
Anya menunggu jawaban dari Zara setelah Anya meminta nomor ponsel Zara. Terlihat Zara hanya diam saja saat di mintai nomor ponsel.
"Tidak boleh ya?"
Dengan raut wajah terkejut, Zara akhirnya membalas, "Bukan aku tak mau memberikan nomerku tapi aku tidak hafal nomor ponselku. nanti setelah suamiku selesai berenang, aku tanyakan dulu pada suamiku apa aku boleh memberikan nomorku atau tidak."
Anya langsung memanyunkan bibirnya, "Apa harus bertanya pada suamimu setiap ingin melakukan sesuatu?"
Zara mengangguk dan tersenyum, "Tentu saja, karena setelah menikah seorang istri menjadi tanggung jawab suami dan tentu harus tunduk dan taat pada suaminya."
Anya mengangguk malas, merasa gagal dengan tugas yang diberikan oleh Zayn untuknya. Tadi Zayn mengatakan jika ingin terbebas darinya, Anya harus membantu Zayn mendapatkan Zara.
"*Bagaimana caranya pak?"
"Kau harus membantuku mendapatkan Zara."
Sontak Anya terkejut dengan permintaan Zayn itu, padahal Zayn tahu jika Anya sudah bersuami namun seolah Zayn tidak peduli dengan itu.
"Ta-tapi pak, bukan kah Zara sudah menikah?"
Zayn tersenyum sinis, "Pria itu, suami Zara sangat brengsek! tak pantas memiliki wanita seperti Zara."
Lagi lagi Anya terkejut, padahal jika dilihat secara sekilas, Suami Zara terlihat seperti pria yang sangat baik, berbeda sekali dengan Zayn yang tega memperkosanya dan memaksa hubungan intim berkali kali. bukankah harusnya yang disebut brengsek itu Zayn?
"Entah bagaimana caramu, aku hanya ingin bisa bersama Zara. setelah itu kau bisa bekerja dikantor tanpa melayani ku lagi. bagaimana apa kau sanggup?"
Anya terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju, hatinya terasa sedikit sakit karena Anya pikir Zayn memperlakukan dirinya baik semalam karena mungkin menyukainya tapi nyatanya malah menyukai Zara, teman sekolahnya yang sudah memiliki suami*.
Dan sekarang niat Anya meminta nomor Zara agar bisa menghubungi Zara setiap saja dan membuat mereka dekat lalu Anya bisa menjebak Zara agar bersama Zayn dan dirinya akhirnya terbebas.
Memang terdengar jahat, namun saat ini Anya juga ingin membebaskan diri dari penjara nafsu bosnya itu, meskipun dirinya harus mengorbankan teman nya sendiri.
Anya memberikan secarik kertas yang sudah bertuliskan nomornya pada Zara, "Jika sudah sampai kamar, hubungi aku ya."
__ADS_1
Zara terpaksa menerima nomor yang Anya berikan, "InsyaAllah aku akan menghubungimu."
"Apa yang kalian bicarakan?" suara Zayn mengejutkan keduanya.
Anya bangkit dan memberikan jubah mandi pada Zayn untuk menutupi tubuh Zayn sementara Zara terlihat menunduk tak mau menatap ke arah Zayn.
"Hanya obrolan biasa saat bertemu dengan teman lama pak." balas Anya.
"Asyik sekali, bagaimana jika kita mengobrol bersama sambil sarapan?" ajak Zayn.
Zara tersenyum dan akhirnya menatap Zayn yang kini sudah memakai jubah mandi untuk menutupi tubuhnya, "Tidak, terimakasih atas tawaran nya, sepertinya aku harus kembali ke kamar karena suamiku juga sudah selesai berenang." Zara menunjuk ke arah Sean yang kini nampak berjalan mendekat ke arahnya.
Zara segera bangun dan berjalan menjauh dari Zayn dan Anya, Ia menghampiri suaminya lebih dulu sebelum suaminya sampai.
"Pria brengsek itu pasti mencoba mendekatimu?" tanya Sean saat Zara sudah berada didepannya. Mata Sean memerah marah dan suaranya terdengar kesal.
"Sudahlah mas, kita naik ke atas saja." Zara tak ingin terjadi keributan, makanya Ia memilih mengajak Sean kembali ke kamar mereka.
