
Setelah mengajak kedua orangtuanya jalan jalan keliling kota, akhirnya kedua orangtua Zara pamit pulang setelah sholat dzuhur.
"Kenapa nggak nginep lagi saja Yah?"
"Kapan kapan lagi saja Ayah sama Ibu kesini kalau dikasih umur panjang."
"Ck, Ayah jangan ngomong gitu... jangan pulang dulu ya yah, nunggu mas Sean nanti kami antar."
Bahar menggelengkan kepalanya tak setuju, "Kasihan suami kamu nduk, pulang kerja capek masih harus nganter kita berdua."
"Iya nduk, Ayah sama Ibu diantar sama sopir saja nggak apa apa." kata Asih ikut menimpali.
"Kenapa sih nginep cuma sehari, Zara kan masih kangen sama Ayah Ibu." keluh Zara membuat kedua orangtuanya tersenyum.
"Apa Zara ikut pulang aja ya?" tanya Zara.
"Kalau Zara ikut trus siapa yang ngurusin suami kamu?"
Zara akhirnya menyerah, "Tapi Ayah sama Ibu janji ya kesini lagi."
"InsyaAllah nak,"
Asih memeluk Zara lebih lama dari biasanya, "Zara harus jadi istri yang baik, nggak boleh durhaka sama suami, harus nurut."
"Sayang sama Papa dan Mertua kamu."
"Iya ibu, ck kenapa sih ngomongnya suka aneh gitu." kesal Zara.
"Nggak aneh sayang, kita kan ngingetin kamu itu." balas Bahar yang akhirnya diangguki Zara.
Zara hanya mengantar Ayah dan ibunya sampai depan rumah karena sudah ada sopir yang menunggu kedua orangtuanya.
"Hati hati ya mas, pelan aja nyetirnya." kata Zara pada sopir Anggara itu.
"Siap Non."
Dan 3 jam setelah kepulangan orangtuanya, Zara mendapatkan telepon yang membuat jantungnya berhenti berdetak. Tangan nya bahkan tak bisa digerakan membuat ponsel yang Ia pegang jatuh ke lantai.
Apa benar ini dengan Ibu Zara... kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan jika orangtua Anda mengalami kecelakaan dijalan pantura no 135.
Tubuh Zara langsung ambruk dilantai, beruntung Mbok Nah sedang lewat jadi bisa tahu dan langsung menghampiri Zara.
"Non ada apa?" Mbok Nah terlihat panik.
Zara tidak menjawab, Ia masih membeku mencerna ucapan dari seseorang yang baru saja meneleponnya.
"Nggak mungkin!"
Mbok Nah yang panik mengambilkan segelas air putih lalu memberikan pada Zara.
__ADS_1
"Ada apa Non?" tanya Mbok Nah lagi saat Zara terlihat sudah tenang.
"Tolong telepon mas Sean mbok." Zara memberikan ponselnya pada mbok Nah, segera mendial nomor Sean.
Zara menjadi frustasi saat satupun panggilannya belum diangkat oleh Sean.
"Nggak diangkat lagi Non." kata Mbok Nah sambil memperlihatkan ponselnya.
"Lagi Mbok, coba lagi!"
Mbok Nah kembali mendial nomor Sean, hingga hampir satu jam lamanya mencoba menghubungi Sean dan akhirnya menyerah karena tak ada satupun panggilan yang dijawab oleh Sean.
"Ya Allah bagaimana ini,.." keluh Zara.
"Sebenarnya apa ada Non?" tanya Mbok Nah yang sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Zara.
"Ayah sama Ibu..." Air mata Zara langsung menetes, tak lagi bisa menahan diri untuk tidak menangis.
Hingga suara dering ponsel menghentikan tangisan Zara sejenak,
"Dari Aden Non..." Mbok Nah langsung memberikan ponselnya pada Zara.
"Mas... Mas... Ayah sama Ibu kecelakaan." ucap Zara yang langsung mendengar suara benda jatuh, sepertinya ponsel Sean.
"Mas..." Zara masih terisak menangis.
Dan 30 menit Sean akhirnya sampai dirumah, beruntung jalanan sore ini tidak macet jadi Ia bisa sampai rumah lebih cepat.
Sean langsung memeluk istrinya yang masih duduk dilantai dan menangis.
"Its okey, semua baik baik saja." kata Sean sambil mengelus rambut Zara.
