
Sean keluar dari apartemen bersamaan dengan Sisil yang akan masuk ke apartemen Sella.
"Sean... kapan kau datang?" tanya Sisil yang tak lain adalah manager sekaligus asisten Sella.
"Barusaja. maaf Sil aku harus pergi sekarang." kata Sean langsung meninggalkan Sisil begitu saja.
Sisil memasuki apartemen Sella, melihat Sella duduk santai sambil meminum secangkir kopi.
"Apa kalian sedang bertengkar?"
Sella menggelengkan kepala pelan, "Tidak,"
"Tapi kenapa wajah Sean aneh sekali tadi." gumam Sisil duduk disamping Sella.
"Dia datang dan mengatakan akan menikah." kata Sella yang membuat Sisil terkejut.
"Lalu kau mengijinkan nya?"
Sella mengendikan bahunya, "Harus bagaimana lagi." balas Sella santai.
"Kau gila!" sentak Sisil.
Sella malah terkekeh, "Aku tidak bahagia dengan nya, untuk apa lagi.
"Lagipula bahagiaku sekarang adalah karir ku saat ini. uang yang dia berikan dulu sama sekali tidak membuatku bahagia." jelas Sella.
"Kau gila, benar benar gila. Sean sangat mencintaimu. apa itu kurang?"
"Untuk apa cinta jika tidak bisa membuatku bahagia, lagipula aku tak ingin menpunyai anak jadi biarkan saja dia menikah dan memiliki anak dengan wanita lain." balas Sella santai meletakan cangkirnya dan berjalan ke arah blankon apartemen memandangi hawa cerah hari ini.
"Ada apa sudah kesini?" tanya Sella.
Sisil menghela nafas panjang, "Kau lupa, aku harus pulang ke indonesia. Papa ku sakit dan membutuhkan ku. aku belum tahu berapa lama aku pulang jadi untuk sementara carilah asisten pengganti ku yang bisa mengurusmu dan job mu." Jelas Sisil yang langsung diangguki oleh Sella.
"Baiklah, pulang saja dulu. biar nanti aku meminta Frans mengantikan posisimu sementara waktu." balas Sella.
Sisil berdiri, hendak keluar namun sampai didepan pintu Ia menghentikan langkahnya, "Tolong selama aku pergi jangan berbuat sesuatu yang diluar batas." kata Sisil mengingatkan.
Sella tersenyum mendengar ucapan Sisil, tak ada jawaban akhirnya Sisil keluar dari apartemen Sella.
Sementara itu, Sean duduk disebuah kafe. menyeruput segelas kopi hangat juga ada toast yang sama sekali belum Ia makan.
Sean memandangi arah jalanan sambil kembali memikirkan ucapan Sella.
Menikah saja... Seolah tanpa beban dan sakit hati Sella dengan mudahnya mengatakan itu padanya.
Tadinya Sean berharap Sella akan lebih memilihnya dari pada karir dan Sella akan pulang bersamanya namun kenyataan berbeda dengan apa Sean pikirkan.
Karirnya lebih penting dari pada masa depan dengan nya.
__ADS_1
Karirnya lebih penting dari pada hidup bersama Sean.
Jadi sekarang, Sean tahu apa yang harus Ia lakukan, mungkin lebih baik Ia tetap menikahi Zara dan mempunyai anak bersama Zara, siapa tahu dengan itu suatu saat Sella mau kembali dan mau merawat anak Sean dan Zara bersama.
Sean menghabiskan kopinya lalu membayar Bill dan berjalan keluar kafe.
Kini Sean kembali lagi ke apartemen Sella, Ia memasuki apartemen dan melihat Sella sedang bersiap untuk pergi.
"Ku antar." kata Sean.
Sella tersenyum, menghentikan aktifitasnya lalu mendekat ke arah Sean, "Terimakasih sayang atas semua pengertian mu." kata Sella sambil mengecup pipi Sean.
Sella cukup paham dengan Sean, jika mereka sedang marah atau bertengkar bahkan tidak menemukan jalan keluar karena keras kepala sifat keduanya, Sean pasti memilih pergi keluar sejenak sebelum akhirnya kembali lagi setelah Sean tenang dan bisa menerima semuanya. Seperti yang terjadi saat ini.