Sean menatap ke arah Zayn yang kini menatap ke arah dirinya juga, Sean tersenyum dan dengan sekali gerakan Ia menarik pinggang Zara hingga keduanya sangat dekat lalu sengaja mencium Zara didepan Zayn yang langsung terlihat mengepalkan tangan nya.
Sean hanya terkekeh, Ia melihat ke sekitar memang semua orang sedang memperhatikan keduanya namun Sean sama sekali tak peduli, karena merasa puas sudah bisa membuat Zayn kesal.
Zayn yang terlihat kesal dengan apa yang baru saja dilakukan Sean, akhirnya menarik tangan Anya dan membawanya kembali ke kamar Anya.
Didalam kamar Anya, Zayn langsung mencium Anya secara brutal bahkan sampai mengigit bibir Anya membuat Anya menjerit kesakitan.
Zayn langsung melempar tubuh Anya diranjang, dengan sekali tarikan semua kancing jumpsuit yang Anya pakai terlepas hingga memperlihatkan bra warna merah yang dipakai Anya.
"Pak...." suara Anya terdengar takut, melihat Zayn menatap ke arahnya dengan tatapan liar dan brutal, Anya takut dan tak mau diperlakukan kasar lagi. Namun Zayn yang kejam tak mengubris rintihan Anya, Ia malah menikmati tubuh Anya dengan brutal membuat Anya kembali menangis kesakitan.
"Bagaimana? apa kau sudah mempunyai cara agar aku bisa bersama Zara?" tanya Zayn kala usai menikmati tubuh Anya.
Anya menggeleng pelan, tubuhnya terasa sakit dan remuk membuatnya enggan menjawab apa yang baru saja Zayn tanyakan,
__ADS_1
"Semua ada ditanganmu. jika kau tidak bisa membuatku memiliki Zara, bersiaplah menjadi partner ranjang ku setiap saat seperti ini." kata Zayn lalu pergi meninggalkan Anya yang kini menangis kesakitan.
"Apa salahnya? kenapa dia harus mengalami semua ini?"
Berbeda jauh dari Anya, kini Zara tengah duduk dipinggir ranjang sambil menunggu suaminya selesai mandi. Zara memeganggi dan menatap secarik kertas berisi nomor Anya. Ia masih berpikir dua kali untuk memberikan nomornya mengingat Sean sudah memberikan larangan keras agar tak dekat dengan Anya.
"Apa itu?" Sean yang baru saja keluar dari kamar mandi penasaran dengan apa yang tengah dipegang oleh Zara.
"Ini, nomornya Anya mas. tadi Anya berbincang padaku dan meminta nomorku tapi aku belum memberikan nomorku padanya, aku ingin minta izin sama mas apa aku boleh menghubungi nomor Anya?"
Sean langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak, jangan sampai dia tahu nomormu."
Zara akhirnya mengangguk, "Iya mas, aku tidak akan menghubungi nomor Anya." Zara segera membuang kertas itu ke tempat sampah.
"Bukan aku melarangmu dekat dengan teman mu sayang, hanya saja sebaiknya kamu memang menjauh dari dia karena aku yakin mereka sedang merencanakan sesuatu untuk menjebakmu." jelas Sean.
"Iya mas aku mengerti."
Sean tersenyum dan langsung mendekati istrinya, "Aku hanya tidak ingin terjadi kesalahpaham lagi yang membuat kita harus bertengkar, terimakasih sudah mau mengerti sayang." kata Sean yang kini sudah melepaskan hijab yang dipakai Zara.
"Aku juga tidak mau membuat mas salah paham dan marah." balas Zara lalu tersenyum manis membuat Sean terpana sampai akhirnya mencium bibir Zara dengan lembut.
Ciuman lembut yang berubah menjadi ciuman panas mendorong tubuh Zara hingga jatuh ke ranjang. Kini Sean sudah berada diatas Zara.
"Need you..." bisik Sean.
Zara mencekal tangan Sean yang ingin membuka bajunya, "Bolehkan aku meminta sesuatu mas?"
"Apa sayang?"
"Jangan menciumku didepan umum lagi. aku malu."
Sean terkekeh, Ia mengangguk dan langsung mengajak Zara menikmati surga dunia mereka.
__ADS_1
BERSAMBUNG....
Jangan lupa like vote dan komenn....