BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
28


__ADS_3

Pagi ini Sean mendapatkan tugas dari Anggara jika harus berangkat ke suatu daerah untuk mewakili Anggara sebagai donatur acara lomba olimpiade didaerah itu.


Awalnya Sean ingin menolak namun saat melihat daerah itu cukup dekat dengan tempat tinggal Zara membuat Sean akhirnya menerima.


Sean yang senang sudah membayangkan jika nanti sepulang dari acara Ia akan mampir kerumah istrinya dan menginap disana.


Ahh senangnya, membayangkan malam panas yang nanti akan terjadi jika Ia menginap dirumah Zara batin Sean.


"Nanti antar aku pulang ke rumah Zara." kata Sean pada Ricky yang kini sudah berada didalam mobil sedang perjalanan menuju tempat tujuan.


"Baik Tuan."


"Kita kembali ke kota besok pagi saja."


"Baik Tuan.


Didalam mobil Sean menyempatkan menelepon Zara. menanyakan beberapa hal pada Zara sambil membayangkan wajah senang Zara saat nanti dirinya tiba tiba pulang kerumahnya.


"Kira kira acaranya sampai jam berapa?" tanya Sean pada Ricky.


"Saya kurang tahu Tuan, mungkin tidak sampai sore."


Sean mengangguk dan tersenyum senang, jika tak sampai sore Sean masih bisa menjemput Zara dan mengajaknya jalan jalan seperti kemarin. Sean sudah membayangkan dan rasanya sudah tak sabar menunggu siang nanti.


Sesampainya disana, mobil Sean diparkir dibelakang mobil putih plat merah. Tampak 5 anak keluar dari mobil itu dan berjalan memasuki perpustakaan. dan tak berapa lama seorang wanita keluar dari mobil bagian kursi depan. Wanita yang sangat Sean kenali dan ya wanita itu adalah istrinya Zara. Sean tersenyum tak menyangka bisa bertemu dengan Zara secepat ini.


"Nona Tuan.." kata Ricky yang juga melihat Zara.


"Ya aku tahu." Sean ingin membuka pintu dan menghampiri Zara namun langkahnya terhenti kala melihat ada seorang pria yang mendekat ke arah Zara. Pria yang juga Sean kenali, pria yang tak lain adalah Panji mantan kekasih Zara.


Sean baru ingat jika keduanya memang mengajar ditempat yang sama jadi wajar saja jika Zara masih berhubungan dengan Panji.


Sean masih berdiri ditempat sambil melihat gerak gerik keduanya. tangan Sean langsung mengepal kala melihat Panji hampir merangkul Zara, beruntung saja Sang istri bisa langsung menghindar jadi Panji tak sempat menyentuh Zara. jika saja Panji sampai menyentuh Zara mungkin Sean akan langsung menghampiri Panji dan memberikan perhitungan pada Panji.

__ADS_1


Sean berjalan memasuki perpustakan dengan melewati jalan lain, Ia tak ingin melihat kebersamaan Zara denga pria lain meskipun Sean tahu jika istrinya bersama dengan Panji itu karena pekerjaan nya bukan hal lain namun tetap saja melihat itu bisa membuat Sean mendidih marah.


"Tuan Sean, terimakasih sudah datang." sambut seorang pria yang tak lain adalah pengurus acara itu.


"Saya datang mewakili Papa saya." jelas Sean yang langsung diangguki pria itu.


Mata Sean tak sengaja menatap ke Zara yang kini juga menatapnya bahkan Zara nampak terkejut.


Sean melihat Zara ingin menghampirinya namun di urungkan karena Sean memilih masuk mengikuti pria pengurus acara itu.


Sean duduk di kursi paling depan, dan tak lagi mencari tahu keberadaan Zara, atau mungkin lebih tepatnya tak mau tahu lagi karena Sean tak ingin kembali kesal jika melihat Zara dan Panji. semua bayangan indah tentang malam nanti pun mendadak hilang berganti dengan kekesalan dan amarah yang meluap.


