya, sekarang giliranmu. kita habisi dia sebelum diserahkan ke polisi." kata Anggara.


"Rasanya aku ingin membunuh pria ini." Sean hampir saja melayangkan pukulan ke wajah Joni namun mendadak Ia urungkan.


"Kenapa tidak jadi? bahkan kalian membunuhku saat ini juga aku tidak peduli!" kata Joni menambahkan kegeraman Sean juga Anggara.


"Hidupku bahkan sudah tidak berarti lagi karena wanita sialan yang sudah merusak hidup putraku!"


"Berhenti mengatakan istriku wanita sialan, dasar brengsek!"


Bugh, satu pukulan akhirnya dilayangkan Sean kala mendengar Joni mengatakan hal buruk pada Zara.


"Kenapa? memang benar kan wanita itu sialan!"


Bugh... Sean kembali memukul wajah Joni.


"Dia sudah menyakiti putraku, hanya memberi harapan lalu meninggalkan putraku hanya untuk menikah dengan pria kaya sepertimu. sepertinya sialan saja tidak cukup, dia bahkan sudah seperti jala-"

__ADS_1


Bugh... Bugh...


Joni bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannnya dan Sean sudah memukulinya dengan brutal.


Joni tidak merasakan kesakitan, Ia malah tertawa seolah sudah puas dengan apa yang sudah terjadi.


"Pukuli saja aku, pukul sampai mati karena sekarang hidupku sudah tak berguna lagi." oceh Joni.


"Andai saja Panji tak mengenal wanita itu mungkin dia tak akan berakhir dipenjara seperti ini!"


"Kau menyalahkan istriku atas kelakuan bejat putramu? seharusnya kau malu!" geram Sean masih tak terima.


"Putraku baik baik saja sebelum ini, dia pria yang baik." kata Joni penuh percaya diri.


"Itu yang kau tahu? bahkan putramu bisa saja membohongimu." Kali ini Anggara ikut menimpali.


"Tidak... putraku bukan pria brengsek seperti itu." Joni masih membela Panji membuat Anggara tersenyum sinis.


Anggara akhirnya memberikan bukti foto dan video dimana Panji memang kerap melakukan pelecehan seksual pada murid muridnya, itu jauh sebelum Panji memberanikan diri melamar Zara.


Selama ini para korban hanya diam karena Panji selalu memberikan uang tutup mulut namun yang terakhir, korban Panji tidak butuh uang, Ia hanya ingin Panji tanggung jawab namun Panji tidak mau akhirnya korban melaporkan pada orangtuanya dan juga Polisi dan karena korban berasal dari orang berpunya, semua uang Joni tidak bisa membebaskan Panji.


Joni terkejut, sangat tak menyangka dengan putranya yang selama ini terlihat baik didepannya namun ternyata memiliki kelakuan yang mengerikan.


"Kau terlalu sombong!" kata Anggara mengakhiri ucapan nya.


Joni diam dan menundukan kepalanya, Ia merasa sudah salah paham tentang putranya yang Ia pikir Panji adalah anak baik.


"Bawa dia ke polisi" kata Anggara yang sudah puas membuat Joni babak belur.


Sean akhirnya ikut keluar dari ruangan saat Anggara keluar. Sean sendiri masih tak menyangka jika Panji nyatanya pria brengsek yang berkedok baik. Dan Sean juga bersyukur karena Zara bertemu dengan nya hingga tak jadi menikah dengam Panji. Sean bahkan tak bisa membayangkan jika Zara bersama dengan Panji mungkin Zara akan menyesal setelah memgetahui kebejatan Panji.


"Papa menyelidiki sampai sejauh ini?" tanya Sean nampak heran.


"Ya harus karena ini menyangkut tentang mantu kesayangan Papa."


Sean tersenyum mendengar Papanya selalu mengatakan mantu kesayangan.


"Sean minta jangan sampai Zara tahu ya Pa, Sean nggak mau Zara semakin down." pinta Sean.


"Ya, Papa juga sudah meminta agar diproses secara diam diam tanpa ada yang tahu."

__ADS_1


"Terimakasih Pa..."


Anggara menatap putranya tak percaya, "Baru kali ini Papa dengar kamu bilang terimakasih. seumur umur banyak hal yang Papa lakukan untuk kamu dan sama sekali tidak pernah mengucapkan terimakasih." protes Anggara.


Sean tertawa, "Sudah, biasanya Sean mengucapkan dari dalam hati saja."


"Bagaimana keadaaan Zara?"


"Sudah sedikit membaik Pa, tadi pagi juga sudah mulai masak, Sean sudah lega Pa."


Anggara ikut merasa lega mendengarnya, "Temani istrimu sampai membaik, biar Papa yang handle pekerjaan."


"Papa yakin mau handle kerjaan Sean? nanti pas Sean berangkat bisa bisa nggak pulang seharian gara gara kerjaan numpuk!" cibir Sean menyindir sang Papa.


Anggara tertawa, "Salah siapa, Papa kasih waktu honeymoon 5hari malah kebablasan sampai satu minggu."


"Ck, Papa kayak nggak tahu aja, namanya juga pengantin baru Pa, nggak ada puasnya. lagian Sean sama Zara kan juga lagi proses bikin request cucu buat Papa."


"Sudah jadi?"


"Belum juga." balas Sean sambil mengaruk kepalanya yang tak gatal.


"Sudah periksa?" tanya Anggara menjadi khawatir.


"Sudah, katanya aman."


Anggara mengangguk, "Sabar, masih belum waktunya. nikmati waktu berdua dulu."


"Iya Pa,"


"Dan bagaimana kabar wanita itu? apa dia sudah tak menghubungimu lagi?"


"Siapa maksud Papa?"


"Sella." balas Anggara membuat Sean terkejut.


"Tidak Pa, sudah tidak lagi sejak Sean ke paris waktu itu."


Anggara mengangguk setuju, "Tapi kamu harus tetap hati hati."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen.


Siapa yang kemarin udah suudzon sama Sella hayoooloohh hehe


__ADS_2