
Setelah mengantar periksa Zara, Sean awalnya ingin mengambil libur namun sayangnya Zara tak mengizinkan Sean libur dan malah menyuruh Sean berangkat kerja.
"Aku takut kamu kenapa napa sayang." ungkap Sean saat Zara sudah menyodorkan setelan kantor milik Sean.
"InsyaAllah nggak bakal kenapa napa mas, lagian masa mas mau bolos terus, nggak enak sama Papa."
"Papa pasti ngerti, lagian aku bolos kan buat jagain calon cucunya." kata Sean masih enggan memakai baju kantornya.
"Ya Allah mas, jangan terlalu overprotektif gitu, aku beneran baik baik aja." kata Zara meyakinkan.
"Tapi aku pengen libur, ya boleh ya, sehari aja."
"Masa calon Papa mau bolos kerja terus, mau males malesan kerja nanti keterusan trus ngikut ke anak kita gimana?"
"Yahh jangan gitu dong sayang."
"Makanya mas sekarang berangkat aja." desak Zara yang akhirnya membuat Sean menyerah.
"Iya deh iya, aku berangkat tapi nanti kalau ada apa apa langsung telepon aku trus kalau kamu pengen sesuatu langsung bilang aku, nggak mau aku kalau anak kita sampai ileran."
Zara tersenyum geli, "Iya mas iya, nanti aku bilang."
Sean menerima setelan baju dari tangan Zara, Ia segera bersiap untuk berangkat kerja.
Kini Sean sudah berada didalam mobil yang dilajukan oleh Ricky,
"Nggak boleh bolos kerja sama ibu negara." keluh Sean pada Ricky.
"Nona pasti baik baik saja tuan, tenang saja."
"Kita kerumah Papa sama Mama dulu."
"Baik Tuan."
"Dan tolong carikan satpam juga sopir pribadi untuk Zara, agar jika Zara membutuhkan sesuatu tak perlu menunggumu datang." pinta Sean.
"Baiklah Tuan."
Sesampainya dirumah orangtunya, Ranti yang membukakan pintu terlihat heran dengan kedatangan putranya sepagi ini.
"Sena udah ke toko Ma?"
"Baru saja berangkat, cuma ada Papa dimeja makan."
"Ya udahlah, yang penting Papa sama Mama tahu dulu."
"Ada apa emang? tumben kamu pagi pagi gini kerumah, trus sendiri kok nggak sama Zara?"
Sean tidak menjawab malah berjalan menuju meja makan,
"Ngapain kamu di sini? bukan nya ngantor malah kesini." kata Anggara yang sedang menikmati sepotong roti bakar buatan sang istri.
"Papa jangan galak dulu dong, Sean kesini bawa berita penting dan pasti Papa sama Mama bakal seneng dengernya." Sean kini duduk didepan sang Papa.
"Berita penting apa sih?" Ranti yang kepo ikut duduk disamping Sean.
__ADS_1
"Bentar lagi Mama sama Papa bakal punya cucu. Zara hamil pa, hamil."
Sean pikir ekspresi orangtuanya akan sangat senang namun nyatanya kedua orangtuanya itu malah terlihat biasa saja.
"Mama sama Papa nggak seneng?" tanya Sean.
Ranti tersenyum, "Bukan nggak seneng, tapi Mama sama Papa udah tahu."
"Haa... kok bisa?" heran Sean mengetahui Orangtuanya sudah tahu padahal dirinya tahu pagi ini.
"Iya, tadi Zara chat mama ngabarin kalau hamil. Mama sama Papa udah seneng dari tadi, baru aja selesai ngobrolin sama Papa, ee kamu udah datang aja." jelas Ranti.
"Ck, padahal Sean pengen lihat ekspresi mama sama Papa seneng pas pertama denger." gerutu Sean nampak kecewa.
Ranti dan Anggara terkekeh, "Mama sama Papa pasti senenglah,"
"Sebentar lagi kamu sudah jadi orangtua Sean, jadi ingat kamu harus lebih rajin lagi bekerja jangan karena kamu anak Papa kamu bisa seenaknya malas malasan!" kata Anggara penuh penekanan.
"Iya Pa, kemarin kalau bukan karena Zara ngambek juga Sean nggak mungkin bolos kerja."
"Ya sudah sekarang kamu berangkat kerja sana!"
"Lah, Papa aja juga belum berangkat." protes Sean.
"Papa kan bos nya, sementara kamu masih bawahan Papa."
