BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
37


__ADS_3

Sean memandangi wajah istrinya yang kini sudah terlelap. setelah pergumulan panas mereka yang melelahkan Zara akhirnya terlelap lebih dulu dan Sean, matanya masih enggan terpejam.


Tangan Sean terangkat untuk mengelus pipi halus Zara, hingga tidur Zara terasa terusik dan Zara memanyunkan bibirnya.


Sean terkekeh melihat ekpresi kesal Zara saat tidurnya diganggu.


Sean tak menghentikan elusan tangan nya di pipi Zara hingga Zara membuka matanya.


"Ngantuk mas..." keluh Zara kembali memejamkan matanya.


"Masa baru 3 ronde aja udah K.O sih sayang." bisik Sean ditelinga Zara membuat Zara mau tak mau memaksa membuka matanya.


"Mas mau lagi?" tanya Zara terdengar lemas.


Sean terkekeh, "Enggak sayang. tidur lagi aja."


"Ck, sukanya gangguin." omel Zara kembali memejamkan mata.


"Oo gitu ya sekarang udah bisa ngomel." gemas Sean lalu menciumi pipi Zara yang sudah kembali terlelap.


Paginya, Sean sudah bersiap untuk ke kantor sementara Zara sedang menyiapkan sarapan untuk Zara.


"Mas kalau nanti aku ke tempat Sena boleh nggak?" tanya Zara disela sela sarapan Sean.


"Mau ngapain?"


"Ya bantu bantu disana, dari pada dirumah nggak ada kerjaan." keluh Zara.


Sean terdiam cukup lama sebelaum akhirnya mengangguki permintaan Zara.


"Tapi jangan capek capek ya nanti disana." kata Sean mengingatkan.


"Siap mas." Zara nampak senang sekali karena Sean menyetujui permintaan nya.


Zara ke toko bunga milik Sena diantar oleh Sean, sebelum keluar dari mobil tak lupa Zara mencium punggung tangan suaminya.


"Jangan nakal, nanti siang aku jemput." kata Sean.


"Nanti aku pulangnya bareng Sena aja mas."


"Sampai sore? nggaklah, siang nanti aku jemput." kata Sean lagi yang akhirnya diangguki Zara.


Zara berjalan memasuki toko bunga yang baru saja buka, terlihat dari depan Sena sedang memberikan briefing pada para karyawan nya.


"Mbak Zara?" Sena yang baru saja usai memberikan briefing terkejut melihat Zara disana.


"Aku mau bantu bantu di sini boleh?" tanya Zara saat Sena menghambur ke pelukan nya.


"Boleh dong mbak, boleh banget. Duh seneng aku ditemenin sama mbak Zara." kata Sena terlihat girang.


Sena pun akhirnya mengajak Zara ke belakang dimana ada taman bunga disana. Ia mengajak Zara untuk menyirami dan memberi pupuk tanaman bunga.

__ADS_1


"Hebat ya kamu dek, di umur segini udah sukses punya toko bunga sebesar ini." puji Zara saat keduanya sibuk menyirami bunga.


Sena tersenyum, "Mimpi yang akhirnya terkabul. prosesnya panjang lho ini."


"Ya aku tahu karena nggak ada yang instan makanya aku bilang kamu hebat bisa berada di posisi ini." Puji Zara lagi.


"Ck, udahlah mbak. nanti kepala aku melembung kalau di puji terus." kekeh Sena membuat Zara ikut tertawa.


"Mbak nggak pengen ngajar lagi?" tanya Sena setelah keduanya diam cukup lama.


"Sebenarnya pengen, cuma takut mau bilang sama mas Sean, lagipula mbak kan belum tahu tempat tempat di sini." ungkap Zara.


"Kalau mbak mau aku ada channel ngajar tapi itu Tk sih."


"Tk? wah mbak mau dong. mbak dari dulu pengen nya ngajar Tk tapi malah dapetnya Smp."


"Iya tapi mbak bilang aja dulu deh sama mas Sean dari pada ntar urusan nya ribet.


"Tuh orang suka ngeselin kalau lagi marah." ungkap Sena yang langsung diangguki Zara.


"Semoga mas Sean ngijinin aku ya dek."


"Iya mbak, tapi saranku jangan berharap deh." kata Sena lagi yang hanya diangguki Zara.


Cukup lama keduanya berada ditaman belakang, setelah selesai Sena dan Zara kembali ke depan untuk membantu melayani pembeli.