"Kamu menginap sayang?" tanya Sella setelah keduanya memasuki mobil.
Sean menggeleng, "Aku kembali nanti sore."
Raut wajah Sella terlihat kecewa "Padahal aku bisa meminta break jika kamu mau menginap."
"Maaf, 5 hari lagi. aku sudah harus menikah."
Sella mengangguk paham, "Baiklah jika memang seperti itu."
Keduanya terdiam sejenak,
Sean hanya diam,
"Melihatmu diam seperti ini pasti wanita itu lebih segalanya dari ku." kata Sella lagi yang masih saja membuat Sean terdiam.
Tak bisa dipungkiri, Zara memang sangat cantik dan jika dilihat dengan jarak dekat Zara lebih cantik dari Sella. Cantik Zara itu natural tanpa make up sementara Sella selalu menggunakan make up ala wanita kekinian.
Namun meski begitu, Sean masih belum bisa menbuka hatinya untuk Zara. Saat ini dihatinya masih terisi Sella dan akan selalu Sella.
"Yakin tidak mau menginap?" tanya Sella saat keduanya sampai.
Sean menggeleng, "Aku langsung ke bandara setelah ini."
Wajah Sella terlihat cemberut, Ia mengalungkan kedua tangan nya di leher Sean, memajukan bibirnya hingga bibir keduanya menempel namun Sean hanya diam tidak membalas ciuman Sella.
"Maafkan aku, bahagia ku di sini Sean." kata Sella.
"Apa kamu akan kembali suatu hari nanti?" tanya Sean.
"Tentu, aku akan kembali suatu hari nanti. Aku mencintaimu Sean."
"Aku juga mencintaimu." balas Sean akhirnya ******* bibir Sella.
Keduanya berciuman cukup lama sebelum akhirnya Sella yang melepaskan ciuman Sean.
__ADS_1
"Aku harus masuk sekarang." kata Sella mengatur nafasnya yang terenggah enggah.
Sean tersenyum lalu mengecup kening Sella lama,
"I miss you."
"Menginaplah." gerutu Sella.
Sean hanya tersenyum, "Maaf."
Sella mengangguk, Ia lalu keluar dari mobil dan berjalan memasuki gedung tempat pemotretannya.
Sean menghembuskan nafas kasar, sejujurnya Ia masih sangat merindukan Sella namun Ia tak ingin merasa sakit hati lebih dalam dari ini karena penolakan Sella.
Sorenya Sean pulang dan baru tiba di jakarta pukul 10 pagi. perjalanan pulang memang sedikit lambat kali ini.
Sesampainya dirumah nyatanya Anggara masih belum ke kantor, seperti sengaja menunggu Sean.
"Papa pikir kamu tidak pulang." cibir Anggara.
"Pulang salah, nggak pulang tambah salah." balas Sean malas dan memilih duduk disofa.
"Eh calon pengantin udah pulang." Ranti dari arah dapur mendekati Sean.
"Sean capek, nggak usah banyak pertanyaaan." kata Sean dengan wajah malas.
"Ada apa nih? disakitin lagi sama Sella?" tanya Ranti.
"Dibilang jangan banyak tanya."
"Dua hari besok kamu ke kantor, hari ketiga kamu langsung ke tempat Zara.
"Papa udah minta Ricky buat ngurus surat nikah kamu sama acara ijab kabul kamu nanti disana." jelas Anggara.
"Kalau bisa habis nikah kalian tinggal di sini aja." kata Ranti yang langsung mendapatkan protes dari Sean.
"Nggak bisa Ma, aku mau tinggal dirumah aku sendiri."
"Kamu tinggal disana biar bisa ketemu Sella tanpa sepengetahuan Papa Mama kan?" cibir Ranti.
"Ck, apa sih Ma, ketemu Sella pun nggak masalah soalnya Sella kan-"
"Jangan gila kamu Sean!" Ranti melotot menatap ke arah Sean.
"Papa nggak mau tahu Sean, setelah kamu menikahi Zara. jangan harap kamu bisa menemui wanita itu lagi." kata Anggara penuh penekanan.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1