"Ck, ngeselit amat." Sean yang merasa kalah dengan Papa nya akhirnya berdiri dan mencium tangan kedua orangtuanya sebelum akhirnya pergi ke kantor.
Dikantor Sean tampak bersemangat hari ini, bahkan setumpuk berkas yang diberikan oleh Naya bisa selesai setengah hari.
"Maksudnya anak anak siapa Pak?"
"Ck, ya kamu sama temen temen kamu pada makan dimana?" Sean terlihat kesal karena Naya tak segera paham maksudnya.
"Biasanya warteg depan kantor pak, kenapa pak tanya tanya, mau bayarin ya?" tanya Naya dengan nada bercanda.
"Iya, saya transfer uangnya ke rekening kamu, ajak semua karyawan makan disana gratis sekenyangnya." kata Sean yang kini baru saja selesai mentransferkan uang ke rekening Naya.
Sontak Naya terlihat sangat senang, "Ini beneran kan pak? padahal saya cuma bercanda lho." kata Naya melihat nominal uang yang baru saja masuk ke rekeningnya.
"Kenapa? kurang?"
"Nggak kurang pak, ini malah bisa beli makanan sama warungnya." balas Naya sambil terkekeh.
"Ya sudah sana, ingat jangan sampai dikorupsi kalau sisa bagikan sama orang orang yang ada dipinggir jalan."
"Siap pak, tenang saja saya amanah kok orangnya."
Naya baru saja berbalik hendak keluar namun Ia kembali menghadap Sean lagi, "Ngomong ngomong ini acara apa pak, kok tumben traktir makan siang?"
"Istri saya hamil, jadi saya ingin membagikan kebahagiaan saya pada semua karyawan." balas Sean.
"Ya Allah pak, selamat ya pak, semoga kehamilan nya sehat smapai lahiran."
"Aamiin,"
__ADS_1
"Semoga sering sering hamil biar sering traktir kayak gini." kata Naya cengegesan lalu keluar dari ruangan Sean.
Sean kembali membuka layar laptopnya, Ia belum merasa lapar meskipun sudah jam makan siang, Ia juga sedang malas keluar jadi memilih berada didalam kantor saja.
Namun tiba tiba, kepala Sean terasa pusing berdenyut tak tertahankan membuat Sean akhirnya berbaring disofa.
Biasanya Sean tidak pernah merasakan seperti ini, dan entah kenapa kali ini Ia merasakan pusing seperti ini.
Cukup lama Sean berbaring, dan sudah tak merasakan pusing lagi. Sean lalu bangun dan duduk disofa hingga pintu ruangan nya terbuka dan seseorang masuk ke ruangan.
"Kenapa kantormu kosong?" tanya Zayn orang yang baru saja masuk keruangan Sean.
"Ck, siapa yang menyuruhmu masuk!" kesal Sean.
Baru saja pusingnya hilang, kini berubah kesal setelah melihat Zayn.
"Tidak ada orang diluar jadi aku masuk saja." balas Zayn santai lalu duduk didepan Sean.
"Ayo kita makan siang." ajak Zayn.
"Apa kita sedekat itu sampai aku harus makan siang denganmu!"
"Ck, mulai sekarang kita harus lebih dekat karena istri kita juga teman dekat."
"Aku tidak mau!"
"Ya sudah jika kau tidak mau, aku akan mengajak istriku juga istrimu." ancam Zayn dengan senyum menyerigai.
"Sialan kau!"
Sean akhirnya mau makan siang bersama Zayn. keduanya makan di restoran yang tak jauh dari kantor Sean.
"Kenapa kau hanya memesan soto?"
"Apapun yang ingin ku makan itu urusanku!" ketus Sean.
"Oh oke oke."
Setelah makanan datang, baru mencicipi sesuap, Sean merasakan mual yang luar biasa hingga akhirnya Ia berlari ke kamar mandi.
Zayn yang penasaran dengan apa yang terjadi akhirnya ikut berlari ke kamar mandi.
"Ada apa?" tanya Zayn saat melihat Sean muntah diwastafel.
Zayn terkejut, "Apa istrimu juga hamil?"
Sean mengangguk pelan yang langsung membuat Zayn tertawa sangat keras,
"Kemarin kau mengejek ku dan sekarang kau merasakan sendiri." Ejek Zayn sambil tertawa.
"Ck, sialan!" Sean menjadi ingat saat Zayn makan siang dirumahnya dan merasakan hal yang sama.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komeennn
__ADS_1