BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
71


__ADS_3

Sean yang baru saja selesai meeting dengan para bawahannya segera kembali ke ruangan nya, Ia melihat ponsel miliknya yang sedari tadi terdengar notif pesan.


Sean melihat Mama nya mengirimkan beberapa foto candid Zara saat memilih undangan dan terakhir foto candid Zara saat berada direstoran.


Tanpa disadari bibir Sean mengulas senyum saat melihat foto foto istrinya yang terlihat cantik dan sangat kalem.


Emang mantu mama yang ini ter the best banget. nurut banget anaknya, nggak bikin Mama pusing. awas aja kalau kamu sampai nyakitin dia nanti.


Sean kembali tersenyum setelah membaca pesan dari sang Mama. Ia meletakan ponselnya dan menyandarkan kepalanya di kursi, memikirkan bagaimana bisa dirinya meninggalkan Zara sementara berpisah sehari saja sudah membuatnya galau setengah mati.


Sean pulang sore hari, lebih awal dari biasanya karena Ia bisa menyelesaikan pekerjaan nya membuat Sean bisa segera pulang.


Sean pikir Zara belum sampai dirumah, namun ternyata Sean salah karena istrinya sudah berada didapur memasak makan malam untuknya.


"Mas kok udah pulang?" Zara mencium punggung tangan suaminya saat Sean mendekat ke arahnya.


"Nggak seneng nih lihat aku pulang cepet?"


Zara terkekeh, "Seneng lah mas."


"Kamu kan habis muter muter seharian sama Mama, emang nggak capek? harusnya minta mbok Nah aja yang masak."


Zara menggeleng pelan, "Aku nggak capek mas, lagian seneng lihat mas makan nya nambah kalau aku yang masak." ungkap Zara membuat Sean memeluk istrinya dari belakang.


"Emang sengaja ya kamu mau bikin aku gendut." Sean memberikan ciuman dipipi Zara bertubi tubi membuat Zara merasakan geli.


"Mas mandi sama sholat ashar dulu, nanti habis itu aku bikinin teh madu hangat sambil nunggu makanannya mateng."


"Ck, padahal masih pengen nyender." keluh Sean yang saat ini sedang menyadarkan kepalanya dibahu Zara.


"Pegel tau, mas kan sekarang gemoy." ejek Zara yang langsung membuat Sean terbahak, tak menyangka istrinya bisa bercanda juga.


"Kayaknya mandi bareng lebih asik yank."


"Aku udah mandi mas, masa mandi lagi." Zara merasa tak enak menolak permintaan suaminya.


"Ya udahlah, nanti malem aja." Sean mengedipkan matanya ke arah Zara setelah itu Ia langsung berjalan meninggalkan Zara.


"Aden sekarang bawaan nya happy terus Non, jadi seneng lihatnya." ungkap Mbok Nah yang baru saja datang padahal sedari tadi Mbok Nah ingin membantu Zara didapur namun saat melihat ada Sean Mbok Nah sengaja tidak mendekat karena takut menganggu romantisme keduanya.


"Alhamdulilah mbok, Zara juga seneng kalau mas Sean enggak marah marah terus."


"Sekarang Aden emang banyak berubah setelah ada Non Zara... selalu pulang cepet, senyum terus pokoknya adem lah diliatnya, Non Zara memang bawa pengaruh baik buat Anden." ungkap Mbok Nah.

__ADS_1


"Duh jangan terlalu muji gitu mbok, takut malah jadi besar nih kepalanya."


Mbok Nah terkekeh, "Nggak apa apa Non, katanya kalau kepalanya besar itu tandanya orang pinter."


Kini giliran Zara yang terkekeh, "Ada ada aja mbok Nah ini."


"Mbok doakan semoga pernikahan Non sama Aden langgeng sampai maut memisahkan."


"Aamiiin, makasih doanya Mbok." Zara tersenyum manis pada Mbok Nah.


"Lagi pada ngomongin apa sih? asyik banget kayaknya." Suara Sean terdengar dari belakang.


"Mas udah sholat ashar?"


"Belum sayang, ini baru mau sholat."


"Ya udah sholat dulu sana."


"Emang bener bener deh, bawel amat istriku ini." gerutu Sean dengan nada bercanda membuat Zara tersenyum geli.


