
Zara membereskan barangnya lalu bergegas untuk pulang, sebelum pulang Zara sempat mengecek ponselnya dan Zara harus dibuat kecewa karena masih belum ada notif pesan atau panggilan dari Sean.
Seharian kemarin bahkan hingga malam, Zara tak bisa tidur menunggu pesan atau telepon dari Sean yang tak kunjung datang.
Baru dua hari ditinggal Sean, Zara sudah merasakan rindu yang luar biasa pada Sean.
"Apa sesibuk itu sampai lupa mengabari?" batin Zara terlihat lesu dan tak bersemangat.
"Baru mau pulang?" suara Tessa mengejutkan Zara yang setengah melamun.
"Iya kak, baru selesai beberes." jawab Zara.
"Ck, kamu terlalu rajin Zara padahal temen temen kamu sudah pada pulang sejak tadi." puji Tessa membuat Zara hanya tersenyum malu.
"Saya pulang dulu ya kak." pamit Zara yang langsung diangguki oleh Tessa.
Zara berjalan keluar dan didepan seperti biasa sudah ditunggu oleh Ricky yang selalu tepat waktu menjemput Zara.
"Maaf, apa lama menungguku?"
Ricky langsung terkekeh, sejak pertama menjemput Nona nya itu, kata maaf selalu diucapkan Zara padahal dia sudah biasa menunggu lama.
"Tidak apa apa Nona."
"Langsung pulang saja ya, aku lelah." kata Zara yang langsung diangguki Ricky.
"Apa mas Sean tidak menghubungimu?" tanya Zara setelah keduanya diam cukup lama.
"Tidak Nona, kenapa?"
"Ah tidak apa apa, aku hanya bertanya." balas Zara langsung gugup.
"Nona merindukan Tuan ya?" goda Ricky yang langsung membuat pipi Zara merona.
"Hahaha maafkan saya nona, saya hanya bercanda." kata Ricky lagi merasa tak enak.
"Kenapa berhenti disini?" tanya Zara kala mobil Ricky berhenti disebuah restoran dengan pemandangan alam.
"Ada yang ingin bertemu dengan Nona, mari saya antarkan." kata Ricky membuat kening Zara mengerut heran, penasaran dengan siapa yang ingin bertemu dengan nya.
"Siapa?"
Ricky tak menjawab malah membuka kan pintu untuk Zara.
"Mari nona..." ajak Ricky yang akhirnya Zara ikut keluar bersamanya.
Zara mengikuti langkah Ricky hingga keduanya sampai di belakang resto dimana ada gazebo dan seorang pria berdiri didepan gazebo itu sambil tersenyum ke arah Zara.
"Mas..." Zara yang sangat senang dengan kepulangan serta surprise dari Sean langsung menghambur ke pelukan Sean.
"Apakah seperti ini rasanya dirindukan istri." gumam Sean membuat Zara melepaskan pelukannya dan tersenyum malu.
__ADS_1
"Katanya 3 hari, kenapa sudah pulang?" tanya Zara heran.
"Aku tak bisa melihat istriku yang tersiksa karena merindukanku." ucap Sean membuat Zara gemas akhirnya mencubit pelan pinggang Sean.
"Aduh, sakit sayang." keluh Sean sambil memeganggi pinggangnya.
"Mana ada sakit malah ketawa." omel Zara membuat Sean semakin terkekeh.
"Makan dulu sayang." ajak Sean yang sudah memesankan makanan untuk Zara.
"Aku tidak tahu ternyata ada restoran sebagus ini." Zara duduk disamping suaminya.
"Banyak yang lebih bagus dari ini, besok kalau perlu aku ajak keliling restoran diseluruh kota ini." kata Sean membuat Zara hanya tersenyum saja.
Selesai makan, mereka duduk sambil menikmati indahnya pemandangan disore hari sampai adzan magrib terdengar barulah mereka pulang.
"Sholat duluan mas." kata Zara mengingatkan Sean yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kamu?"
"Aku mau keramas dulu." Sean langsung bersorak mendengar Zara yang akan keramas.
"Kenapa?" heran Zara melihat suaminya begitu bersemangat.
"Kalau sudah keramas berarti nanti malem kita bikin pesenan Papa sama mama dong."