Sementara itu, dikursi paling belakang Zara yang duduk disamping Panji terlihat celingukan mencari keberadaan Sean yang sudah tak terlihat lagi. Tadinya Zara ingin mendekat ke arah suaminya itu namun karena suaminya terlihat sedang mengobrol dengan pengurus lomba, Zara mengurungkan niatnya dan sekarang Zara malah kehilangan jejak keberadaan Sean.


"Nyari siapa?" tanya Panji yang sedari tadi memperhatikan Zara celinggukan namun Zara hanya menggeleng pelan dan terlihat lesu.


Barulah saat seorang pria tampan menaiki podium untuk memberikan sambutan membuat Panji paham jika yang dicari Zara sedari tadi adalah pria itu, suami Zara.


Zara tersenyum dan begitu kagum menatap ke arah suaminya yang sedang berbicara itu. Suaminya yang tampan dan juga gagah membuat Zara merasa bangga telah menjadi istri Sean.


Mengingat kemarin saat kepala sekolah mengatakan pada Panji jika yang menemani anak anak lomba adalah dirinya dan Zara membuat Panji sangat senang. Karena dengan ini Panji berharap bisa kembali dekat dengan Zara, Ya meskipun Panji sadar jika Zara sudah bersuami namun berteman baik bukan sesuatu yang salah kan?


"Itu suami mu?" tanya Panji pada Zara.


Zara mengangguk,


"Dia sangat hebat, sepertinya memang pantas untukmu." kata Panji lagi.


"Jangan berlebihan."


"Tidak, hanya saja aku bukan apa apa jika dibandingkan dengan dia." kata Panji lagi membuat Zara menghela nafas panjang.


Panji sengaja memberikan banyak pertanyaan pada Zara agar Sean melihat jika Zara sedang berbincang dengan Panji dan benar saja didepan Sean melihat Zara mengobrol dengan Panji begitu akrab hingga membuatnya semakin mendidih.

__ADS_1


Sorakan tepuk tangan terdengar kala Sean mengakhiri pidatonya. Sean langsung kembali ke kursinya, sebelum itu Ia sempat melihat Zara menatapnya dan tersenyum padanya namun Sean mengacuhkan dan malah membuang muka. tentu sikap Sean yang seperti itu membuat Zara bingung, ada apa?


"Apa dia malu jika semua orang tahu aku istrinya?" batin Zara.


Semua guru mendekati murid mereka untuk memberikan semangat sebelum lomba dimulai. termasuk juga Panji dan Zara yang memberikan motivasi terbaik mereka agar para murid mereka semangat dan memenangkan lomba.


Sikap Panji pada Zara selalu disorot dari jauh oleh Sean, ya sedari tadi Sean memperhatikan bagaimana Panji mencuri curi kesempatan untuk menyentuh Zara nya. beruntung Zara selalu bisa menghindar dari sentuhan tangan Panji.


"Sialan, jika saja tidak di tempat seperti ini mungkin sudah ku habisi orang itu." batin Sean sambil mengepalkan tangan nya.


Dan kesabaran Sean habis saat melihat Zara yang sedang melakukan briefing lalu dengan santainya Panji mengelus kepala Zara seolah bangga dengan apa yang Zara katakan.


Sean langsung bangkit dan menghampiri Zara lalu tanpa mengatakan apapun Sean langsung menarik tangan Zara dan membawanya keluar.


Panji yang tak terima menyusul keduanya hingga mereka sampai ditempat parkir.


"Zara masih harus di sini!" kata Panji pada Sean.


Namun Sean tak mengubris dan malah semakin berjalan cepat. Panji yang kesal akhirnya ikut menarik tangan Zara yang sebelah membuat Sean tak tahan lagi dan akhirnya...


Bugh...


Bugh...


Dua pukulan Sean berikan untuk Panji.


"Astagfirullah mas..." Zara menjerit melihat Sean memukul Panji.


"Persetan dengan apapun itu, jangan pernah menyentuh istriku lagi!"


Sean kembali menarik tangan Zara dan kali ini mengajak Zara memasuki mobil.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen...


__ADS_2