Zara meletakan secangkir teh madu hangat dimeja ruang tengah dimana sudah ada Sean yang baru saja selesai sholat.


Dan saat Zara hendak kembali ke dapur, Sean menarik tangan Zara hingga Zara jatuh ke pangkuan nya,


Sean mencium leher leher belakang Zara dan menghirup aroma tubuh Zara.


"Kangen sama istriku. lagian mbok Nah pasti ngerti." balas Sean tak menghentikan aksinya.


Zara akhirnya pasrah membuat Sean tersenyum senang. Namun kini Sean malah membaringkan tubuh Zara di sofa lalu menindihnya.


"Mas..." keluh Zara tak setuju dengan apa yang Sean lakukan.


Sean malah terkekeh, akhirnya Ia berhasil membuat istrinya kesal.


Sean lalu berbaring disamping Zara dan memeluknya, beruntung sofa yang ada diruang tengah cukup besar hingga cukup untuk dibuat rebahan keduanya.


"Kangen, kerja aja rasanya pengen cepet pulang." ungkap Sean masih memeluk Zara.


Zara tersenyum, "Kata Mama besok kita harus prewedding mas."


Sean terdiam sejenak, "Maafin aku ya sayang."


"Lho maaf kenapa mas?" heran Zara.

__ADS_1


"Ya karena keinginan orangtuaku, kamu jadi terpaksa melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan." kata Sean membuat Zara lagi lagi tersenyum.


"Nggak terpaksa mas, insyaAllah aku ikhlas kok. lagipula ini juga demi kebaikan kita semua kan? dengan ini semua orang bisa tahu jika kita pasangan suami istri dan mereka nggak akan ganggu hubungan kita lagi." jelas Zara.


Sean mengangguk setuju, "Bener banget sayang, terutama buat si duda yang suka kegatelan sama kamu itu, biar dia tahu kita benar benar sudah menikah dan nggak ganggu kamu lagi." mendadak Sean jadi kesal mengingat Zayn.


Zara tersenyum, "Kok malah jadi kesel mas?"


"Emang bawaan nya kesel trus kalau keinget si duda." kata Sean lagi membuat Zara hanya membalasnya dengan senyuman.


Selesai makan malam dan sholat isya, Zara segera memasuki kamar dimana sudah ada Sean yang menunggunya diranjang.


"Sini sayang..." Sean menepuk nepuk ranjang sampingnya yang kosong.


Zara tersenyum dan menuruti suaminya,


"Lepas dulu hijabnya," Sean melepaskan hijab oblong yang dipakai Zara.


"Cantiknya istriku." puji Sean kala melihat rambut Zara dibiarkan terurai membuat Zara tersipu malu.


Sean mengajak Zara berbaring disampingnya, Ia tatap wajah istrinya yang sedari tadi hanya menuduk.


"Diliatin kok malah nunduk terus."


"Ma-maaf mas, rasanya masih malu kalau diliatin sama mas." ungkap Zara membuat Sean terkekeh.


"Padahal tiap hari digituin, masih aja malu."


Sean mengangkat dagu Zara hingga Zara mau tak mau menatap ke arahnya, Sean mendekatkan bibirnya dan mulai mencium bibir Zara.


Pelan namun semakin lama semakin mengebu hingga tangan Sean kini sudah aktif membuka kancing baju milik Zara.


Zara yang sudah terbiasa dengan hal seperti itu pun ikut menggerakan tangannya, balas membuka kancing baju Sean membuat Sean tersenyum senang.


Sean menghentikan ciuman panas mereka dan membisikan sesuatu ditelinga Zara, "Mesum amat istriku, bukain kancing baju."


Seketika Zara menghentikan aktifitasnya dan wajahnya memerah malu mendengar ucapan Sean.


"Mass..." Zara langsung saja berbalik memunggungi Sean dan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


Sean terkekeh, membalikan paksa tubuh Zara lalu kembali menciumnya,


"Makasih sudah membuat hari ku lebih bahagia sayang." ungkap disela sela aktifitas panas mereka.

__ADS_1


BERSAMBUNG ..


Jangan Lupa like vote dan komennn


__ADS_2