"Lho, Papa sama Mama pesen apa mas?" tanya Zara bingung membuat Sean terkekeh.
"Adek bayi."
Dan benar saja malam hari setelah selesai sholat isya, Sean langsung menarik Zara mengajaknya ke ranjang mereka.
Hingga satu ronde permainan berakhir, Zara berbaring berbantalkan lengan Sean sambil menghadap Sean.
"Padahal baru 2 hari nggak ketemu, tapi rasanya kangen banget sama kamu." ungkap Sean membuat Zara tersenyum.
"Makanya jangan jauh jauh lagi mas."
"Besok kalau aku ada tugas lagi, kamu ikut ya." ajak Sean yang langsung diangguki Zara.
"Masalah sekolah gampanglah, nanti aku ngomong sama Tessa." kata Sean lagi.
"Jangan lah mas."
"Kenapa?" Sean menatap Zara heran.
"Aku nggak enak sama temen temen nanti dikira aku dispesialkan sama Kak Tessa."
"Kamu harus di spesialkan dong, kan istri aku." balas Sean santai.
"Ish jangan lah mas, nggak enak aku."
__ADS_1
"Iyalah, kan enaknya sama aku aja."
Zara yang kesal akhirnya berbalik memunggungi Sean.
"Duh ngambekan nih bini gue." celetuk Sean lalu menciumi punggung Zara membuat Zara geli dan akhirnya tertawa.
"Mas langsung ngantor?" tanya Zara saat pagi hendak membangunkan Sean namun Sean sudah rapi dengan setelan kantornya.
"Iya sayang, kenapa kamu mau jalan jalan?" tanya Sean mendekat ke arah Zara lalu mencium kening Zara.
Zara menggelengkan kepalanya pelan, "Besok aja kalau libur, kerumah Ayah sama Ibu ya mas."
Sean mengangguk setuju, karena kemarin saat mereka pulang kampung malah tidak bertemu dengan orangtua Zara.
"Sekarang kangen nya pindah nih sama Ayah ibu?" goda Sean.
"Mas nggak cemburu kan kalau aku kangen sama Ayah ibu?"
Sean terkekeh, "Cemburu, nggak boleh kangen sama siapapun kecuali aku."
"Ck, gitu amat mas."
Sean kembali terkekeh, "Iya sayang, kangen nya sama Ayah Ibu saja boleh banget kok." kata Sean sambil mengelus pipi Zara.
Seusai sarapan, keduanya berangkat. Sean mengantar Zara lebih dulu sebelum Ia akhirnya sampai dikantor.
Dan diruangan Sean sudah ada Anggara yang menunggunya.
"Ngapain Pa, pagi gini udah di sini." heran Sean menatap ke arah Anggara yang tersenyum ke arahnya.
"Diparis berapa hari? pulang kapan?"
Sean berdecak kesal mengetahui sang Papa datang hanya untuk mengintrogasinya saja.
"Cuma sehari disana Pa, langsung pulang." Balas Sean malas lalu duduk disamping sang Papa.
"Yakin? nggak nginep?" tanya Anggara lagi memastikan.
"Enggak lah Pa, tahu sendiri kan Sean kesana mau ngapain, kenapa juga harus nginep."
Anggara terkekeh, "Ya kali aja kamu disana berubah pikiran nggak jadi milih Zara malah kecantol lagi sama Sella."
"Sean udah pikirkan semuanya sebelum berangkat kemarin Yah, dan Zara adalah pilihan Sean yang akan Sean jaga dan sayangi setelah ini." kata Sean yang langsung diacungi jempol oleh Anggara.
"Memang seharusnya seperti itu, Zara itu wanita baik baik juga soleha. kalau kamu sampai menyakiti dia kamu pasti akan menyesal Sean." kata Anggara yang langsung diangguki Sean.
"Gimana tanggapan Sella saat kamu memutuskan pertunangan kalian?" tanya Anggara terdengar penasaran.
"Sean ngerasa aneh, Sella nerima keputusan Sean begitu saja padahal tadinya Sean mengira Sella tidak akan pernah mau." ungkap Sean.
Anggara tersenyum, "Tapi ingat Sean, kamu harus tetap hati hati, karena Papa yakin Sella itu wanita rubah, tak mungkin dia membiarkan mu bahagia begitu saja."
__ADS_1
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komennn