"Ayo kita kesana mas..."
Sean mengangguk, Ia mengambil ponsel istrinya dan langsung mendial nomor yang tadi mengabari istrinya perihal kecelakaan itu.
Setelah mendapatkan alamat yang jelas, dengan diantar oleh Ricky, Sean dan Zara akhirnya berangkat.
Dan sampai dilokasi yang sudah diamankan oleh polisi, kini sudah terlihat sepi.
"Korban sudah dilarikan dirumah sakit kasih cinta yang tak jauh dari sini." ungkap salah satu polisi yang masih berada disana.
"Bagaimana kejadianya?"
"Sepertinya sopir mengantuk hingga menabrak Truk yang baru saja belok."
"Lalu keadaan penumpangnya?" tanya Sean harap harap cemas.
"Sepertinya..." Polisi itu memperlihatkan mobil yang rusak parah dan masih banyak darah yang belum dibersihkan disekitar jalanan.
__ADS_1
"Astagfirullah..." Zara tak tahan lagi dan akhirnya menangis apalagi setelah melihat kondisi mobil yang rusak parah juga banyaknya darah disana.
"Kita segera kerumah sakit." ajak Sean merangkul Zara dan kembali membawanya memasuki mobil.
Sampai dirumah sakit, Sean dan Zara diantar polisi menemui dokter yang menanggani orangtua Zara.
"Maafkan kami, tapi ketiga korban mengalami luka serius sehingga meninggal sebelum sampai disini." jelas Dokter yang seketika membuat tubuh Zara kembali ambruk dilantai.
"Nggak, Ayah sama Ibu nggak mungkin... mereka salah. itu bukan Ayah sama Ibu." ucap Zara dan tak berapa lama Zara pingsan.
"Sayang... sayang..." Sean yang panik akhirnya mengendong Zara dan membawanya ke UGD.
"Pasien mengalami shock berat." ucap dokter yang memeriksa Zara.
Sean menghubungi kedua orangtuanya agar segera datang kemari. Sean berjalan ke kamar jenazah dimana kini kedua mertuanya sudah berada didalam peti.
"Tubuhnya hancur sehingga kami memasukan ke dalam peti." jelas dokter pada Sean.
"Kenapa kalian pergi begitu cepat..." gumam Sean kembali menatap tiga peti yang ada didepan nya itu.
Sean kembali ke UGD dimana Zara yang kini di infus sudah sadar,
"Mas, dokternya bohongkan? Ayah sama Ibu masih ada kan?" tanya Zara yang langsung membuat Sean memeluknya untuk memberi kekuatan pada Zara.
"Jawab mas, jangan diem aja mas." Zara memukul mukul dada suaminya yang kini memeluknya.
"Jawab mas..." Zara kembali menangis.
"Kita harus ikhlas sayang, mungkin memang sudah waktunya untuk Ayah sama Ibu pergi." kata Sean yang langsung membuat Zara menggelengkan kepalanya.
"Enggak! nggak mungkin... Ayah sama Ibu nggak boleh pergi dulu mas. kita bahkan belum memberi cucu pada mereka." ucap Zara sambil terisak.
"Sabar sayang, tenang. ini ujian untuk kita." Sean yang sedari tadi menahan diri akhirnya ikut menangis saja.
Mengingat kedua mertuanya yang sangat baik padanya dan juga sangat menyanyanggi dirinya. Apalagi Ayah Bahar yang dulu menjadi sopirnya dan mengantar kemanapun Sean pergi, selalu memberikan kata kata penyemangat jika Sean sedang down juga Asih ibu mertuanya yang selalu tersenyum ramah padanya. Dan siapa sangka umur kedua mertuanya harus sesingkat ini.
"Aku mau lihat Ayah sama ibu." pinta Zara.
"Tapi sayang..." Sean tak tega jika Zara sampai tahu keadaan kedua mertuanya yang tubuhnya bahkan sudah hancur tak dikenal.
"Mas, aku mohon " pinta Zara yang akhirnya membuat Sean menyerah dan mengantarkan Zara ke kamar jenazah.
Dan benar saja setelah membuka peti jenazah, Zara kembali histeris dan pingsan.
"Sayang..." Sean kembali mengendong tubuh istrinya dan membawanya lagi ke UGD.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komeenn
__ADS_1