Zara yang belum bisa membuat bucket bunga akhirnya hanya membantu apapun yang Ia bisa.


"Tante cantik... kita ketemu lagi." anak kecil yang tak lain adalah Raisa itu langsung menghambur ke pelukan Zara.


Zara terkejut dengan reaksi Raisa saat bertemu dengan nya namun seketika Ia malah tersenyum dan mengelus rambut Raisa yang kini masih memeluknya.


"Aduh maafkan Raisa ya..." suara seorang pria membuat Zara memandang ke arahnya.


Zara tersenyum dan mengatakan "Tidak apa apa, saya senang karena Raisa masing mengingat saya."


"Ingat lah, aku ingat terus sama tante cantik. sekarang Raisa nggak bawa es krim, nggak bakal bikin baju tante cantik kotor lagi." ungkap Raisa membuat Zara dan Zayn tertawa bersamaan.


"Ternyata kamu bekerja di sini? atau malah pemiliknya?" tanya Zayn penasaran.


Zara menggeleng, "Aku hanya membantu saja. ini toko bunga milik adik iparku."


Raut wajah Zayn nampak berubah kecewa kala Zara mengatakan adik ipar yang itu artinya Zara memperjelas statusnya sebagai istri orang.


"Ah begitu, aku juga tinggal didaerah sini." kata Zayn.


"Emm mau cari bunga?" tanya Zara.


"Ya aku mau cari bucket mawar putih, aku sudah langganan di sini."


"Mau cari bunga buat jenguk Mama tante." Raisa ikut menimpali.

__ADS_1


"MasyaAllah romantisnya... Raisa pasti sayang banget sama Mama ya." kata Zara sambil mengelusi rambut Raisa.


"Sayang banget sama mama." ungkap Raisa yang kini wajahnya berubah sedih.


"Lho kok sedih? harusnya seneng dong mau ketemu Mama." kata Zara.


"Istriku sudah meninggal, kami ingin ke makam nya hari ini."


Deg, sontak ucapan Zayn membuat Zara terkejut dan merasa bersalah.


"Maaf, maafkan aku... aku tidak tahu kalau..."


"Nggak masalah, kami sudah mulai terbiasa dengan pertanyaan seperti itu.


Kita udah nggak sedih lagi ya nak." kata Zayn yang langsung menarik putrinya membawanya ke dalam pelukan.


"Iya tante cantik, Raisa nggak sedih lagi kok." kata Raisa memaksa senyum.


"Alhamdulilah, Mama Raisa pasti bangga punya putri secantik dan setegar Raisa. Mama disurga sudah bahagia dan Raisa disini juga harus bahagia." kata Zara membuat Raisa kembali tersenyum.


"Tante bikinin bunga yang cantik dong buat Mama." pinta Raisa membuat Zara sedikit bingung karena dirinya belum pernah membuat bucket bunga.


"Maafin tante sayang, tapi tante belum pernah buat takut nanti jadinya jelek. emm gimana kalau sama tante Sena yang ada disana, pasti hasilnya bagus." kata Zara sambil menunjuk ke arah Sena yang sedang membuat bucket bunga.


Raisa menggeleng, "Aku maunya buatan tante cantik aja. ya mau ya?" Raisa memohon.


"Sayang, nurut sama tante. biar tante yang ada disana aja yang bikinin.'" kata Zayn merasa tak enak melihat Zara kurang nyaman dengan permintaan Raisa.


"Nggak mau, Raisa maunya bikinan tante aja!"


"Iya sayang, tante coba bikinin ya." kata Zara tak tega melihat Raisa hampir menangis.


Dengan bantuan Sean akhirnya Zara bisa membuat bucket mawar putih yang sangat cantik.


"Makasih tante cantik semoga besok ketemu sama tante cantik lagi." kata Raisa kala bunganya sudah diterima.


"Iya sayang sama sama. Raisa nggak boleh sedih sedih lagi. oke."


"Siap tante." balas Raisa sambil mengacungkan jempolnya.


"Terimakasih sudah menuruti keinginan Raisa, maaf kalau merepotkan." kata Zayn masih merasa tak enak.


"Nggak apa apa, sama sekali tidak merepotkan."


Zayn mengajak Raisa keluar dari toko,


"Pa, Raisa mau deh punya mama kayak tante cantik."


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like vote dan komen..

__ADS_1


__ADS_2